Gus Yahya Apresiasi Husnuzon Rakyat Aceh Hadapi Musibah Bencana
NU Online · Rabu, 18 Februari 2026 | 19:00 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat saat membuka Konferwil XV PWNU Aceh di Aula MPU Aceh, Ahad lalu.
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, mengapresiasi sikap husnuzon masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai musibah sejak masa pra-kemerdekaan hingga saat ini. Apresiasi tersebut disampaikan saat membuka Konferwil XV Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh di Aula MPU Aceh, Ahad lalu.
Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa Aceh merupakan daerah yang memiliki sejarah panjang ujian dan cobaan, mulai dari konflik bersenjata, bencana alam besar, hingga tantangan sosial dan ekonomi.
“Aceh merupakan daerah yang sudah lama ditempa oleh musibah dan peristiwa besar. Tetapi masyarakatnya tetap tegar dan menjaga keimanan,” ujarnya di hadapan para ulama dan pengurus NU.
Menurutnya, berbagai musibah tersebut merupakan bagian dari sunnatullah atau ketentuan Allah dalam menguji hamba-Nya. Karena itu, sikap utama yang perlu dijaga adalah husnuzon, yakni berprasangka baik kepada Allah atas setiap ketetapan-Nya.
Ia menilai, husnuzon menjadi kekuatan moral rakyat Aceh sehingga tidak larut dalam keputusasaan, melainkan bangkit dengan semangat religius dan solidaritas sosial.
“Musibah yang menimpa rakyat Aceh harus disikapi dengan husnuzon kepada Allah SWT. Itulah yang membuat Aceh tetap berdiri kokoh,” tegasnya.
Gus Yahya juga mengingatkan pesan Hasyim Asy'ari bahwa musibah dan fitnah merupakan ujian untuk melihat keteguhan iman seseorang. Dalam konteks Aceh, ujian sejarah yang panjang telah membentuk karakter masyarakat yang tangguh secara spiritual.
Ia menyebut, ketangguhan tersebut tercermin dalam konsistensi menjaga tradisi dayah, penghormatan kepada ulama, serta semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya turut mengapresiasi peran NU Aceh yang terus mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi. Ia menilai, kehadiran jam’iyah menjadi penguat spiritual sekaligus sosial.
Namun demikian, ia mengingatkan agar husnuzon tidak hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga kepada sesama dan kepada organisasi. Dinamika dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi harus disikapi dengan kedewasaan.
“Kita harus menjaga husnuzon, baik kepada Allah maupun kepada jam’iyah. Dengan husnuzon, kita akan menjaga persatuan dan keberkahan,” katanya.
Menurutnya, pengalaman sejarah panjang yang dilalui Aceh menjadi modal sosial berharga dalam menghadapi tantangan global saat ini. Ia optimistis, dengan iman dan prasangka baik, masyarakat Aceh akan terus melangkah maju tanpa kehilangan jati diri religiusnya.
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
5
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua