Menjaga Ruh Meugang di Aceh; Antara Sejarah Kesultanan dan Tantangan Generasi Kini
NU Online · Rabu, 18 Februari 2026 | 12:15 WIB
Toke Syon penjual daging meugang legendaris di pasar tradisional ulee Gle Pidie Jaya. (Foto: Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Aroma daging yang direbus dengan rempah memenuhi udara pagi di berbagai sudut gampong di Aceh. Pasar-pasar tradisional mendadak lebih hidup. Pisau diasah, kayu bakar disusun, dan wajah-wajah penuh harap menyambut satu momentum sakral dalam kalender sosial masyarakat: Meugang.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan memasak daging menjelang Ramadhan atau Hari Raya. Ia adalah simpul sejarah, warisan religius, dan cermin solidaritas yang telah mengakar ratusan tahun.
Tgk Iswadi, penggiat sosial budaya dari UNISAI Samalanga, menyebut Meugang sebagai “identitas sosial yang hidup, bukan sekadar ritual tahunan.” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, kekuatan tradisi ini terletak pada kemampuannya menyatukan nilai agama, adat, dan kebersamaan dalam satu praktik nyata. Dari masa kesultanan hingga era modern, Meugang terus bertahan; berubah dalam bentuk, tetapi tetap menjaga ruh kebersamaan.
Dari Istana ke Rakyat
Sosok yang pernah mengabdi sebagai Kaprodi PMI UNISAI Samalanga itu mengatakan sejarah mencatat bahwa Meugang telah hidup sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, penyembelihan hewan dalam jumlah besar dilakukan atas perintah sultan untuk dibagikan kepada fakir miskin, anak yatim, dan seluruh rakyat.
Daging diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk syukur atas kemakmuran negeri sekaligus simbol kepedulian pemimpin terhadap masyarakatnya.
Kebijakan tersebut bukan sekadar ritual simbolik. Ia memperkuat kohesi sosial dan membangun kepercayaan antara penguasa dan rakyat. Meugang menjadi ruang di mana nilai agama, kekuasaan, dan kemanusiaan bertemu dalam satu tindakan nyata: berbagi.
Ketika Kesultanan Aceh ditaklukkan Belanda pada 1873, peran istana dalam tradisi ini terhenti. Namun, Meugangtidak ikut padam. Ia beralih menjadi tradisi rakyat.
Masyarakat mempertahankannya sebagai bagian dari identitas kolektif. Bahkan dalam masa perang gerilya, daging Meugang diawetkan sebagai bekal perjuangan—membuktikan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari ketahanan sosial.
Makna Religius dan Solidaritas Sosial
Tradisi Meugang dilaksanakan tiga kali setahun: menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Hewan seperti sapi, kerbau, dan kambing disembelih dalam jumlah besar. Selain itu, masyarakat juga menyembelih ayam atau bebek sesuai kemampuan.
Di desa biasanya berlangsung sehari sebelum hari besar, sedangkan di kota dua hari sebelumnya. Daging dimasak di rumah, kemudian disantap bersama keluarga, dibagikan kepada tetangga, atau dibawa ke masjid untuk makan bersama warga lainnya.
Anak yatim dan kaum dhuafa menjadi perhatian utama. Dalam konteks ini, Meugang bukan sekadar pesta kuliner, tetapi ritual sosial yang memadukan syukur, sedekah, dan silaturahmi.
Tgk Nanda Saputra, penggiat budaya kuno Islam dan kandidat doktor di Universitas Sebelas Maret, menilai Meugang sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara yang memperlihatkan harmonisasi antara syariat dan adat.
Menurutnya, tradisi ini menunjukkan bagaimana ajaran Islam diterjemahkan dalam tindakan sosial yang kontekstual. "Meugang bukan sekadar warisan budaya, tetapi bukti bahwa nilai berbagi dalam Islam telah lama terinstitusionalisasi dalam kehidupan masyarakat Aceh,” ujarnya.
Senada dengan itu, Tgk Iswadi menekankan bahwa ruh Meugang harus tetap dijaga di tengah perubahan sosial. “Kalau hanya makan-makan tanpa kepedulian sosial, maka yang tersisa hanya simbolnya,” katanya.
Tantangan Generasi
Memasuki zaman now, Meugang menghadapi dinamika baru. Harga daging yang meningkat kerap menjadi beban bagi sebagian masyarakat.
Di sisi lain, pola hidup urban membuat tradisi makan bersama keluarga besar tidak lagi seintens dulu. Media sosial pun sering menampilkan sisi glamor Meugang; hidangan berlimpah dan foto-foto meja penuh lauk, tanpa banyak menyoroti aspek berbagi.
Di sinilah tantangan generasi kini: menjaga substansi di tengah perubahan gaya hidup. Apakah Meugang akan tetap menjadi ruang solidaritas, atau sekadar rutinitas tahunan?
Tgk Nanda Saputra melihat pentingnya edukasi sejarah agar generasi muda memahami akar tradisi ini. Menurutnya, tanpa pemahaman historis, Meugang berisiko direduksi menjadi aktivitas konsumtif. “Tradisi ini lahir dari kesadaran sosial dan kepemimpinan yang peduli. Itu yang harus diwariskan,” tegasnya.
Menjaga Ruh, Bukan Sekadar Ritual
Meugang menurut Ketua telah menempuh perjalanan panjang—dari istana kesultanan hingga dapur-dapur sederhana rakyat. Ia bertahan karena memiliki ruh yang kuat: kebersamaan, syukur, dan empati sosial.
Jika generasi muda hanya memandangnya sebagai tradisi menyembelih hewan dan memasak daging, maka ia berisiko kehilangan kedalaman maknanya. Namun jika dipahami sebagai warisan sejarah dan ekspresi nilai Islam yang hidup,
Menjaga Meugang berarti menjaga ingatan kolektif tentang jati diri masyarakat Aceh: tidak membiarkan seorang pun menyambut Ramadan atau hari raya dalam kesendirian.
Selama nilai berbagi dan solidaritas tetap menjadi inti, Meugang akan terus hidup—melintasi zaman, menyesuaikan diri dengan perubahan, tetapi tetap teguh pada ruhnya.
Di setiap aroma kuah kari yang mendidih, ada jejak sejarah. Di setiap potongan daging yang dibagikan, ada pesan kemanusiaan. Dan selama pesan itu terus diwariskan, Meugang bukan hanya tradisi—ia adalah identitas.
Terpopuler
1
LF PBNU: Hanya Amerika Utara Berpotensi Mulai Puasa 18 Februari 2026
2
Kemenag dan BMKG Siapkan 133 Titik Rukyatul Hilal Awal Ramadhan 1447 H
3
Perhitungan Hisab Kemenag, Hilal Ramadhan 1447 H di Bawah Ufuk
4
Meski Hilal di Bawah Ufuk, LF PBNU Imbau Perukyah NU Laksanakan Rukyatul Hilal Besok
5
Doa Rasulullah saw Mengawali Bulan Ramadhan
6
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh Kamis 19 Februari 2026
Terkini
Lihat Semua