Daerah

Penjerat Gus Dur dan Sikap Tangkas Rasulullah

NU Online  Ā·  Rabu, 5 Februari 2020 | 01:00 WIB

Penjerat Gus Dur dan Sikap Tangkas Rasulullah

Suasana bedah buku ā€˜Menjerat Gus Dur’ di GEDDUNG PWNU Jawa Timur. (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Surabaya, NU Online

Orang-orang yang telah melengserkan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan rekayasa kejamnya, kini masih bebas berkeliaran, hidup tenang dan santai. Padahal semestinya mereka dijerat oleh hukum negara.

Ā 

Demikian ditegaskan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Syafiuddin, usai mengikuti bedah buku Menjerat Gus Dur di gedung PWNU Jawa Timur, Selasa (4/2).

Ā 

Menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pamekasan itu, bukut tersebut secara nyata menguak kejahatan yang mereka lakukan. Mereka berkomplot hingga berhasil melengserkan Gus Dur.

Ā 

"Hasil investigasi di buku tersebut sudah terang benderang. Negara tidak bisa mengelaknya," tegas Syafiuddin.

Ā 

Alumnus Pesantren Al-Mardliyah, Waru, Pamekasan tersebut teringat pada sikap tegas dan tangkas Rasulullah terhadap para penzalim.

Ā 

"Dalam kitab Sirah Ibn HisyĆ m diterangkan, suatu hari Rasulullah mendengar kabar kaum munafik berkumlul di rumah kaum Yahudi, Suwailim, untuk merintangi kaum muslim ikut dalam Perang Tabuk," ungkap Syafiuddin.

Ā 

Tak buang tempo, tambahnya, Rasulullah langsung mengutus Thalhah ibn Ubaidillah ke sana untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ā 

Bagi Syafiuddin, sikap Rasulullah tersebut mestinya diterapkan di era kekinian: masyarakat dan negara mesti tegas dan tangkas dalam menyikapi para penzalim. Tentu dengan cara-cara bijak sesuai aturan yang telah diajarkan Rasulullah.

Ā 

Diterangkan, bersikap tegas dan tangkas terhadap para penjerat Gus Dur dalam rangka memberikan keadilan, bahwa negara tidak diam saat presidennya difitnah dan dijatuhkan oleh konspirasi politik penuh kezaliman.

Ā 

"Terutama para pelengser Gus Dur yang hingga kini tidak minta maaf secara terbuka. Meskipun bukti kuat mengungkap kezalimannya, mereka tidak sungkan mengelaknya. Bahkan, menjelek-jelekkan buku yang mengungkap borok mereka," ujar Syafiuddin.

Ā 

Syafiuddin mengaku miris ketika ada seorang tokoh berpendidikan tinggi menilai buku Menjerat Gus Dur adalah karya sampah. Penilaian sepihak tersebut secara gamblang diutarakan salah satu penjerat Gus Dur.

Ā 

"Mestinya minta maaf secara terbuka, bukan menambah luka lama makin menganga di bangsa ini, atas kezaliman yang telah dilakukan mereka terhadap Bapak Bangsa," tukasnya.

Ā 

Reporter: Hairul Anam

Editor: Aryudi AR

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang