Daerah

Pergunu Jabar: Empat Karakter yang Harus Dimiliki Guru NU

NU Online  ·  Ahad, 8 Juli 2018 | 15:15 WIB

Bandung, NU Online 
Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat melaksanakan halal bi halal bersama seluruh mahasiswa beasiswa Pascasarjana Uninus dengan tema Merajut Silaturahmi dan Memperkokoh Ukhuwah Nahdliyyah di Masjid Al-Ikhlas Uninus Jl. Soekarno-Hatta No.530, Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu, (7/7).

Acara tersebut dihadiri oleh  Wakil Rektor I  Uninus H. Husen Saeful Insan dan Ketua PW Pergunu Jawa Barat H Saepuloh. Kegiatan tersebut diisi dengan taushiyah Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung Rosihon Anwar.

Dalam sambutannya, Ketua PW Pergunu Jawa Barat H Saepuloh menegaskan agar guru-guru NU yang mendapatkan beasiswa Pascasarjana Uninus agar memegang teguh empat karakter yang harus dimiliki.

Pertama, guru-guru NU harus senantiasa memegang teguh dan mengamalkan amaliah-amaliah Ahlussunah wal Jamaah dengan fiqih berhaluan pada salah satu mazhab yang empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambali. 

Untuk sumber rujukan aqidahnya, lanjutnya, harus senantiasa mengikuti Abu Musa Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Selanjutnya pemikiran dan perilaku tasawufnya adalah mengikuti Al-Junaidi Al-Bagdhdadi dan Al-Ghazali.

Kedua, guru-guru NU harus memiliki fikrah (pemikiran) an-nahdliyyah, sehingga guru-guru NU harus mempunyai pemikiran yang tawasuth, tasamuh, tawazun dan 'adalah. Guru-guru NU jangan liberal, dan jangan pula puritan.

“Guru-guru NU berada harus menjadi penyejuk dan rahmat bagi semuanya,” tegasnya. 

Ketiga, guru-guru NU harus mempunyai harakah (pergerakan) an-nahdliyyah, dalam artian setiap gerakan guru NU harus selaras dengan kebijakan NU pada setiap levelnya. 

“Jangan sampai ada guru NU yang melecehkan tokoh-tokoh NU; bahkan jangan pula ada yang menolak Islam Nusantara. Justru guru-guru NU bisa memberikan pemahaman yang utuh terkait Islam Nusantara kepada masyarakat,” jelasnya.

Keempat, guru-guru NU harus mempunyai ghirah (semangat) an-nahdliyyah. Semangatnya harus semangat NU. 

“Berani berkorban untuk membangun Pergunu dan NU, karena sejatinya semangat masuk di Pergunu dan NU hanya untuk mengabdi kepada ulama sebagai pewaris para Nabi,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang