Daerah

Pesantren An-Najiyah Tambakberas Tekankan Kultur Sosial Egaliter

NU Online  ·  Jumat, 16 Maret 2018 | 02:00 WIB

Jombang, NU Online
Setiap pondok pesantren memiliki ciri khas tersendiri, termasuk juga kultur yang dibangun. Hal itu tidak lepas dari latarbelakang pengasuh, visi (penekanan) pondok, serta lingkungan sekitar.

"Kalau di An-Najiyah Tambakberas ini lebih pada penekanan kultur sosial antara santri dan pengasuh yang egaliter," kata pengasuh Pesantren An-Najiyah Tambakberas Jombang, M Wafiyul Ahdi, Jumat (16/3).

Bahkan, paparnya, kultur yang demikian itu sudah dibangun sejak lama. Tepatnya sejak Pondok An-Najiayah baru didirikan dan diasuh oleh ayah kandungnya. Kemudian dilanjutkan oleh dirinya hingga sekarang.

"Sekitar sudah 30 tahun yang lalu sejak pondok ini didirikan oleh abah sudah ditekankan kultur sosial yang begitu," ulas pria yang juga Ketua Yayasan Bahrul Ulum Tambakberas ini.

Dari kultur tersebut, terjalin kedekatan antar para santri dan pengasuhnya tak ubahnya seperti dalam sebuah keluarga. Begitu juga sebaliknya, kedekatan pengasuh kepada masing-masing santrinya.

Pria yang akrab disapa Gus Wafi ini menjelaskan, diberlakukannya kedekatan kultur yang egaliter itu hingga kini sangat berdampak positif, terlebih pada pengembangan pemahaman setiap santri terhadap kajian-kajian yang diikuti di pondoknya.

"Ketika misalnya ada pemahaman yang belum diketahui secara tuntas, mereka tidak sungkan untuk bertanya," ujar Gus Wafi.

Kendati demikian, etika sebagai santri tetap kental dan berjalan seimbang dengan kultur yang dibangun. Kultur sosial yang egaliter itu, lanjutnya, sama sekali tidak menghilangkan etika santri terhadap pengasuh, begitu juga dengan pengasuh kepada para santrinya. Antar santri atau pengasuh tetap menjaga subtansi dari dua komponen pondok pesantren ini.

Untuk diketahui, Pondok Pesantren An-Najiyah ini, selain berupaya mengembangkan pengetahuan keagamaan seperti pesantren pada umumnya, juga tidak menutup diri membidik santrinya mahir di pengetahuan umum. Sejak belasan tahun para santri juga dapat belajar bahasa Inggris dengan istiqomah.

Kajian-kajian keagamaan itu sudah menjadi kewajiban utama pondok pesantren. Namun sisi lainnya juga membuka peluang bagi santri untuk mengembangkan potensinya. “Saat ini kita masih pada bagaimana santri juga paham bahasa Inggris, juga membidik tahfidzul Quran," ujarnya. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)


Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang