Buleleng, NU Online Ā
Puluhan santri, pelajar dan mahasiswa dari Yayasan Amin Balo Dewata, BulelengĀ tampak antusias mengikuti dialog kebangsaan yang digelar di aula Kantor Urusan Agama (KUA), Buleleng, Bali,Ā Jumat (5/7). Hadir sebagai pembicara adalah penasehat Yayasan Amin Balo Dewata yang juga Mustasyar PCNU Buleleng, KH Muhammad Maksum Amin, Praktisi Pendidikan sekaligus Pengurus Pergunu Buleleng, Surayanah, dan Danramil 1609-06/Sawan, Kapten CBA Ari Pamungkas.
Dalam paparannya, KH Maksum, sapaan akrabnya, menegaskan agar santri bisa mengambil peran dalam membangun bangsa.Ā Tidak hanya mengenal para pendiri bangsa dan pahlawan. Justru bagaimana bisa meraih prestasi dan berkontribusi dalam mengisi pembangunan, khususnya di sektorĀ pendidikan.
āSantri harus menyiapkan diri untuk bisa berkiprah lebih besar dan lebih signifikan untuk kemajuan bangsa dan Negara,ā ujarnya.
Oleh karena itu, kata dia, santri harus siap untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Santri tidak hanya harus punya semangat tapi juga harus memiliki kemampuan dan kompetensi. Ā
āKita ingin memberikan stimulus terhadap semangat para santri. Artinya, santri itu harus punya semangat mengabdi pada bangsa dan negara serta mencintai tanah airnya," ungkapnya.
Sementara itu,Ā Kapten CBA Ari Pamungkas mengimbau para santri dan pelajar agar meningkatkan wawasan kebangsaan, āmempelajariā radikalisme,Ā dan menjauhi narkoba. Betapa banyak generasi muda yang terjerumus dalam pergaulan bebas, terjebak dalam penggunaan obat terlarang, dan terpapar paham radikal.
āItulah yang harus lebih gencar kita lakukan pencegahannya, baik melalui kegiatan sekolah maupun forum-forum yang ada di kampus dan pondok pesantren,ā ucapnya.
Sedangkan Surayanah,Ā menjelaskan bahwa pendidikan tidak ilmu mengejar ilmu pengetahuan saja. Tetapi juga penting memiliki keterampilan (psikomotorik) dan sikap prilaku yang baik. Di era globalisasi ini tiga hal tersebut harus dimiliki oleh santri agar bisa eksis dalam persaingan yang cukup tajam. Ā
āSehingga bisa unggul dalam menghadapi era globalisasi yang penuh tantangan ini,ā ungkapnya.
Dosen STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Istiqlal Gerokgak tersebut, berharap agar pelajar mewaspadai berita dan informasi yang beredar di media sosial. Sebab tak jarang media sosial dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebar ajaran radikal danĀ intoleransi.
āJangan ditelan mentah-mentah. Yang terbaik kita kembali pada paham wawasan kebangsaan, pancasila, NKRI dan Nasionalisme. Kemudian guru atau asatidzĀ harus selalu mengedukasi para santri tentang wawasan kebangsaan kepada lingkungan pondok pesantren,ā tandasnya. (Red: Aryudi AR)
Terpopuler
1
Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru
2
Korban Meninggal di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 1.368 Orang
3
Muktamar NU 2026: Antara Idealisme dan Pragmatisme PolitikĀ
4
WFH Beda dengan WFA, ASN Diminta Tetap Siaga Setiap Jumat
5
Iran Izinkan 15 Kapal Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Pertamina?
6
Warga Huntara Aceh Tamiang Keluhkan Air Keruh dan Listrik, PCNU Minta Perhatian Serius
Terkini
Lihat Semua