Sejarah Indonesia Tak Memberi Ruang untuk Pesantren
NU Online · Kamis, 10 April 2014 | 18:18 WIB
Pati, NU Online
Buku babon sejarah nasional Indonesia enam jilid yang diterbitkan oleh pemerintah Orde Baru tidak memberi ruang bagi kalangan pesantren dalam perjuangan nasional. Padahal jelas sekali peran ulama dan santri luar biasa besar dalam mendirikan dan mempertahankan negara Indonesia.<>
Demikian dalam bedah buku ‘Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad’ karya Zainul Milal Bizawie di STAI Mathali’ul Falah (STAI MAFA) Pati, Jawa Tengah, Kamis (10/4). Penulisnya hadir sebagai narasumber bersama Munawir Aziz (peneliti dan kolumnis), dan juga Ketua STAIMAFA, H. Abdul Ghoffar Rozien.
‘Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad’ ingin meluruskan kembali sejarah nasional Indonesia yang sudah dibelokkan oleh kekuasaan Orde Baru, melalui tim kerja Nugroho Notosusanto itu.
Milal mengungkapkan, pertarungan kepentingan untuk melemahkan Indonesia antara lain dilakukan melalui narasi sejarah.
“Jika mau menghancurkan negara, sekarang tidak usah berperang. Cukup dengan melenyapkan dan membelokkan sejarahnya, maka pelan-pelan akan hancur sendiri,” katanya.
Karena itu, Milal berusaha untuk mengetengahkan kembali peran ulama dan pesantren dalam perjuangan nasional.
Munawir Aziz mengatakan, banyak sekali ulama-ulama yang berjuang pada masa Perang Diponegoro dan perang kemerdekaan pada 1945.
“Akan tetapi hal ini tidak kelihatan karena naskah-naskah sejarah yang ada tidak banyak memberi tempat bagi kiprah ulama,” ungkap Munawir yang sedang melakukan riset tentang kajian pesisiran.
Abdul Ghoffar Rozien menambahkan, narasi pengetahuan Indonesia yang beredar memang tidak menyebutkan ulama-ulama sebagai penegak perjuangan kemerdekaan.
“Maka sudah saatnya, sejarah dan pengetahuan di Indonesia, diluruskan dengan informasi dan publikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Santri dan kaum pesantren bukan penumpang, tapi pemilik sah Indonesia,” tegas Rozien.
Buku karya Milal Bizawie, mengisahkan tentang perjuangan ulama dan santri pada perjuangan kemerdekaan awal abad 20. (Farid Abbad/Anam)
Terpopuler
1
Film Pesta Babi: Antara Pembangunan dan Kezaliman atas Tanah Adat
2
Kemenhaj Tetap Izinkan Jamaah Haji Bayar Dam di Tanah Air
3
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
4
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
5
200 Ribu Anak Terpapar Judol, Komdigi: Peran Tokoh Agama hingga Orang Tua Penting sebagai Benteng
6
LBH Sarbumusi Desak APH Tindak Dugaan Penyelewengan Dana MBG
Terkini
Lihat Semua