Jember, NU Online
Ketua Pengurus Cabang LDNU Kabupaten Jember, KH Mustain Billah menegaskan pentingnya ibadah harus terus-menerus dilakukan oleh manusia, lebih-lebih ibadah wajib. Sebab ibadah mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi stabilitas temperatur bathin. Jika kondisi bathin sudah stabil, aman dan damai, maka hidup akan terasa nikmat dan menyenangkan. Sebaliknya jika kondisi bathin galau, resah dan sebagainya, maka kehidupan akan terasa hampa, bahkan menyiksa.
āNyatanya, tidak sedikit orang yang tidak tenang meskipun dia sudah melakukan ibadah. Itu bisa jadi ibadahnya tidak diterima oleh Allah,ā ucapnya saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Pengurus dan Anggota Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember di gedung Kauje Univeritas Jember, Jumat (12/7).
Menurut Kiai Mustain, dalam beribadah manusia tidak perlu memikirkan apakah ibadahnya diterima atau tidak. Yang terpenting adalah dalam melakukan ibadah harus dipenuhi syarat dan rukun agar ibadahnya sah.
āKewajiban manusia adalah melaksanakan ibadah yang sah, shalat misalnya, agar sah secara fiqh. Itu saja. Soal apakah ibadah kita diterima oleh Allah itu urusan Allah. Tapi setidaknya kalau sudah sah, logikanya diterima,ā urainya.
Kiai Mustain lalu menjelaskan kriteria diterimanya ibadah setidaknya jika memenuhi tiga hal. Pertama adalah niat. Niat wajib karena tanpa niat maka ibadah tidak sah dan tidak menghasilkan pahala. Jika ibadah wajib, maka orang yang melakukan ibadah tanpa niat, dianggap belum melaksanakan kewajiban sehingga dia berdosa.
āNabi bersabda, Sesungguhnya amalan umatku bergantung pada niatnya,ā tukasnya.
Kedua, kaifiyat. Yaitu tatacara melakukan ibadah. Setiap ibadah ada tatacaranya, dan yang menentukan adalah Allah. Misalnya shalat, puasa, zakat dan sebagainya ada tatacaranya. Jika manusia melaksakan ibadah sesuai dengan tuntunan (tatacara) yang disyariatkan, maka ibadahnya sah, dan diterima oleh Allah.
āIbadah ada tatacaanya, misalnya shalat harus dimulai dengan niat, lalu takbiratul ihrom, dan seterusnya, yang ditutup dengan salam,ā urainya.
Ketiga adalah ghoyat, tujuan akhir. Di point ketiga ini manusia perlu memantapkan hati bahwa ibadah yang dilakukannya hanya untuk mencari ridlo Allah. Bukan yang lain, misalnya ingin mendapat surga.
āJadi beribadah itu benar-benar harus ikhlas untuk mencari ridlo Allah. Ridlo Allah adalahĀ kenikmatan terbesar manusia, melebihi segala-galanya,ā pungkasnya. (Aryudi AR)
Terpopuler
1
Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru
2
Korban Meninggal di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 1.368 Orang
3
Muktamar NU 2026: Antara Idealisme dan Pragmatisme PolitikĀ
4
WFH Beda dengan WFA, ASN Diminta Tetap Siaga Setiap Jumat
5
Iran Izinkan 15 Kapal Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Pertamina?
6
Warga Huntara Aceh Tamiang Keluhkan Air Keruh dan Listrik, PCNU Minta Perhatian Serius
Terkini
Lihat Semua