Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU
NU Online · Jumat, 29 Juli 2016 | 10:00 WIB
Waktu itu, Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri menginap di rumah putrinya, Nyai Sholihah, atau ibunda Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kawasan Matraman Jakarta Pusat. Ada Gus Dur juga di rumah itu. Sekitar pukul 08.00 WIB, KH Bisri memanggil sang cucu.
“Dur antarkan saya ke kantor PBNU sekarang!” kata sang kakek.
“Kenapa pagi-pagi sudah ke PBNU Mbah?,” jawab Gus Dur.
“Mau ada rapat gabungan.”
“Lho kan masih pagi Mbah?”
“Rapatnya jam sembilan.”
“Ah paling juga pada telat datangnya Mbah.”
“Biar saja. Biar ada bedanya antara yang tepat waktu dan yang telat.”
Jarak antara rumah Nyai Sholihah dengan kantor PBNU dl Kramat Raya tidak begitu jauh, sekitar 2,5 km saja. Tahun 1970-an Jakarta juga belum macet.
KH Bisri Syansuri sampai di kantor PBNU sebelum pukul 09.00 WIB. Kira-kira 10 menit sebelum jam rapat, mereka berdua bergegas masuk ke ruangan rapat. Benar saja, belum ada satu pun pengurus NU yang datang.
”Belum ada yang datang Mbah,” kata Gus Dur.
“Biar saja. Kita tunggu di sini saja,” kata Kiai Bisri. Kemudian beliau duduk di kursi Rais Aam. Sebentar kemudian bibir sang kiai terlihat komat-kamit, seperti sedang membaca wirid atau dzikir, sambil menunggu pengurus PBNU yang lain. Gus Dur bergegas ke ruang samping menyiapkan minuman untuk kakeknya. (A. Khoirul Anam)
* Cerita ini disampaikan oleh KH Muhammad Musthofa, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an di Parung Bogor, yang pernah mendampingi Gus Dur di kediaman Jl Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 5 Dosa yang Sering Diremehkan, tetapi Berat Pertanggungjawabannya
2
Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu
3
Sejumlah Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Kiai Ma'ruf Amin
4
5,7 Juta Jamaah Haji Tunggu Terima Nilai Manfaat dari BPKH Senilai Rp2,06 Triliun
5
454 Kasus DBD di Tapanuli Tengah, 5 Warga Meninggal Dunia
6
Meneguhkan Khidmah NU untuk Keadilan Ekologis
Terkini
Lihat Semua