Namun demikian persaingan terus berlangsung, yang satu membangun yang lain ikut bangun, yang satu mengadakan acara yang lain menyaingi kegiatan serupa.<>
Di sebuah pesantren di Yogyakarta peristiwa itu terjadi dengan nyata. Seorang kiai tertua mendirikan Ma’had Ali (Pesaantren Tinggi), lalu adiknya tidak mau kalah, setahun kemudian di komplek pesantren yang dipimpinnya didirikan Ma’had A’la (Pesantren Lebih Tinggi). Adiknya yang bungsu ternyata tidak mau kalah, dua tahun kemudian ia mendirikan pesantren dengan nama mentereng, Ya’lu wala Yu’la alaih (tertinggi tiada yang menandingi).
Setelah masing masing berdiri, tidak ada santri yang betah di pesantren itu, sebab di dalamnya hanya pengajian biasa, soalnya pesantren didirikan tidak dirancang dengan baik, tidak diajarkan kitab yang berbobot dan kiai yang berbobot pula. Akhirnya seuanya terpuruk.
Setelah menyadari kekeliruannnya lalau mereka berembuk ketiganya dipadu dirancang secara dingin, santri pun kembali datang.(Bregas)
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua