Namun demikian persaingan terus berlangsung, yang satu membangun yang lain ikut bangun, yang satu mengadakan acara yang lain menyaingi kegiatan serupa.<>
Di sebuah pesantren di Yogyakarta peristiwa itu terjadi dengan nyata. Seorang kiai tertua mendirikan Ma’had Ali (Pesaantren Tinggi), lalu adiknya tidak mau kalah, setahun kemudian di komplek pesantren yang dipimpinnya didirikan Ma’had A’la (Pesantren Lebih Tinggi). Adiknya yang bungsu ternyata tidak mau kalah, dua tahun kemudian ia mendirikan pesantren dengan nama mentereng, Ya’lu wala Yu’la alaih (tertinggi tiada yang menandingi).
Setelah masing masing berdiri, tidak ada santri yang betah di pesantren itu, sebab di dalamnya hanya pengajian biasa, soalnya pesantren didirikan tidak dirancang dengan baik, tidak diajarkan kitab yang berbobot dan kiai yang berbobot pula. Akhirnya seuanya terpuruk.
Setelah menyadari kekeliruannnya lalau mereka berembuk ketiganya dipadu dirancang secara dingin, santri pun kembali datang.(Bregas)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
4
Presiden Prabowo dan 1.500 Undangan Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan
5
Rais Aam PBNU Apresiasi Hasil Pembahasan Munas-Konbes NU 2026
6
Berikut 5 Rekomendasi Munas-Konbes NU 2026 Terkait Pendidikan
Terkini
Lihat Semua