Internasional

Anak-anak Gaza Tewas di Musim Dingin Ekstrem, Israel Masih Blokir Bantuan Penting

NU Online  ·  Ahad, 11 Januari 2026 | 22:00 WIB

Anak-anak Gaza Tewas di Musim Dingin Ekstrem, Israel Masih Blokir Bantuan Penting

Tenda pengungsian warga Palestina di musim dingin.(Foto: UNRWA)

Jakarta, NU Online

 

Musim dingin ekstrem menewaskan anak-anak dan bayi Palestina yang baru lahir. Tragedi ini terjadi di tengah kebijakan blokade ketat oleh militer Israel yang terus menghalangi masuknya bantuan vital seperti bahan bakar, pemanas, dan perlengkapan perlindungan musim dingin ke wilayah Gaza, Ahad (11/1/2026).

 

Melansir laporan dari Al Jazeera, kabar duka terbaru datang dari kamp pengungsian di Gaza Tengah dan Selatan. Pada Ahad (11/1/2026), seorang bayi Palestina dilaporkan tewas karena membeku.

 

Zaher al-Wahidi, Direktur Informasi Kesehatan di Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa bayi tersebut meninggal karena hipotermia parah di Rumah Sakit Anak al-Rantisi. Bayi tersebut merupakan bayi keempat yang meninggal akibat kedinginan ekstrem sejak bulan November 2025 lalu.

 

Kematian ini menyusul insiden serupa yang terjadi sehari sebelumnya. Mengutip berita dari Anadolu Agency, seorang bayi yang baru lahir di Khan Younis meninggal dunia setelah suhu udara merosot tajam di malam hari.

 

Tim medis di Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi bahwa penyebab utama kematian adalah kegagalan organ yang dipicu oleh paparan suhu dingin yang ekstrem dalam durasi lama.

 

Bayi tersebut dibawa dalam kondisi membeku, dengan detak jantung yang sangat lemah. Adnan, sang ayah, mengaku telah mencoba berbagai cara, namun di pengungsian tak ada penghangat maupun tempat berlindung yang aman.

 

“Kami mencoba segala cara, tetapi tidak ada penghangat, tidak ada tempat berlindung yang aman, tidak ada apa pun untuk melindunginya dari dingin," ujar Adnan sebagaimana dikutip NU Online dari Anadolu Agency.

 

Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal mengaitkan krisis tersebut dengan tindakan Israel yang terus memblokir bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi agar tidak masuk ke Gaza.

 

Basal mengatakan krisis ini bukan semata-mata akibat cuaca buruk, tetapi merupakan konsekuensi dari pembatasan berkelanjutan terhadap masuknya material untuk tempat penampungan dan perlengkapan konstruksi.

 

“Ini bukan bencana alam. Ini adalah keadaan darurat kemanusiaan buatan manusia," ungkapnya.

 

Hal serupa dilaporkan dari Al Jazeera yang menyoroti bagaimana otoritas Israel masih memblokir ribuan ton bantuan, termasuk selimut termal dan bahan bakar untuk generator rumah sakit, pada Sabtu (10/1/2026).

 

Kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa blokade ini secara efektif mengubah Jalur Gaza menjadi ruang tunggu kematian di musim dingin. Meskipun ada tekanan internasional, truk-truk bantuan masih tertahan di perbatasan Kerem Shalom dan Rafah, menunggu izin yang jarang diberikan oleh pihak militer Israel.

 

Melansir dari situs resmi UN News, hanya dalam sebulan terakhir saja, delapan bayi baru lahir meninggal karena hipotermia dan 74 anak telah meninggal di tengah kondisi musim dingin yang brutal pada tahun 2025.  

 

Louise Wateridge dari badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, menyatakan bahwa tahun baru ini masih sama, anak-anak Palestina banyak yang membeku hingga meninggal.

 

“Kita memasuki Tahun Baru ini dengan membawa kengerian yang sama seperti tahun lalu, tidak ada kemajuan dan tidak ada penghiburan. Anak-anak sekarang membeku hingga meninggal,” kata Louise.

 

Mitra kemanusiaan PBB juga melaporkan bahwa krisis kelaparan di Jalur Gaza terus memburuk, di tengah kekurangan pasokan yang kritis, pembatasan akses yang parah, dan penjarahan bersenjata yang disertai kekerasan

 

Di Gaza Tengah dan Selatan, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengungkapkan bahwa mitra kemanusiaan PBB telah kehabisan semua persediaan di gudang mereka. 

 

Hal ini terjadi ketika otoritas Israel terus menolak sebagian besar permintaan untuk membawa bantuan makanan dari perlintasan Erez Barat ke daerah-daerah di selatan Wadi Gaza.

 

Sekitar 120.000 metrik ton bantuan pangan, yang cukup untuk menyediakan ransum bagi seluruh penduduk selama lebih dari tiga bulan, masih terhenti di luar Jalur Gaza.

 

Para mitra PBB telah memperingatkan bahwa jika pasokan tambahan tidak diterima, distribusi paket makanan kepada keluarga yang kelaparan akan tetap sangat terbatas. Stheoane Dujarric, Juru Bicara PBB mengatakan bahwa dapur umum berisiko ditutup beberapa hari.

 

“Lebih dari 50 dapur umum yang menyediakan lebih dari 200.000 makanan setiap hari bagi masyarakat di Gaza tengah dan selatan juga berisiko ditutup dalam beberapa hari mendatang,” ungkapnya.

 

Al-Jazeera melaporkan kondisi di lapangan yang menunjukkan pemandangan yang memilukan. Ribuan keluarga pengungsi harus menggunakan kain bekas atau plastik tipis untuk menambal tenda mereka yang bocor. 

 

Hind Khoudary dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan banyak tenda yang ia kunjungi telah hancur.

 

“Tidak ada cara untuk memperbaiki tenda-tenda ini, karena keluarga-keluarga tersebut tidak memiliki bahan-bahan untuk melakukannya,” katanya.

 

Ia menambahkan bahwa orang-orang yang tendanya hancur terpaksa mencari tempat tinggal lain, dan terus menerus menjadi pengungsi. Sementara itu, otoritas meteorologi di Gaza telah memperingatkan bahwa angin kencang diperkirakan akan terus berlanjut bersamaan dengan penurunan suhu lebih lanjut.

 

Israel dilaporkan terus membatasi jumlah tenda dan tempat penampungan berkelanjutan yang masuk ke Gaza, yang melanggar gencatan senjata yang disepakati dengan Hamas pada bulan Oktober serta kewajibannya berdasarkan hukum internasional sebagai kekuatan pendudukan di Jalur Gaza.

 

Hal ini juga menghambat kebutuhan penting lainnya, seperti rumah mobil, serta peralatan dan material untuk memperbaiki tenda yang rusak. Suhu malam hari di Gaza dilaporkan telah turun hingga serendah sembilan derajat Celsius (48 derajat Fahrenheit) dalam beberapa hari terakhir.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang