Internasional

Dari Rutinan di Rumah, Nahdliyin Jerman Kini DIrikan Nusantara Islamic Center

Jumat, 28 Maret 2025 | 16:00 WIB

Dari Rutinan di Rumah, Nahdliyin Jerman Kini DIrikan Nusantara Islamic Center

Shalat Jumat perdana di Nusantara Islamic Center, Düsseldorf, Jerman, Jumat (21/8/2025). (Foto: dokumentasi NU NRW)

Jakarta, NU Online

Warga Nahdlatul Ulama di wilayah Nordrhein-Westfalen (NRW) kian membesar seiring berjalannya waktu. Rumah-rumah warga yang biasa menjadi tempat rutinan berupa tahlilan, manaqib, maulid Nabi, simtuddurar, dan kajian kitab kuning itu tak lagi dapat menampung banyaknya jamaah.


“Tantangannya, terkadang tidak semua jamaah dapat tertampung di dalam pengajian tersebut,” kata Muhammad Nida Fadlan, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, kepada NU Online pada Jumat (28/3/2025).


Melihat realitas demikian, Nahdliyin NRW pun menginisiasi berdirinya Nusantara Islamic Center (NUIC). Hal ini atas kerja sama dukungan Techbros GmbH, sebuah perusahaan teknologi yang didirikan oleh diaspora Indonesia, Yudhi Rahadian.


“Keberadaan NUIC sangat membantu membuat agenda-agenda rutin NU NRW berjalan dengan baik karena tempatnya yang representatif dan strategis di tengah wilayah NRW,” ujar mahasiswa doktoral bidang filologi Islam di Universitas Koln, Jerman itu.


Menurutnya, NUIC yang berlokasi di kantor Techbros GmbH, Heerdter Lohweg 212, 40549 Düsseldorf, Jerman itu dapat menampung 100 hingga 150 jamaah.


Nida menuturkan, NUIC tidak saja menggelar rutinan sebagaimana disebut di atas, tetapi juga menyelenggarakan shalat Jumat dengan khutbah berbahasa Indonesia. Khusus bulan suci Ramadhan, NUIC juga agenda NUIC diisi dengan tadarus dan buka bersama. Tidak hanya itu, NUIC juga menyediakan fasilitas untuk haji dan umroh bagi masyarakat muslim di Jerman.


Dalam waktu dekat, NUIC akan menyelenggarakan halal bi halal yang mempertemukan jamaah Muslim Indonesia khususnya di wilayah NRW. Sementara dalam jangka panjang, NUIC diharapkan menjadi pusat keislaman bagi Muslim di Jerman.


“Ke depan, NUIC akan menjadi rumah yang nyaman tidak hanya untuk warga Nahdliyin di Jerman, melainkan juga meluas ke seluruh masyarakat Muslim di Jerman,” ujarnya.


“Diskusi-diskusi kebangsaan dan lintas kepercayaan juga sedang kami wacanakan untuk membangun NUIC sebagai wadah memperkuat identitas keindonesiaan,” pungkas alumnus Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu.


NUIC diresmikan bersamaan dengan penyelenggaraan shalat Jumat perdana pada 21 Maret 2025 lalu. Pada kesempatan tersebut, Muhammad Arrayyaan Makiatu, Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman, bertindak sebagai Khatib dan Imam, sedangkan muadzin dan bilal adalah Muhammad Zaki Fahmi, Ketua Lakpesdam PCINU Jerman.


Sebagai Koordinator NU NRW, Rina Agustina menegaskan bahwa NU NRW, melalui pendirian NUIC, berkomitmen untuk menghadirkan wadah yang tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara warga Indonesia di Jerman.


Oleh karenanya, Rina juga mengajak seluruh masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan NUIC dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas keislaman yang produktif dan inklusif. “Harapannya, NUIC bisa menjadi wadah pengembangan nilai nilai filosofis keislaman, kearifan-kearifan nusantara yg bisa diaplikasikan di Jerman, moderasi beragama, dan diskusi para intelektual muslim di wilayah NRW,” jelasnya.


Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman Miftah El-Azmi menyambut baik pendirian NUIC. Ia menekankan bahwa pendirian NUIC merupakan tonggak penting dalam memperkuat eksistensi komunitas Muslim Indonesia di Jerman, khususnya di NRW.


“Lebih dari sekadar tempat ibadah, NUIC juga menjadi sarana untuk berdialog dan mempererat tali silaturahmi, sekaligus memperkenalkan identitas keislaman dan kebudayaan Indonesia di tanah perantauan. Semoga NUIC dapat menjadi etalase yang memperkenalkan Islam Indonesia dengan penuh keindahan di Jerman,” jelasnya.


Pendirian NUIC tidak lepas dari dukungan penuh CEO Techbros GmbH, Yudhi Rahadian. Menurutnya, inisiatif ini terinspirasi oleh keinginan untuk memadukan nilai-nilai spiritual dengan perkembangan teknologi di tempat kerja. 


“Inisiatif ini berangkat dari keinginan tulus kami untuk menjadikan Techbros bukan hanya sebagai pusat teknologi, tetapi juga sebagai ruang yang bisa mempererat nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Nusantara. Kami ingin menciptakan tempat yang nyaman dan inklusif, di mana teknologi dan spiritualitas bisa berjalan beriringan,” ujarnya. 


Lebih lanjut, Yudhi berharap NUIC bisa menjadi sarana membangun kebersamaan dan memperkuat hubungan antaranggota komunitas Muslim Indonesia di Jerman. 


“Kami berharap Nusantara Islamic Center menjadi sumber inspirasi dan kebersamaan, tempat di mana orang-orang bisa saling belajar, bertukar pikiran, dan memperkuat silaturahmi. Semoga inisiatif kecil ini bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi banyak orang, serta menjadi pengingat bahwa teknologi dan nilai-nilai keislaman bisa saling melengkapi dan menguatkan,” pungkasnya.