Internasional

Kasidah Al-Hamziyah, Tradisi Maulid yang Hidup di Tunisia

NU Online  ·  Senin, 31 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Kasidah Al-Hamziyah, Tradisi Maulid yang Hidup di Tunisia

Umat islam membaca Kasidah Al-Hamziyah di peringatan Maulid Nabi di Tunisia, Agustus 2026 (PCINU Tunisia)

Jakarta, NU Online 

Kasidah Al-Hamziyah merupakan salah satu tradisi menarik dan unik di Tunisia, negara dengan mayoritas Muslim di benua Afrika yang diwarnai keberagaman budaya dan tradisi spiritualitas, khususnya ketika memasuki bulan suci Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw.

 

Hal tersebut diterangkan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia Hilman Zidny kepada NU Online, Sabtu (29/8/2026) malam.

 

"Salah satu tradisi yang biasa ditemui yaitu pembacaan Kasidah Al-Hamziyah dihampir setiap majlis maulid dan Zawiyah Tarekat yang berada di penjuru negeri," terangnya.

 

Lantas, apa sebenarnya Kasidah Al-Hamziyah? Mengapa kasidah ini begitu melekat pada tradisi maulid Nabi Muhammad saw di Tunisia?

 

Zidny, sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa pengarang Kasidah Al-Hamziyah adalah Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia dikenal sebagai Imam Al-Bushiri. Ia lahir di Bushir pada 609 H dan wafat pada 696 H dalam usia 87 tahun. Imam Al-Bushiri dimakamkan di Kota Iskandaria, Mesir.

 

Menurutnya, sejak kecil Imam Al-Bushiri tumbuh di lingkungan yang mencintai ilmu agama. Bahkan, pondasi keilmuan yang dimilikinya diperoleh langsung dari sang ayah.

 

"Besar dan tumbuh di lingkungan keluarga yang cinta akan ilmu. Sejak kecil, Imam Al-Bushiri di didik langsung oleh ayahnya dengan ilmu Al-qur’an dan Ilmu agama," tuturnya.

 

Tidak berhenti di situ, selain mendapatkan pendidikan dari ayahnya, Imam Al-Bushiri juga menimba ilmu kepada Syaikh Abul Abbas Al-Mursi.

 

"Beliau juga berguru kepada Syaikh Abul Abbas Al-mursi murid kesayangan Imam Abu Hasan Syadzily pendiri tarekat Syadziliyah," imbuh Zidny.

 

Semangat mencari ilmu menjadikan Imam Al-Bushiri sebagai sosok alim, sufi, sekaligus sastrawan. Hal tersebut terlihat dari sejumlah karyanya, di antaranya Al-Hamziyyah, Al-Haiyyah, Al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah, dan yang paling populer adalah Kasidah Burdah. Di antara karya-karya tersebut, Al-Hamziyyah menjadi salah satu karya yang menarik untuk dibahas.

 

Kasidah Al-Hamziyah dinamakan demikian karena huruf hamzah terletak di akhir bait-bait kasidah. Karya tersebut tidak hanya memiliki keindahan syair, tetapi juga kaya akan makna yang mendalam.

 

Di Tunisia, kasidah ini tidak hanya dibaca dan dipelajari, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang kerap hadir dalam majelis-majelis maulid dan Zawiyah Tarekat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan bulan maulid dengan mengenang kelahiran, perjalanan hidup, dan kemuliaan kekasih Allah. Tradisi ini hidup di kalangan masyarakat Tunisia secara turun-temurun hingga saat ini.

 

"Berkesempatan mengikuti langsung pembacaan Kasidah Al-Hamziyah di Zawiyah Sidi Bou Yahya, Rades, dan merasakan langsung bagaimana karya klasik ini hidup di tengah perkembangan zaman juga dibacakan bersama jama’ah lainya adalah pengalaman berharga," ungkap Zidny.

 

Kasidah Al-Hamziyah bukan hanya sekadar tradisi yang dilantunkan setiap maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi memiliki makna yang lebih luas.

 

"Dengan Kasidah masyarakat Tunisia kembali menghidupkan tradisi turun temurun dengan mengajarkan kita bagaimana keteladanan nabi Muhammad saw dan juga bentuk cinta seorang hamba kepada sebaik-baik ciptaan-nya Nabi Muhammad SAW dan juga sang khalik Allah swt," tutupnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang