Koalisi Pimpinan Arab Saudi Lancarkan Serangan Ke Yaman Selatan
NU Online · Ahad, 11 Januari 2026 | 20:00 WIB
Pasukan militer berjaga di pos-pos pemeriksaan pada beberapa titik di wilayah Aden. (Foto: tangkapan layar Reuters)
Husnul Khotimah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Eskalasi ketegangan di wilayah semenanjung Arab kembali memuncak setelah koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Aden, Yaman Selatan, pada Rabu (7/1/2026).
Hal tersebut terjadi di tengah laporan simpang siur mengenai keberadaan pemimpin kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC), Aidarous al-Zubaidi, yang dikabarkan telah menghilang dari pantauan publik.
Ketegangan bermula ketika koalisi secara resmi mengumumkan telah melakukan serangan terhadap target-target strategis di Yaman Selatan. Melansir dari laporan Al-Jazeera pada Rabu (7/1/2026), pihak koalisi tidak hanya membenarkan adanya serangan udara tersebut, tetapi juga mengeluarkan pernyataan provokatif yang menyebut bahwa pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, telah melarikan diri dari wilayah tersebut saat serangan berlangsung.
Pernyataan koalisi tersebut menimbulkan gejolak informasi. Di satu sisi, koalisi mengklaim bahwa tindakan militer ini diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan mencegah fragmentasi lebih lanjut di wilayah selatan yang strategis. Namun, di sisi lain, pihak STC bersikeras bahwa pemimpin mereka tidak melarikan diri, melainkan sedang berada dalam misi diplomasi atau pengamanan.
Ketidakjelasan posisi Al-Zubaidi semakin diperkuat oleh laporan dari Reuters pada Kamis (8/1/2026). Juru bicara pihak koalisi menyatakan bahwa intelijen memantau bahwa Al-Zubaidi telah menaiki sebuah kapal yang diduga menuju ke arah Somaliland, sebuah wilayah otonom di Tanduk Afrika.
"Data intelijen kami menunjukkan bahwa individu yang bersangkutan telah meninggalkan pelabuhan dengan kapal menuju Somaliland," ujarnya sebagaimana dikutip NU Online pada Ahad (11/1/2026).
"Tindakan ini dipandang sebagai pengabaian terhadap tanggung jawab di tengah krisis yang sedang berlangsung," tambah juru bicara tersebut.
Mengutip Anadolu Agency, meskipun kritik berdatangan terkait serangan yang menyasar sesama pihak anti-Houthi, koalisi pimpinan Saudi tetap teguh untuk melakukan operasi militer. Pihak koalisi secara resmi mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk menetralkan ancaman keamanan yang dianggap muncul dari faksi-faksi tertentu di dalam STC yang mulai membangkang dari garis komando pusat.
"Operasi ini dilakukan dengan presisi tinggi untuk memastikan bahwa infrastruktur militer yang digunakan untuk mengganggu stabilitas nasional tidak lagi berfungsi." Demikian bunyi laporan Anadolu Agency.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam beberapa pangkalan militer dan gudang senjata di pinggiran kota Aden, yang selama ini menjadi basis kekuatan utama STC. Suara ledakan hebat dilaporkan terdengar hingga ke pusat kota, memicu kepanikan di kalangan warga sipil yang selama ini sudah menderita akibat perang saudara yang berkepanjangan.
Operasi militer koalisi tersebut dilaporkan telah memakan banyak korban jiwa, dari kalangan pejuang separatis maupun warga sipil. Melansir dari laporan Channel News Asia, setidaknya 80 pejuang STC tewas dalam rangkaian pertempuran dan serangan udara sejak Jumat (2/1/2026). Selain itu, dilaporkan sebanyak 152 orang luka-luka dan 130 orang lainnya ditawan oleh pasukan yang didukung Saudi.
Sementara serangan udara khusus pada Rabu (7/1/2026) di Provinsi Ad-Dali telah menyebabkan jatuhnya korban sipil yang tragis. Mengutip Agenzia Nova, sedikitnya 20 orang tewas di provinsi tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak, setelah jet tempur koalisi menghantam konvoi militer dan area di sekitarnya.
Sumber medis di rumah sakit Al-Nasr dan Al-Tadamon mengonfirmasi bahwa serangan tersebut mengubah krisis politik menjadi penderitaan kemanusiaan yang nyata. Serangan udara tersebut dilaporkan menghantam truk-truk yang diduga membawa senjata, namun ledakannya berdampak luas ke wilayah pemukiman.
Menanggapi serangan udara dan klaim hilangnya pemimpin mereka, ribuan pendukung Dewan Transisi Selatan (STC) turun ke jalanan di Kota Aden. Melansir laporan terbaru dari Al Jazeera pada Sabtu (10/1/2026), massa berkumpul dengan membawa bendera mantan negara Yaman Selatan dan poster-poster Aidarous al-Zubaidi.
Demonstrasi besar-besaran ini merupakan bentuk pembangkangan rakyat terhadap aksi militer koalisi. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-Saudi dan menuntut kepulangan atau kejelasan mengenai kondisi Al-Zubaidi.
"Kami tidak akan membiarkan Aden diduduki kembali oleh kekuatan yang mencoba memecah belah aspirasi rakyat selatan," teriak salah satu orator dalam aksi tersebut senagaimana dikutip NU Online dari Al Jazeera.
Seorang simpatisan STC di lokasi demonstrasi mengatakan bahwa serangan yang terjadi merupakan pengkhianatan.
"Serangan ini adalah pengkhianatan. Kami adalah mitra dalam memerangi Houthi, tapi sekarang kami justru dibom oleh mereka yang mengaku sebagai pelindung kami," ungkapnya.
Masyarakat internasional, termasuk PBB, kini tengah memantau ketat situasi tersebut. Mereka khawatir bahwa eskalasi terbaru ini akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Perpecahan antara Arab Saudi dan STC (yang selama ini didukung oleh Uni Emirat Arab) mengancam akan memperumit peta konflik di Yaman.
Jika STC secara permanen berbalik melawan koalisi, hal ini dapat memberikan keuntungan strategis bagi kelompok Houthi di utara yang hingga kini masih menguasai ibu kota Sanaa.
Para analis internasional memperingatkan bahwa hilangnya Al-Zubaidi telah menciptakan vakum kekuasaan di Aden. Tanpa kepemimpinan yang jelas, faksi-faksi militer di bawah STC mungkin akan bertindak secara independen, yang berpotensi memicu perang kota.
Hingga berita ini dituliskan, belum ada pernyataan resmi langsung dari Aidarous al-Zubaidi mengenai keberadaannya. Sementara itu, koalisi pimpinan Saudi tetap menyiagakan jet-jet tempur mereka di wilayah udara Yaman Selatan, mengisyaratkan bahwa operasi militer mungkin akan berlanjut jika tuntutan mereka terhadap restrukturisasi keamanan di Aden tidak dipenuhi.
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua