Jakarta

Pengamat Lingkungan: Kunci Atasi Krisis Sampah Jakarta Adalah Kesadaran Warga

NU Online  ·  Rabu, 21 Januari 2026 | 10:00 WIB

Pengamat Lingkungan: Kunci Atasi Krisis Sampah Jakarta Adalah Kesadaran Warga

Ilustrasi $eorang anak memilah sampah di tengah tumpukan limbah, menggambarkan dampak krisis pengelolaan sampah Jakarta terhadap masyarakat rentan. (Foto: Freepik)

Jakarta Timur, NU Online Jakarta

Krisis sampah di Jakarta masih belum menunjukkan tanda penyelesaian. Sistem pengelolaan yang belum optimal terus menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus mengancam kesehatan masyarakat.

 

Pengamat lingkungan Febrian Adam Samir menilai, merujuk pada sejumlah temuan World Bank, kegagalan pengelolaan sampah di negara berkembang, termasuk Indonesia (Jakarta) lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya pendidikan dan kesadaran sejak dini.

 

"Masih banyak yang menganggap bahwa sampah bukan bagian dari tanggung jawab kita sebagai masyarakat. Pikiran masyarakat Indonesia kalau sudah bayar retribusi maka bukan tanggung jawab kita lagi," jelasnya kepada NU Online Jakarta, Selasa (20/1/2025).

 

Ia menjelaskan bahwa dampak sampah sering bersifat tidak instan sehingga masyarakat kerap tidak mengaitkan persoalan sampah dengan banjir, penyakit, atau pencemaran yang mereka alami sehari-hari. Di sisi lain, tekanan ekonomi di wilayah perkotaan juga membuat isu sampah belum menjadi prioritas, terutama bagi kelompok rentan yang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar.

 

"Persoalan kesadaran ini bukan semata kesalahan individu. Ini adalah hasil dari sistem pendidikan, sosial, dan kebijakan yang belum menempatkan pengelolaan sampah sebagai nilai hidup dan tanggung jawab bersama," tegasnya.

 

Krisis Lingkungan dan Kesehatan Publik

 

Febrian Adam Samir, yang akrab disapa Bian, menilai sistem pengelolaan sampah di Jakarta yang belum optimal telah berdampak nyata pada kualitas lingkungan, baik dari aspek fisik, biologis, maupun sosial. Ia menegaskan persoalan ini bersifat kompleks dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

 

"Kalau melihat kondisi pengelolaan sampah Jakarta saat ini, situasinya seperti memberi anak kecil permainan berbahaya namun berharap ia mampu menjaga diri sendiri," ujar Bian yang juga mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Trisakti.

 

Ia menyebut timbunan sampah Jakarta yang mencapai sekitar 3,1 juta ton per tahun dan terus meningkat telah memicu pencemaran tanah, air, serta udara dan menjadi tempat berkembangnya penyakit seperti demam berdarah dan diare yang berisiko menurunkan kualitas hidup warga.

 

"Ini bukan sekadar persoalan kebersihan kota, tetapi sudah menjadi krisis lingkungan dan kesehatan publik," tambahnya.

 

Lebih jauh, Bian mengatakan dampak buruk pengelolaan sampah tidak hanya dirasakan di Jakarta, tetapi juga menjalar ke wilayah penyangga seperti Bekasi. Paparan polusi udara, pencemaran air tanah, dan penyebaran vektor penyakit dari sampah yang tidak terkelola disebut berkontribusi terhadap gangguan pernapasan, infeksi kulit, hingga risiko penyakit kronis.

 

Ia juga mengutip riset lokal yang menemukan kontaminasi nitrit, nitrat, serta logam berat dari limpasan sampah yang mencemari air tanah, padahal sekitar 70 persen warga di kawasan seperti Sumur Batu masih mengandalkan air tanah sebagai sumber air minum.

 

"Tentu hal itu berisiko menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang," imbuhnya.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang