Jateng

Kemandirian NU Dimulai dengan Bangun Individu Warga

NU Online  ·  Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Kemandirian NU Dimulai dengan Bangun Individu Warga

NU Jateng menggelar Muktamar Kemandirian di Sragen untuk merumuskan rekomendasi menuju Muktamar ke-35 NU.

Sragen, NU Online Jateng 

Setelah menggelar Muktamar Pertanian untuk Kemuliaan Petani di Semarang, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah kembali menggelar forum strategis melalui Muktamar Kemandirian NU. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor PCNU Sragen, Ahad (23/8/2026).

 

Muktamar Kemandirian NU digelar untuk menghimpun gagasan, masukan, dan aspirasi dari para peserta yang selanjutnya dirumuskan menjadi rekomendasi untuk dibawa ke Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

 

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan bahwa agama dan kekuasaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya, menurutnya, harus berjalan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.

 

Ia menjelaskan, pembahasan mengenai kepemimpinan yang adil tidak semata-mata berada dalam wilayah ilmu fiqih, tetapi juga berkaitan dengan ilmu kalam. Orientasi akhirnya adalah terwujudnya kemaslahatan umat, baik di dunia maupun akhirat.

 

Karena itu, amar ma'ruf nahi munkar menjadi bagian penting dalam menjalankan peran NU di tengah masyarakat. Sebagai perkumpulan para ulama, NU memiliki tanggung jawab untuk mengupayakan berbagai hal yang belum mampu diwujudkan oleh kekuasaan.

 

"NU tidak boleh bersaing dengan negara," tegasnya.

 

Menurut Kiai Ubaidullah, ketika pemerintah belum sepenuhnya mampu mewujudkan kemakmuran masyarakat, NU perlu ikut mengupayakannya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

 

Ia menekankan, upaya tersebut harus diawali dengan membangun kemandirian individu-individu warga. Kemandirian individu merupakan kebutuhan primer, sedangkan kemandirian jam'iyyah menjadi kebutuhan sekunder yang menopangnya.

 

Dalam konteks tersebut, iuran warga NU dipandang sebagai bentuk gotong royong untuk bersama-sama menjalankan kebaikan sebagai amal saleh.

 

"Kemandirian NU ini sebagai media (wasilah), bukan sebagai tujuan," jelasnya.

 

Menurutnya, kemandirian harus ditempatkan sebagai sarana untuk mendukung tertibnya pelaksanaan ibadah dan tercapainya tujuan besar NU sebagaimana yang telah dirumuskan dalam dasar-dasar organisasi.

 

Selengkapnya klik di sini. 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang