Katib Syuriyah PWNU Lampung Ingatkan Ilmu Musthalah Hadits Saat Terima Informasi
NU Online · Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:00 WIB
Bandar Lampung, NU Online Lampung
Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Ahmad Ma’sum Abror berpesan, memanfaatkan informasi harus bijak, tidak semua yang kita terima itu harus disebarkan. Sebab, penerima informasi perlu memvalidasinya terlebih dahulu sebelum menyebarkannya.
Memperkuat argumentasinya, ia mengambil perumpamaan dengan ilmu musthalahul hadits. Menurutnya, ulama tidak sekali-kali meriwayatkan hadits kecuali sudah mengetahui kejelasan sumbernya dari mana.
“Dalam ilmu hadits juga dikenal yaitu orang tsiqah yang dapat dipercaya, maka ketika menerima informasi, kita harus lihat terlebih dahulu dari siapa dan siapa yang memberikan informasi tersebut,” ujarnya dalam seminar literasi digital Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Lampung di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Kamis (8/8/2024).
Ia juga menekankan perlunya tabayun. Saat menerima informasi, sumber asal informasi itu perlu diperhatikan. Ketika ragu, tabayun kepada orang yang menjadi narasumber pada isi informasi tersebut menjadi opsi penting untuk dipilih sebelum menyebarkannya.
“Mengenai literasi digital, kita hidup di zaman ini yang perkembangan teknologinya sangat pesat. Saya ingat zaman dahulu, seperti kalau mau bahtsul masail harus membawa kitab yang banyak, namun era sekarang serba digital tidak perlu bawa lagi yang seperti itu, cukup bawa handphone atau ponsel,” kata Gus Ma’sum sapaan karibnya, dalam seminar bertema Membangun Jejak Digital Organisasi Perempuan yang Positif itu.
Selengkapnya klik di sini.
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
3
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
4
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
5
Muktamar ke-35 NU Bahas Hukum DNA, Kripto, hingga Pasang Chip di Otak
6
Indonesia Peringkat Kedua Kasus DBD Terbesar di Dunia, PDNU Nilai Pencegahan Belum Optimal
Terkini
Lihat Semua