Merawat Kelestarian Alam, Menjaga Amanah Sang Pencipta
NU Online · Selasa, 12 Mei 2020 | 12:00 WIB
Keyakinan menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah sang pencipta harus terus dipegang teguh oleh masyarakat terutama mereka yang hidup berada di lahan gambut. (Ilustrasi)
Abdul Rahman Ahdori
Kontributor
Pengasuh Pesantren Nurul Haramain Kota Narmada, Lombok Barat-NTB, Tuan Guru Hasanain Juaini menegaskan bahwa merawat kelestarian alam sama dengan menjaga amanah sang pencipta yakni Allah SWT. Menurutnya terdapat dua amanah yang diberikan Allah kepada umat manusia, pertama amanah menyembah Allah, kedua amanah melestarikan alam semesta.
"Hidup itu memanggul amanah penciptaan diantaranya menyembah kepada Allah dan melestarikan alam, itu satu nafas," kata Tuan Guru Hasanain Juaini saat menjadi narasumber Serial Seminar Daring Agama dan Lingkungan yang digelar Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Selasa (12/5).
Ia menambahkan, terkait dengan perintah Allah SWT tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda agar umat manusia selalu berhati-hati dalam memperlakukan alam semesta atau bumi. Sebab, kata nabi, bumi adalah ibu umat manusia.
“Rassullah menguatkan dalam hal ini dengan bersabda, ‘berhati-hatilah kalian bertingkah di bumi, karena bumi itu ibumu,” tuturnya.
Sebagaimana Allah telah berwasiat agar setiap hamba-Nya menghormati serta memuliakan seorang ibu. Dalam hadist nabi yang menganjurkan memuliakan seorang ibu terdapat dua pengertian penting, pertama ibu yang melahirkan kita kedua ibu umat manusia yakni bumi.
Keyakinan menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah sang pencipta, lanjutnya, harus terus dipegang teguh oleh masyarakat terutama mereka yang hidup berada di lahan gambut.
Selain itu masyarakat juga harus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam. Harus disampaikan bahwa menjaga lingkungan dan manfaat yang akan diterima oleh masyarakat sangat seimbang. Karena itu tidak ada alasan lagi bagi umat manusia tidak merawat kelestarian alam semesta.
“Padahal berimbangan antara kesadaran mereka dan manfaat yang bisa diambil mereka, beda hal dengan masyarakat gambut di California. Masyarakatnya sadar, akhirnya gambut justru jadi sumber berkah,” ujarnya.
Di Indonesia, kesadarannya sangat minim sehingga masih saja teradi kebakaran hutan dan lahan yang memperparah kondisi bumi hari ini. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut harus ada sentuhan pihak berwenang dalam hal ini pemerintah setempat untuk terus mendorong masyarakat mencintai lahan gambut.
“Saya juga sudah 21 tahun berkerja di tengah masyarakat untuk pelestarian lingkungan. Ini saya yakin betul bahwa tradisi dan budaya masyarakat kita ini yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan dapat disatukan dengan langkah-langkah kongkrit pelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua