Amnesty Soroti Kasus Anggota Polisi Bunuh Siswa SMP: Reformasi Kepolisian Belum Serius
NU Online · Sabtu, 21 Februari 2026 | 20:00 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Dua pelajar menjadi korban dugaan penganiayaan oleh Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Masias Siahaya (MS) di Kota Tual, Maluku, Kamis (19/2/2026). Arianto Tawakal (14) dilaporkan meninggal dunia setelah dipukul pada bagian kepala, sedangkan Najril Karim Tawakal (12) mengalami luka di tangan kanan.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai peristiwa ini menunjukkan masih berulangnya praktik kekerasan aparat kepolisian terhadap warga sipil, termasuk anak di bawah umur. Ia menyebut kasus tersebut sebagai bukti bahwa pemerintah belum serius menjalankan reformasi kepolisian secara menyeluruh.
“Ini menunjukkan sejak awal agenda reformasi belum menyentuh persoalan utama di kepolisian, yakni kekerasan aparat,” kata Usman kepada NU Online, Sabtu (21/2/2026).
Ia menegaskan, kekerasan yang terus terjadi berpotensi melanggengkan impunitas dan memperkuat budaya kekerasan di tubuh kepolisian. Amnesty meminta Presiden memanggil Kapolri dan memerintahkan reformasi total serta investigasi menyeluruh terhadap seluruh kasus kekerasan aparat.
Menurut Usman, tanpa langkah tegas, kepercayaan publik terhadap kepolisian akan terus menurun. Ia juga menyinggung kasus kematian pelajar di Semarang, Gamma Rizkynata Oktafandy (17), yang saat itu dituduh terlibat tawuran.
Dalam kasus Arianto, ia menilai terdapat upaya membangun narasi balap liar yang berpotensi menyudutkan korban.
“Upaya menutupi kebenaran hanya akan semakin merusak kepercayaan publik kepada polisi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad Isnur mengecam keras tindakan Bripka MS. Ia mendesak kepolisian menjatuhkan sanksi tegas dan proporsional, tidak sebatas pelanggaran etik.
Isnur juga meminta pemulihan hak-hak korban dan keluarga, termasuk keadilan, rehabilitasi, dan restitusi. “Peristiwa seperti ini bukan kejadian biasa, melainkan berulang,” tegasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua