Celios Sebut El Nino Sempurnakan Guncangan Ekonomi
NU Online Ā· Sabtu, 9 Mei 2026 | 06:00 WIB
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026). (tangkapan layar youtube IklimKita by LaporIklim)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyoroti dampak El Nino memicu menciptakan kondisi āperfect stormā atau ābadai sempurnaā bagi perekonomian nasional dan geopolitik global. Ancaman tersebut muncul karena krisis energi, krisis pangan, dan tekanan sektor keuangan terjadi secara bersamaan dalam satu waktu.
Bhima mengatakan situasi saat ini berbeda dibandingkan krisis sebelumnya. Menurutnya, El Nino tidak hanya memukul sektor pertanian, tetapi juga menjalar hingga rantai industri, UMKM, dan konsumsi rumah tangga.
āDampak El Nino ini menjadi badai yang sempurna atau perfect storm karena belum pernah terjadi antara krisis energi itu bertemu langsung dengan krisis pangan dan bertemu dengan sinyal memang terjadinya guncangan terhadap sektor keuangan sekaligus,ā kata Bhima dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026).
Bhima mengatakan inflasi pada Maret belum sepenuhnya mencerminkan tekanan ekonomi yang sesungguhnya. Menurutnya, dampak El Nino baru akan terasa lebih besar pada April hingga Mei ketika kenaikan harga gas mulai memengaruhi pupuk dan produksi pangan nasional.
Ia mengungkapkan harga pupuk urea bahkan sempat melonjak 87 persen dalam setahun terakhir. Kenaikan itu dinilai menjadi alarm serius bagi ketahanan pangan nasional di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
āPertanyaannya adalah kalau harga pangan nanti naik, konsumennya siap atau tidak? Kelas menengahnya aja turun 1,1 juta orang dibandingkan tahun 2025,ā katanya.
Bhima juga menyoroti besarnya beban subsidi pupuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp46 triliun. Namun, angka tersebut dinilai belum cukup untuk menutup seluruh biaya distribusi dan kenaikan harga energi di sektor hulu.
āModel begini tidak sehat buat petani karena suatu saat kalau dilepas dia kaget dan dia bilang tidak ada alternatifnya,ā ucapnya.
Ia mengingatkan pemerintah untuk mengawal penyaluran pupuk subsidi agar tepat sasaran. Menurutnya, selisih harga pupuk subsidi dan pupuk pasar yang semakin lebar berpotensi menimbulkan penyimpangan distribusi di tengah lonjakan harga pupuk global.
āKarena ini margin antara antara harga pupuk yang disubsidi dengan pupuk yang di pasar pasti akan melebar dengan meningkatnya harga pupuk global sehingga jangan-jangan pupuknya tidak jatuh kepada pihak yang harus dapat subsidi,ā ucap Bhima.
Terpopuler
1
Pengumuman 50 Mahasantri Ma'had Aly Penerima Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35
2
Warga NU Bekasi Raya Padati Kajian Qanun Asasi KH Hasyim Asy'ari
3
Unusia Buka Beasiswa Cahaya Pintar untuk Program Sarjana dan Magister
4
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami?
5
Menembus Pelosok Ende, Relawan NU Peduli Salurkan Bantuan untuk 168 KK yang Masih Bertahan di Tenda
6
Orang Meninggal Dapat Pesangon dan BPJS Ketenagakerjaan, Apakah Jadi Harta Warisan?
Terkini
Lihat Semua