Gus Yahya Tekankan Konsolidasi Struktur sebagai Kunci Peta Jalan NU 25 Tahun
NU Online · Kamis, 23 April 2026 | 08:00 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat Rapat Harian Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (22/4/2026). (Foto: NU Online/Haekal)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menekankan pentingnya pendekatan strategis dalam penyusunan peta jalan (road map) Nahdlatul Ulama untuk 25 tahun ke depan.Â
Gus Yahya, sapaan akrabnya, menilai, seluruh elemen organisasi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang terkoordinasi. Karenanya, konsolidasi struktur dianggap sebagai langkah paling mendasar agar seluruh potensi NU dapat dikelola secara sistemik.
"Maka kalau kita berbicara soal transformasi, maka pertama-tama dari hal itu adalah konsolidasi struktur organisasi. Dan ini saya minta dirinci dengan elemen-elemennya, terutama soal desain tata kelola, desain soal kaderisasi," katanya saat Rapat Harian Tanfidziyah yang digelar di Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Ia menyampaikan bahwa pendekatan strategis harus menjadi fondasi, bukan sekadar merumuskan tujuan atau program yang ingin dicapai.
"Yang sangat mendasar dan saya minta dimasukkan di dalam peta jalan ini, yaitu soal pendekatan strategis. Jadi, bukan soal nanti bagaimana dan kita mau apa, bukan hanya sampai ke situ, tapi kita membangun strategi macam apa untuk bisa menangani tantangan terkait road map 25 tahun ini," katanya.
Menurutnya, penyusunan peta jalan tidak cukup hanya berbicara tentang arah dan target, tetapi harus dilengkapi dengan strategi yang jelas. Hal ini untuk menjawab berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam jangka panjang.
"Saya ingin menggarisbawahi lagi apa yang sebenarnya menjadi pemikiran sejak awal. Di dalam lanskap realitas NU yang sudah sedemikian luas tentang lingkaran-lingkaran kewargaan, mulai dari struktural," jelasnya.
Ia menggambarkan NU sebagai organisasi besar dengan jaringan yang sangat luas, mulai dari struktur organisasi hingga berbagai unit layanan seperti puluhan ribu pesantren, madrasah, ratusan rumah sakit, perguruan tinggi, hingga unit-unit usaha di tingkat cabang.
Terkait sistem kaderisasi, kata Gus Yahya, aspek ini dinilai perlu terus dikembangkan secara dinamis agar mampu menjawab kebutuhan organisasi di masa depan.
Lebih jauh, Gus Yahya mengingatkan bahwa tanpa konsolidasi yang kuat, NU berisiko kehilangan kejelasan arah dan makna kehadirannya di tengah masyarakat.Â
"Kalau tidak, NU-nya akan terdistorsi ke dalam masyarakat tanpa ada kejelasan lagi sebenarnya apa makna kehadirannya," katanya.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pembahasan roadmap tidak boleh hanya terfokus pada program-program tertentu.
"Bukan hanya soal program terkait ini atau program itu, tapi keseluruhan lanskap NU yang ada," terangnya.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
3
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
4
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua