Nasional

Harlah 1 Abad NU Versi Masehi, PBNU Siapkan Halaqah Uji Publik Peta Jalan NU 2052

NU Online  ·  Rabu, 7 Januari 2026 | 19:00 WIB

Harlah 1 Abad NU Versi Masehi, PBNU Siapkan Halaqah Uji Publik Peta Jalan NU 2052

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat peringatan Harlah ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (5/1/2026) malam. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyusun Road Map atau Peta Jalan NU 2052. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa dokumen tersebut akan melalui tahapan uji publik sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU versi Masehi.


Hal itu disampaikan Gus Yahya saat peringatan Harlah ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (5/1/2026) malam.


Ia menjelaskan, PBNU akan menggelar Halaqah Uji Publik guna membuka ruang partisipasi para pakar, intelektual, dan ulama untuk menelaah draft Road Map NU 2052.


“Kita akan selenggarakan Halaqah Uji Publik supaya para pakar, para intelektual, para ulama memeriksa draft road map ini, memberikan masukan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangannya, mungkin juga mengoreksi kesalahan-kesalahannya, sebagai rangkaian peringatan 100 tahun Hari Lahir Nahdlatul Ulama menurut kalender Masehi,” ujar Gus Yahya.


Setelah melalui proses uji publik, lanjutnya, peta jalan tersebut akan disempurnakan dan dibahas lebih mendalam dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU.


“Pada akhirnya nanti akan kita bawa ke Muktamar ke-35 untuk menjadi keputusan Muktamar,” tegasnya.


Bangun Jaringan Keuangan Syariah Global

Bersamaan dengan penyusunan Road Map NU 2052, PBNU juga tengah menjajaki kerja sama internasional untuk membangun pusat jaringan keuangan syariah global yang dipusatkan di Indonesia.


“Alhamdulillah, kita sudah melakukan konsolidasi dengan sejumlah entitas internasional, perusahaan dan entitas bisnis internasional untuk menginisiasi suatu bangunan bisnis di Indonesia atas nama Nahdlatul Ulama, yang nantinya akan kita canangkan menjadi pusat jaringan keuangan syariah global,” ungkap Gus Yahya.


Ia menyebutkan, jaringan tersebut akan mencakup berbagai sektor keuangan syariah, mulai dari perbankan, asuransi atau takaful, hingga reksa dana dan manajemen aset berskala global.


“Kita sudah mendapatkan kontak dari jaringan yang sangat kredibel, seperti dari Timur Tengah, Emirat, Saudi, Bahrain, Qatar, juga dari negara-negara Asia seperti Taiwan, Singapura, termasuk Cina, serta kawasan Barat seperti Amerika dan Australia,” katanya.


Menurut Gus Yahya, tantangan selanjutnya adalah merancang desain agar seluruh inisiatif tersebut dapat dipusatkan di Indonesia atas nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.


Di akhir pernyataannya, Gus Yahya menekankan pentingnya persatuan seluruh elemen NU agar agenda besar organisasi dapat berjalan dengan kokoh. “Tidak ada pilihan untuk menjadi barisan perjuangan yang kuat selain kita harus bersatu,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang