Haul Kiai Ruhiat dan Kiai Ilyas Ruhiat: Bukan Sekadar Memperingati, Tetapi Harus Meneladani
NU Online · Kamis, 6 Juli 2023 | 11:00 WIB
Malik Ibnu Zaman
Kontributor
Tasikmalaya, NU Online
Pondok Pesantren Cipasung menggelar Haul Almaghfurlah KH Ruhiat yang ke-46 dan Almaghfurlah KH Moh Ilyas Ruhiat ke-16 di lingkungan Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada Rabu (17/7) malam.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Cipasung KH Acep Adang Ruhiat mengungkapkan bahwa haul bukan hanya sekadar memperingati wafatnya seseorang, tetapi yang paling penting melihat perjuangan orang yang dihauli.
“Haul tentu tidak hanya sekadar memperingati wafatnya seseorang di dalam tahun per tahun, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita mencoba melihat bagaimana perjuangan beliau,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa perkembangan Pondok Pesantren Cipasung hingga sebesar sekarang tidak bisa lepas dari perjuangan KH Ruhiat dan KH Moh Ilyas Ruhiat, di mana mereka berjuang dengan modal keinginan yang luar biasa untuk bermanfaat dan melakukan perubahan.
“Allah sangat mencintai orang yang punya prakarsa, punya keinginan untuk perubahan. Dan sebaliknya, Allah sangat tidak suka terhadap orang yang tidak punya keinginan," jelasnya.
"Apa yang dilakukan oleh almarhum baik oleh pendiri Pondok Pesantren Cipasung dan seterusnya, dilanjutkan oleh KH Ilyas Ruhiat, perjuangan yang luar biasa. Tentu saja ini menjadi modal kita semua, terutama keluarga Pesantren Cipasung dan para alumni,” ungkapnya.
Menurutnya, penting sekali untuk meneladani sikap dari KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat, dari mulai kaetakzimannya, kharismatiknya, perjuangan, dan aktivitas yang dilakukan.
“Kami berharap kepada semuanya, kami estafet perjuangan dari para kiai yang telah meninggal, dari Abah, Kiai Ilyas, Kiai Dudung, Kiai Abun, bisa melanjutkan apa yang menjadi dasar dasar yang sudah dimiliki mereka, yang sudah ditanamkan di Pesantren Cipasung. Sehingga Pondok Pesantren Cipasung lebih maju, bisa memberikan manfaat masyarakat yang ada di sekitarnya,” pungkasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sesepuh Pesantren Cipasung KH Koko Komarudian Ruhia. Selain mendoakan, dengan adanya haul juga mengingatkan kepada yang masih hidup tentang kematian.
“Maka selain kita mengingatkan akan mati dan mendoakan, juga dibaca riwayat hidup tidak lain agar santri terinspirasi bagaimana perjuangan beliau di dalam mencari ilmu di pesantren yang lain, juga mendirikan pesantren dalam usia muda,” ujarnya.
Ia mengungkapkan alasan digelarnya haul di waktu bersamaan karena kedua kiai tersebut meninggal di bulan yang sama yakni Dzulhijjah.
Ia berharap para penerus Pesantren Cipasung, alumni, dan santri bisa mengikuti jejak langkah pendiri dan pemimpin pesantren yang telah mendahului. Kemudian jangan sampai melupakan jasa besar mereka dalam mendidik dan membina.
“Maka jangan punya pikiran apa yang bisa didapatkan dari Pondok Pesantren Cipasung, tetapi berikan yang terbaik untuk Pondok Pesantren Cipasung. Oleh karena itu Pondok Pesantren Cipasung menanti pengabdianmu,” pungkasnya.
Kontributor: Malik Ibnu Zaman
Editor: Syakir NF
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua