Yogyakarta, NU Online
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, NU telah mempunyai sikap yang tegas mengenai seni dan kebebasan. Bagi NU, seni dan kebebasan tetap diekspresikan dengan batasan-batasan moral.<>
“NU menghargai seni dan kebebasan, tetapi perlu ada batasan moral dan agama. Bila rambu moral dan agama dilanggar, bangsa in iakan rusak dan kehilangan karakter,” katanya dihubungi NU Online di Yogyakarta, Jum’at (18/5).
Menurutnya, NU lahir untuk memperbaiki dan menjaga moral. Karena itu NU tak bisa membiarkan pagelaran seni atau konser musik yang merusak moral.
Di Jakarta, Sekjen Pengurus Pusat Lembaga Seniman dan Budayawan (Lesbumi) M. Dienaldo, NU berharap warga NU tidak terusik dengan pihak-pihak yang menuntut kebebasan berekspresi.
“Persoalan konser musik yang dilarang, misalnya, itu urusan kecil. Ini urusan bisnis. Jika ditanggapi serius dan memunculkan kontroversi maka mereka akan mengeruk keuntungan. Banyak persoalan lebih besar yang perlu kita kerjakan,” katanya.
Lebih dari itu, menurutnya, warga NU perlu menghidupkan kebudayaan dan kesenian sendiri. Kesenian tidak hanya bernilai ekonomi, namun menjadi sarana pencerahan dan pendidikan yang sangat efektif.
“Saya sudah sering menonton penonton. Orang tua mendorong anaknya untuk menjadi Bima, misalnya. Mereka membimbing anaknya melalui karakter tokoh-tokoh yang dipentaskan,” kata budayawan asal Palembang ini.
Penulis: A. Khoirul Anam
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Syukur Batin dan Syukur Lahir: Mengakui Nikmat dan Menggunakannya untuk Taat
2
Khutbah Jumat: Isi Hati dengan Maaf, Bukan dengan Dendam
3
Khutbah Jumat: 2 Sikap Hidup yang Menjadi Ladang Kebaikan
4
Ketua Umum PBNU Terima PP IPNU-IPPNU, Kongres November Diminta Respons Tantangan Era AI
5
Warga NU Bekasi Raya Padati Kajian Qanun Asasi KH Hasyim Asy'ari
6
Khutbah Jumat: 3 Cara Menggunakan Harta yang Baik Menurut Imam Al-Ghazali
Terkini
Lihat Semua