Nasional

Kiai Miftah Ungkap Nabi Ibrahim-Ismail Teladan Orang Tua dan Anak yang Berpegang Teguh pada Idealisme

NU Online  ·  Jumat, 29 Mei 2026 | 22:00 WIB

Kiai Miftah Ungkap Nabi Ibrahim-Ismail Teladan Orang Tua dan Anak yang Berpegang Teguh pada Idealisme

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat ngaji Syarah Al-Hikam. (Foto: Multimedia KH Miftachul Akhyar)

Surabaya, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar (Kiai Miftah) menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail adalah teladan orang tua yang ideal dalam mempertahankan idealismenya. Iman Nabi Ibarahim tidak goyah sedikitpun saat mendapat ujian berat, berupa perintah menyembelih putra kesayangannya. 


Alih-alih ragu dan berontak, Nabi Ismail justru meyakinkan sang ayah untuk melakukannya jika perintah itu benar-benar dari Allah swt. Saat itu, Ismail adalah anak satu-satunya yang dinanti-nanti kehadirannya sejak ratusan tahun lamanya.


"Saat lucu-lucunya Nabi Ismail sudah bisa membantu orang tuanya, tiba-tiba mimpi agar menyembelih putra satu-satunya, karena Nabi Ishaq belum lahir. Coba bayangkan," katanya di tengah-tengah ngaji kitab Syarah Al-Hikam, Jumat (29/5/2026) di pondok asuhannya.


Kiai Miftah menyampaikan, tidak ada naluri orang tua yang tega menyembelih anaknya sendiri. Tapi pada saat yang sama hal ini adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan.


Di sinilah teladan Nabi Ibrahim yang mampu mengenyampingkan ego dan perasaannya demi menjalankan perintah Sang Khaliq. Begitu juga Nabi Ismail yang tak bergeming. Ia justru memilih sabar dan patuh kepada sang ayah.

 

"Itu kan menggambarkan satu idealismenya, satu langkah antara bapak dan anak yang sekarang kita sulit menemukan. Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contoh bagaimana bapak dan anak satu pandangan, satu titik tujuan," ungkapnya.


Disebutkan dalam Al-Qur’an Ismail kecil adalah anak yang halim. Sebagaimana jawaban Allah atas doa Nabi Ibrahim yang menginginkan keturunan, termaktub dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 101, yang artinya, “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim”.


"Halim itu bukan cuma sabar tapi mau mendahulukan kepentingan-kepentingan yang lainnya," jelas Kiai Miftah.


Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini menegaskan bahwa pada momentum Hari Raya Kurban, hendaknya umat Islam bisa menggali makna dan memetik pelajaran penting di balik kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang digambarkan dalam Al-Qur’an.


Betapa Nabi Ibrahim dan Ismail adalah potret orang tua dan anak yang sarat dengan hikmah yang masih relevan untuk kehidupan saat ini. Mereka tidak sekadar sabar, tapi mereka juga ikhlas, taat, dan mampu menundukkan egonya sebagai ayah, sebagai nabi, termasuk ego atas kekhawatiran masa depan anak.


Pelajaran ini yang sebenarnya harus ada di balik ibadah kurban. Kiai Miftah menyampaikan, kurban bukan hanya simbolis menyembelih hewan ternak berupa kambing maupun sapi semata. Lebih jauh dari itu kurban mengajarkan arti pentingnya manusia melepaskan hawa nafsu dan setiap perangai buruk yang kerap kali mengotori hati.


"Kelihatannya, kita menyembeleh kambing, menyembeleh sapi. Tapi pada hakikatnya, itu ada penyembelihan kekikiran, penyembelihan kesombongan, penyembelihan sifat riya', kebiasaan mementingkan kepentingan diri sendiri, terutama sifat ujub, merasa baik dan benar sendiri, dan semua sifat-sifat yang lain itu kita sembelih kemarin," ungkapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang