Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Jadi Momentum Kembalikan Ruh Organisasi ke Pesantren
NU Online · Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:00 WIB
M Fathur Rohman
Kontributor
Kediri, NU Online
Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri pada 20-22 Juni, dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali hubungan historis antara NU dan pesantren. Panitia lokal berharap penyelenggaraan agenda tersebut di lingkungan pesantren dapat mengembalikan ruh perjuangan NU sebagaimana dicita-citakan para pendirinya.
Ketua Panitia Lokal Munas-Konbes NU 2026, Agus Bahauddin mengatakan berbagai persiapan penyelenggaraan telah dilakukan secara maksimal, baik dari sisi teknis maupun nonteknis. Menurutnya, saat ini panitia tinggal mematangkan pelaksanaan pembukaan pada malam hari yang rencananya akan dihadiri berbagai unsur pengurus NU dan pejabat pemerintah.
"Secara garis besar persiapan yang sudah kita lakukan sudah maksimal. Secara teknis maupun nonteknis semuanya sudah kita bereskan, tinggal eksekusi pada pembukaan nanti," ujarnya saat ditemui NU Online di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri Sabtu (20/6/2026) siang.
Gus Baha sapaan akrab Agus Bahauddin juga telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung kelancaran acara, mulai dari aparat keamanan hingga instansi kesehatan. Langkah tersebut dilakukan mengingat pembukaan Munas-Konbes diperkirakan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara.
Selain berkoordinasi dengan kepolisian terkait pengamanan dan protokol kedatangan tamu, panitia juga bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dari tingkat pusat, wilayah, hingga cabang, serta Dinas Kesehatan Jawa Timur guna memastikan kesiapan layanan kesehatan selama kegiatan berlangsung.
Di bidang keamanan, panitia melibatkan unsur Banser, Ansor, Pagar Nusa dan aparat kepolisian untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan agenda yang menjadi salah satu pertemuan penting NU di antara dua Muktamar tersebut.
Sekitar 1.500 Undangan Hadiri Pembukaan
Gus Baha menjelaskan pembukaan Munas-Konbes diperkirakan dihadiri sekitar 1.500 orang yang terdiri atas peserta, undangan, pengurus PBNU, serta tamu dari berbagai kalangan.
Sementara itu, peserta Munas-Konbes yang mengikuti persidangan diperkirakan berjumlah 500 hingga 600 orang. Mereka terdiri atas anggota pleno PBNU, perwakilan 38 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), serta sejumlah peserta undangan dari berbagai komisi dan forum keilmuan NU.
"Peserta Munas-Konbes ada sekitar 500 sampai 600 orang. Ada anggota pleno PBNU, perwakilan PWNU se-Indonesia, dan juga peserta lain yang terlibat dalam berbagai komisi," katanya.
Panitia juga mengundang para kiai dan pesantren yang selama ini aktif dalam forum Bahtsul Masail untuk mengikuti pembahasan Munas Alim Ulama yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Pelaksanaan Munas-Konbes tahun ini beriringan dengan Haul Akbar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang akan digelar pada puncaknya sehari setelah rangkaian Munas-Konbes berakhir. Berbeda dengan Munas-Konbes yang bersifat terbatas bagi peserta dan undangan, Haul Akbar terbuka untuk masyarakat umum.
Menurut Agus, jumlah jamaah yang menghadiri puncak haul setiap tahun dapat mencapai 20 ribu hingga 30 ribu orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Mengembalikan NU ke Pesantren
Bagi Gus Baha penyelenggaraan Munas-Konbes di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar pemilihan lokasi kegiatan. Ia berharap agenda-agenda strategis NU semakin dekat dengan basis pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama organisasi.
"Harapan kami, dengan adanya Munas-Konbes kembali ke pondok pesantren setelah sekian lama tidak dilakukan di pesantren dapat mengembalikan ruh daripada NU itu sendiri," ujarnya.
Ia mengutip pesan yang kerap disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli, bahwa hubungan NU dan pesantren merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
"Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Karena itu NU dan pesantren tidak akan pernah bisa dipisahkan," katanya.
Menurut Gus Baha, pelaksanaan Munas-Konbes di lingkungan pesantren diharapkan dapat memperkuat kembali karakter keulamaan NU sekaligus menjaga kedekatan organisasi dengan akar sosial dan kulturalnya.
Ia juga berharap berbagai keputusan yang dihasilkan dalam Munas-Konbes tetap berpijak pada nilai-nilai dan cita-cita yang diwariskan para muassis NU, terutama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
"Harapan kami, keputusan-keputusan yang lahir nantinya tetap berpihak kepada para kiai dan tetap berpijak pada asas-asas yang dibangun oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Nahdlatul Ulama," ujarnya.
Menurutnya, sebagai organisasi besar yang terus berkembang, NU menghadapi berbagai tantangan zaman. Karena itu, Munas-Konbes diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali arah perjuangan organisasi agar tetap berpegang pada nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendiri NU.
"Harapan kami, NU terus mendapatkan kembali ruh yang semestinya sebagaimana yang diharapkan para pendiri dalam membangun organisasi ini," pungkasnya.
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua