Nasional

Perempuan dan Anak Muda Kunci Aksi Iklim Berkelanjutan

NU Online  ·  Rabu, 11 Februari 2026 | 11:00 WIB

Perempuan dan Anak Muda Kunci Aksi Iklim Berkelanjutan

Diskusi Publik Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender di Jakarta pada Senin (9/2/2026). (Nu online/Jannah)

Jakarta, NU Online
 
Isu perubahan iklim kian menunjukkan dampak nyata di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatra, hingga Jawa. Tim Penulis Toolkit Hibban Ar Royan menyampaikan bahwa perubahan iklim tidak bisa dilepaskan dari peran manusia, terutama perempuan dan anak muda.


“Mereka bukan sekadar kelompok terdampak, tetapi aktor kunci dalam menentukan arah keberlanjutan masa depan bumi,” ujarnya dalam Diskusi Publik Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender di Jakarta pada Senin (9/2/2026).


Hibban mengatakan bahwa tantangan krisis iklim seharusnya mendorong perubahan cara pandang terhadap peran perempuan dan anak muda.


“Refleksi awal tahun ini kita sudah tahu tantangannya. Ke depan, aksi iklim dan gender tidak berhenti di sini, melaksanakan perpanjangan tangan. Perempuan muda bukanlah sekadar kelompok sasaran, melainkan juga aktor utama yang memegang kunci keberlanjutan masa depan bumi, termasuk menghadapi krisis iklim,” ujarnya.


Menurut Hibban, dampak perubahan iklim tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup manusia.


“Bencana perubahan iklim di Aceh, Sumatra, Jawa, kita menjaga lingkungan kesehatan keberlangsungan hidup manusia, iklim itu tidak berdiri sendiri, keberlangsungan iklim manusia,” katanya.


Hibban mendorong anak muda untuk terus bersuara dan melakukan aksi nyata agar krisis iklim tidak memicu bencana lanjutan maupun penyakit.


“Sebagai anak muda, kita harus terus menyuarakan dan melakukan aksi-aksi perubahan iklim. Kita tidak mau ada bencana atau penyakit yang timbul dari perubahan iklim ini,” katanya.


“Harapannya ikut terdukasi, gender responsif. Cerita apa yang ada di dalam tersebut, memasukkan cerita ke dalam cerita untuk monitoring dan evaluasi. Kaum-kaum muda dan marginal,” sambung Hibban.


Senada, Low Carbon Development Initiative (LCDI) Executive Board Coaction Indonesia Verena Puspawardani menyampaikan bahwa perubahan iklim bersifat lintas kelompok.


“Perubahan iklim tidak memandang bulu, semua terkena teeutama kekelompok rentan. Mobilisasi itu penting, aspirasi mobilisasi penting, ini sangat bergantung. Bagaimana kita menyampaikan dalam Bahasa,” ucapnya.


Menurutnya, literasi mengenai perubahan iklim sangat penting bagi generasi muda dan perempuan terutama di lingkungan keluarga.


Sementara itu, Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Nuraeni menyampaikan bahwa perubahan iklim sebagai penguat risiko yang memperbesar dampak sosial dan ekologis.


“Pada saat menjalankan aksi perubahan iklim, perlu mitigasi dan adaptasi ini mengurangi emisi, bagaimana landscape ekosistem menanam tanaman untuk mendukung ketahanan,” katanya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang