Perlu Resakralisasi Alam Semesta Demi Menjaga Kehidupan
NU Online · Rabu, 6 Agustus 2025 | 14:00 WIB
Menag Nasaruddin Umar menyampaikan keterangan dalam konferensi pers usai acara Silaturahim Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Lembaga Keagamaan di Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (6/8/2025). (Foto: NU Online/Syakir)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Tangerang, NU Online
Rumah ibadah kini tak lagi sepenuhnya sakral karena maraknya berbagai transaksi di dalam maupun di sekitarnya. Proses pensakralan terhadap sesuatu juga menghadapi tantangan akibat adanya pengharaman oleh sebagian pihak. Kondisi tersebut berdampak pada ekosistem kehidupan.
"PR paling besar perlu ada semacam resakralisasi alam semesta," kata Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada Silaturahim Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Lembaga Keagamaan di Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (6/8/2025).
Menurutnya, desakralisasi terhadap tempat, waktu, dan berbagai hal lainnya telah menggeser pola pikir manusia menjadi materialistik. Dampaknya, manusia cenderung berpikir hanya untuk keuntungan diri sendiri dalam setiap tindakan yang dilakukan. Akibatnya, segala sesuatu selain dirinya dipandang sekadar objek, bukan subjek.
Ia mencontohkan, akibat desakralisasi itu, orang melihat penebangan pohon hanya sebagai komoditas ekspor bernilai uang. Rawa ditimbun untuk dijadikan kluster perumahan. Semua dilakukan tanpa mempertimbangkan ekosistem yang terancam.
"Tanpa ada hitungan ekosistem itu akan punah. Mereka, alam, itu partner kita," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Ia menegaskan bahwa binatang, tumbuhan, dan alam semesta adalah partisipan penting dalam menjaga stabilitas kehidupan. Sebagai khalifah, manusia hanya bisa sukses menjalankan perannya jika bumi tetap terjaga.
"Kalau ingin khusyuk lingkungan mendukung," katanya.
Ia juga menyinggung para filosof Yunani, Plato dan Aristoteles, yang mampu berkontemplasi dengan baik karena kondisi alam Athena saat itu masih terjaga. Dari bebukitan, mereka dapat melihat laut biru yang dalam.
Kerusakan alam, lanjutnya, berdampak pada tumbuh kembang anak hingga menghilangkan masa kekanak-kanakan mereka. Hal tersebut tentu dapat memengaruhi kondisi kejiwaan.
Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya mensakralkan alam. Menurutnya, alam adalah ciptaan Tuhan yang Mahasakral. Namun, ia heran dengan produk-produk manusia yang justru mengarah pada desakralisasi.
"Tuhan Mahasuci, produknya suci. Jangan melarang untuk mensakralkan tempat, waktu," katanya.
Selain itu, ia menekankan perlunya pengembangan konsep persaudaraan sebagai sesama makhluk. Manusia tidak bisa dipisahkan dari alam semesta karena merupakan bagian darinya.
"Seolah manusia bukan alam. Segala sesuatu the only object, lupa dirinya sama-sama alam. Apa bedanya dengan binatang, tumbuhan?" kata Menag.
"Kalau manusia kehilangan objek waktu sakral, apa bedanya dengan binatang? Itu menyebabkan akhlak rusak, kemanusiaan rusak," pungkasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua