Perpusnas Dukung Pemberdayaan Perempuan melalui Kesadaran Literasi
NU Online · Kamis, 23 April 2026 | 13:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pembahasan mengenai kesetaraan gender tidak dapat dilepaskan dari upaya pemberdayaan perempuan, khususnya dalam ruang literasi yang produktif. Akselerasi produktivitas perempuan dinilai erat kaitannya dengan sejauh mana kesadaran berliterasi tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa akses terhadap informasi merupakan hak dasar setiap manusia. Dalam konteks tersebut, penting untuk menempatkan peran dan fungsi perempuan secara proporsional, baik dalam ranah domestik maupun publik.
Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki fungsi domestik sekaligus peran publik. Dalam praktiknya, pembahasan mengenai ruang privat dan publik kerap menjadi sorotan, mengingat perempuan juga memiliki hak privat yang tidak dimiliki laki-laki. Namun, seiring perkembangan waktu, muncul penegasan terhadap hak kesetaraan perempuan di ruang publik.
“Pada kenyataannya, jumlah populasi perempuan masih mendominasi, tetapi ketimpangan masih cukup jauh,” ujar Aminudin kepada NU Online, Rabu (22/4/2026).
Dalam perspektif budaya Asia Timur, perempuan kerap diposisikan sebagai “yin” yang berorientasi pada kelembutan, sementara laki-laki sebagai “yang” yang identik dengan kekuatan dan kepemimpinan. Konstruksi ini turut memengaruhi dinamika peran gender di masyarakat.
Lebih lanjut, ia menyebut terdapat empat isu utama dalam pemberdayaan perempuan, yakni akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Keempat aspek tersebut dinilai menjadi isu krusial yang perlu terus didiskusikan dalam mendorong kesetaraan gender.
Dalam konteks literasi, keterlibatan perempuan juga tercermin dari kontribusi mereka sebagai penulis. Di Balai Pustaka pada masa lalu, jumlah penulis perempuan tergolong sedikit, salah satunya Selasih atau Sariamin Ismail. Seiring waktu, jumlah penulis perempuan terus berkembang meski mengalami fluktuasi.
Berdasarkan data Pusat Bibliografi dan Pengolahan Bahan Perpustakaan (ISBN Perpusnas), sejak 2021 hingga 2025 jumlah penulis perempuan menunjukkan tren fluktuatif.
Pada 2021 tercatat 954 penulis perempuan, meningkat menjadi 1.015 pada 2022, lalu melonjak menjadi 2.289 pada 2023. Pada 2024 jumlahnya menurun menjadi 752, sebelum kembali meningkat pada 2025 menjadi 2.465 penulis perempuan.
Menurutnya, angka tersebut memunculkan refleksi tentang bagaimana perempuan menyeimbangkan peran domestik dan publik. Ia menekankan pentingnya kemampuan perempuan dalam mengelola peran privat dan pekerjaan di luar rumah secara komprehensif.
“Oleh karena itu, perempuan harus mampu mengkaji diri dan berpikir lebih komprehensif untuk membagi pekerjaan di dalam maupun di luar rumah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa literasi berawal dari lingkup keluarga. Keberadaan buku di rumah serta kebiasaan mendongeng menjadi faktor penting dalam membangun budaya literasi sejak dini. Ia menyarankan orang tua menyediakan waktu minimal 15 menit untuk membaca atau bercerita kepada anak guna menjaga ikatan emosional sekaligus menumbuhkan kebiasaan literasi.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Lina Meilinawati Rahayu, mengungkapkan bahwa literasi bagi perempuan dapat menjadi proses membaca dunia sekaligus menuliskan pengalaman melalui narasi.
Ia menjelaskan, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami makna dan pengalaman manusia di balik cerita.
“Melalui literasi, perempuan tidak hanya menikmati cerita, tetapi mampu menafsirkan konflik, memahami sudut pandang tokoh, serta mengaitkannya dengan kehidupan nyata dalam pengambilan keputusan,” papar Lina.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemampuan literasi dapat mendorong transformasi perempuan dalam mengenali emosi dan situasi secara kompleks, memperluas wawasan, serta melahirkan narasi baru yang inovatif.
Menurutnya, literasi juga menjadi simbol suara perempuan sebagai bentuk kebudayaan sekaligus aksi nyata di ruang publik. Kemampuan berliterasi dinilai mampu membantu perempuan keluar dari keheningan, mengingat banyak perempuan memiliki gagasan cemerlang, tetapi tidak tersampaikan karena merasa suaranya tidak dipertimbangkan.
“Dengan kemampuan berliterasi, perempuan memiliki perbendaharaan kosakata yang lebih luas untuk menyampaikan gagasan dan argumen secara terstruktur, sehingga dapat berkontribusi aktif dalam berbagai aspek kehidupan,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
4
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua