Profil KH Nurul Huda Djazuli Ploso, Anggota Ahwa yang Fokus Belajar dan Mengajar
NU Online · Ahad, 30 Agustus 2026 | 20:05 WIB
Husnul Khotimah
Kontributor
Jakarta, NU Online
KH. Nurul Huda Djazuli, atau yang akrab disapa Mbah Yai Da, terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada Ahad (30/8/2026).
Kiai Huda merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Ia lahir dari pasangan ulama besar, pendiri (muassis) Pesantren Al-Falah KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj. Rodliyah Djazuli.
Dalam portal resmi Al-Falah Ploso, dari 11 bersaudara, ia tercatat sebagai anak keempat (setelah dua saudaranya, Siti Azizah dan Hadziq, meninggal saat bayi/balita), dan merupakan putra kedua yang hidup hingga dewasa setelah KH. A. Zainuddin Djazuli. Saudara-saudaranya yang lain dan hidup hingga dewasa adalah KH. Hamim Djazuli (Gus Miek), KH. Fuad Mun'im Djazuli, KH. Munif Djazuli, dan Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli.
Sepeninggal sang ayah, Kiai Huda bersama saudara-saudaranya melanjutkan estafet kepemimpinan dan pengelolaan Pesantren Al-Falah Ploso. Kiai Huda juga terkenal sebagai sosok yang memegang teguh thariqoh ta’lim wa ta’allum" (tarekat belajar dan mengajar).
Kiai Huda pernah menceritakan momen KH Mahrus Ali bertanya padanya soal tarekat.
"Da, bapakmu itu thariqahnya apa?" tanya Kiai Mahrus.
Kiai Huda lantas menjawab dengan mengutip prinsip ayahnya.
"Afdlalut thuruq ilallaah, thariqatut ta'lim wat ta'allum (sebaik-baik jalan menuju Allah adalah jalan mengajar dan belajar," jawab Kiai Huda sebagaimana dikutip dari NU Online, Sabtu (29/8/2026). Menariknya, KH. Mahrus Ali kemudian menjawab bahwa ayahnya sendiri memiliki keyakinan yang identik.
KH Nurul Huda Djazuli secara konsisten menekankan pentingnya menjaga tradisi ta'lim wa ta'allum (belajar dan mengajar) yang ditanamkan ayahnya. Prinsip ini sejalan dengan yang tercatat di alfalahploso.net, bahwa KH. Djazuli Utsman tidak mengamalkan wiridan tertentu, melainkan menjadikan thariqoh ta'lim wa ta'allum sebagai jalan spiritual utamanya.
Dedikasi tersebut diwujudkannya melalui konsistensi dan keistiqamahan mendampingi para santri serta mengampu pengajian kitab-kitab kuning klasik, seperti ngaji Al-Hikam setiap Wethonan.
Di kancah kebangsaan dan keumatan, Kiai Huda menduduki posisi sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sosoknya yang sejuk dan sarat kebijaksanaan membawanya terpilih sebagai salah satu dari sembilan ulama sepuh dalam jajaran Ahlul Halli wal Aqli (Ahwa) pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.
Dalam berbagai kesempatan, Kiai Huda terus menyerukan pentingnya ikhlas berkhidmah di NU, menjaga persatuan dan kerukunan, serta menegaskan bahwa pesantren dan Nahdlatul Ulama merupakan dua pilar utama yang tak terpisahkan.
Saat memimpin doa dalam pembukaan Munas-Konbes PBNU 2026 di Pesantren Al-Falah Ploso pada Sabtu (20/6/2026) lalu, misalnya. Kiai Huda menitipkan pesan mendalam kepada jajaran struktural NU sebelum memanjatkan doa. Beliau mengingatkan bahwa di tengah situasi NU yang terus bergulir, NU tetap mampu bertahan berkat keteguhan para masyayikh terdahulu.
"Maka semoga para pimpinan dan pengurus NU ini bisa berjuang dengan tulus dan ikhlas," tutur Kiai Huda, dikutip dari NU Online.
Ia juga mengutarakan sebuah kaidah yang beliau pegang, intinya bahwa hidup-matinya NU akan berbanding lurus dengan hidup-matinya pondok pesantren. Kiai Huda mengaku senantiasa berdoa kepada Allah agar syiar Islam di tubuh NU beserta pesantren-pesantrennya terus dihidupkan.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
3
LPJ PBNU 2021–2026 Diterima Aklamasi, Gus Yahya Sampaikan Terima Kasih dan Minta Maaf
4
Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU
5
Dijual Setan Muktamar
6
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
Terkini
Lihat Semua