Rais Aam PBNU Ulas Keutamaan Bergantung Kepada Cahaya Batiniah Dibanding Lahiriah
NU Online · Jumat, 10 April 2026 | 20:30 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat mengaji kitab Al-Hikam. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NUÂ OnlineÂ
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengulas keutamaan bergantung kepada cahaya batiniah (anwarus sarair) saat mengisi Ngaji Kitab Syarah al-Hikam yang bertempat di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jl. Kedung Tarukan No.100, Surabaya pada Jumat (10/4/2026).
Ia menyebutkan dua cahaya yang meliputi seorang manusia yakni cahaya lahiriah (anwarudz zhawahir) dan batiniah (anwarus sarair). Ia menjelaskan bahwa cahaya lahiriah yakni amal perbuatan yang berhubungan dengan aktifitas fisik atau pancaindra. Cahaya jenis pertama ini bersifat fana alias sementara.
"Apa yang ada di gerakan kita, dalam diri kita termasuk akal pikiran kita, penemuan-penemuan melalui pancaindra kita atau gerakan-gerakan zahir itu yang dimaksud dengan zhawahir (lahiriah)," jelas Kiai Miftach dalam kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar dikutip NU Online.Â
Sementara itu, cahaya batiniah merupakan kekuatan ilmu dan nurani yang menggerakkan seseorang untuk melakukan peribadatan syariat. Cahaya jenis ini bertumpu kepada sifat azali Allah.Â
Ia menegaskan bahwa seseorang yang memilih untuk bergantung kepada cahaya batiniah akan diganjar kematangan dalam bersikap. Sebaliknya, mereka yang memilih hanya cahaya lahiriah akan diombang-ambingkan keadaan.
"Jangan pilih yang penyayangnya sementara. Penyayang yang hanya karena ada uang, kalau tidak ada uang ditinggal. Itu termasuk pilihan-pilihan yang keliru," ujarnya di hadapan sejumlah jamaaah.
Ia pun mengajak jamaah untuk terus mengasah batin bergantung kepada Allah yang Maha Langgeng dengan belajar kepada orang-orang makrifat. Pasalnya, sikap semacam ini dinilai dapat mengantarkan seseorang untuk dapat kebahagiaan hakiki.
"Oleh karena itu, sudahlah cintai sesuatu yang langgeng, sesuatu yang kekal. Cintai Allah dengan sifat-sifat-Nya. Pasti anda akan menemukan kebahagiaan. Saya jamin menemukan kebahagiaan," tegasnya disusul mengutip potongan surah ad-Dhuha ayat 4 yang menggambarkan kelanggengan akhirat.
Dalam kesempatan itu, Kiai Miftach juga menyampaikan bahwa pemikiran tersebut pernah digunakan Nabi Ibrahim mengalahkan argumentasi lawannya mengenai berhala atau makhluk yang mereka sembah. Secara hakikat, membutuhkan kuasa Allah.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin
5
Amerika Serikat dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Selama Dua Pekan
6
Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
Terkini
Lihat Semua