Sahabat Umar, Orang Paling Paham Esensi Al-Qur’an
NU Online · Kamis, 21 Maret 2019 | 11:00 WIB
Jakarta, NU Online
Sayidina Umar bin Khattab dikenal sebagai amirul mukminin, khalifah kedua setelah Nabi Muhammad SAW. Ayahanda Sayidah Hafsah, istri Nabi, itu juga dikenal sebagai orang yang memahami Al-Qur’an. Hal itu digambarkan oleh Nurcholis Madjid dalam mukadimah bukunya Khazanah Intelektual Islam.
“Di dalam konstruksi Cak Nur, Umar ini sahabat yang paling mengerti esensi Qur'an,” kata Ulil Abshar Abdalla, cendekiawan NU, saat peluncuran kembali buku Cak Nur tersebut di Aula Gedung Graha STR lantai 4, Jalan Ampera Raya Nomor 11, Jakarta Selatan, pada Rabu (20/3).
Sayidina Umar ini, terang Gus Ulil, ditampilkan sebagai sahabat yang paling mengerti esensi pikiran Tuhan. Karena itu, ia merupakan orang yang paling konsisten dengan Al-Qur’an. Konsistensinya dengan Al-Qur’an membuat dirinya terkadang mengambil tindakan yang secara lahir bertentangan.
“Karena Umar itu mengerti esensi Qur’an, maka jika ada suatu keadaan di mana berlawanan dengan esensi Qur’an, maka Umar berani bertindak yang secara lahiriah bertentangan dengan Qur’an,” ujar pria yang mengklaim sebagai pembaca pertama buku tersebut di kota kelahirannya itu.
Artinya, lanjut Gus Ulil, jika ada suatu situasi yang mengharuskan Al-Qur’an diterjemahkan secara berbeda, dia akan melakukan itu, walaupun keputusan tersebut berlawanan dengan makna harfiahnya.
Pengampu kajian kitab Ihya Ulumiddin daring itu mengambil salah kasus yang dicontohkan Cak Nur dalam bukunya tersebut, yakni tentang penaklukan Sayidina Umar atas Persia. Kemenangan pasukan Islam tidak serta merta menghendaki Sayidina Umar untuk membagikan tanah kekuasaan Persia kepada pasukannya, melainkan tetap dipertahankan pemilik masing-masing.
Hal baru itu tentu menuai protes pasukan Islam. Mereka mengatakan hal tersebut bukanlah cara Nabi. Akan tetapi, Sayidina Umar kokoh dalam pandangannya.
“Esensi Qur'an itu tidak hanya mengikuti Nabi atau ajaran Qur'an secara harfiah,” ucapnya.
Karenanya, pemikiran Cak Nur yang tertuang dalam bukunya itu cukup berpengaruh terhadap Gus Ulil.
“Ketika Cak Nur mengkonstruksi Umar seperti itu dan saya pertama kali baca itu di pesantren, itu betul-betul luar biasa pengaruhnya ke saya,” akunya.
Diskusi yang dipandu oleh Rosida Erowati itu juga menghadirkan Sosiolog Ignas Kleden dan Ketua Nurcholis Madjid Society Wahyuni Nafis. Omi Komaria Madjid, istri Cak Nur, juga hadir dalam kegiatan tersebut. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
3
Respons Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan, LPTNU Tekankan Kebijakan Komprehensif
4
KPAI Desak Proses Hukum Tegas Kekerasan Seksual terhadap 17 Santri di Ciawi Bogor
5
Perlintasan Liar Dikelola Ormas, Dirut KAI: Tidak Memenuhi Syarat, Kami Tutup
6
Hari Buruh 2026: Prabowo Wacanakan Penurunan Potongan Aplikator Ojol hingga di Bawah 10 Persen
Terkini
Lihat Semua