Nasional

Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru

NU Online  Ā·  Ahad, 5 April 2026 | 14:00 WIB

Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru

Ilustrasi MBG. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU OnlineĀ 

 

Di tengah bergulirnya program unggulan pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG), banyak mendapatkan penolakan dari masyarakat. Salah satu penolakan itu datang dari Muhammad Rafif Arsya Maulidi, seorang siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU) Miftahul Falah Kudus, Jawa Tengah, yang menulis surat terbuka untuk Presiden Prabowo.

 

Menurutnya, di balik berjalannya program MBG yang memerlukan anggaran sangat besar, ada realitas tragis yang dialami para guru karena belum mendapat kesejahteraan yang layak.

 

"Namun, saya melihat masih banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak. Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ungkapnya dalam surat terbuka tersebut, dikutip NU Online pada Ahad (5/4/2025).

 

Ia menolak menjadi penerima manfaat program MBG tersebut. Bahkan, ia dengan sukarela bersedia apabila jatah uang MBG untuk dirinya dialokasikan untuk tambahan tunjangan kesejahteraan guru-gurunya.

 

"Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya," tegasnya.

 

"Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya," lanjutnya.

 

Secara tegas, Arsya bersedia untuk mengalihkan jatah alokasi uang MBG dirinya untuk guru-gurunya. Saat ini ia masih memiliki masa pendidikan sekolah selama 1,5 tahun.Ā 

 

Menurutnya, apabila jatah anggaran MBG untuk dirinya diuangkan dan dirinci, terakumulasi sebesar Rp6.750.000. Dengan rasionalisasi, 18 bulan x 25 hari x Rp15.000.

 

"Bagi saya pribadi, angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja," paparnya.

 

Ia juga mengajak para pelajar lain di Indonesia untuk bersuara agar pemerintah memprioritaskan kesejahteraan guru dengan mengesampingkan program MBG. Menurutnya, surat terbuka tersebut merupakan bentuk kritik kepada pemerintah dan wujud kepedulian seorang pelajar terhadap guru.

 

"Besar harapan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan," harapnya.

 

Meskipun menolak MBG, Arsya mengaku bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya seorang ibu rumah tangga.Ā 

 

Ia mengatakan bahwa guru merupakan orang yang ia hormati setelah orang tua. Karena guru, termasuk ustadz dan kiai mempunyai peran besar dalam kehidupannya yaitu dalam membentuk akhlak dan mengajarkan ilmu.

 

"Sejak kecil, saya diajarkan untuk menghormati orang-orang yang berjasa dalam membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih beradab," ungkapnya.

 

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nasiruddin mengapresiasi dan mendukung sikap kritis Arsya tersebut. Ia menyoroti soal kesejahteraan guru yang belum merata dan belum layak. Padahal peran guru sangat vital bagi generasi penerus bangsa ke depan.

 

"Ini bukan sekadar penolakan terhadap sebuah program, melainkan ajakan halus agar kita menata ulang prioritas bahwa penghargaan kepada guru bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam kebijakan nyata," ujarnya.

 

Menurut Nasir, sikap hormat dan empati Arsya terhadap guru tersebut patut didukung. Ia mengajak berbagai elemen masyarakat, pendidik, dan pemerintah, agar sadar terhadap ketimpangan dalam realitas pendidikan tersebut.

 

"Semoga suara sederhana ini menjadi pengingat bersama bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun dari program yang tampak, tetapi juga dari kesejahteraan mereka yang mendidik dengan tulus," terangnya.

 

"Dari sini, kita diajak untuk bergerak, bukan dengan mempertentangkan kepentingan, tetapi dengan mencari jalan agar semua bisa berjalan beriringan demi kebaikan bersama," tambahnya.

 

Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Edi Subkhan juga mengapresiasi sikap kritis Arsya. Edi menyebut, siswa tersebut mampu menangkap dan menalar ketimpangan yang ada di dunia pendidikan. Anggaran untuk program MBG sebenarnya bisa direalokasikan untuk pendidikan terutama kesejahteraan guru.

 

"Ini patut kita syukuri," ungkapnya.

 

Ia juga memperingatkan terkait kemungkinan tekanan terhadap sikap kritis Arsya dari pihak-pihak tertentu, seperti dinas pendidikan, pemda setempat hingga militer.

 

"Saya yakin guru-gurunya akan melindungi, mereka sayang pada ananda Maulidi. Namun mungkin merasa anak didiknya akan terancam, maka barangkali akan mencoba menenangkannya," ungkapnya.

 

Ia mengungkapkan, apabila dalam beberapa hari ke depan muncul ucapan permintaan maaf dari Arsya atau postingan surat bernada kritik tersebut dihapus, berarti telah ada semacam intimidasi. Ia meyakini, intimidasi tersebut bukan berasal dari guru-guru Arsya, namun dari pihak lain yang berkepentingan.Ā 

 

"Kalau ini betul terjadi, publik sudah tahu siapa yang patut dicurigai membungkam suara kritis siswa, mencoba membungkam analisis jernih siswa," paparnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang