Tokoh Cakrawala Fikrah Tokoh Nahdlatul Ulama

Oman Fathurahman: Filolog Santri hingga Peraih Habibie Prize

NU Online  ·  Jumat, 20 Februari 2026 | 16:30 WIB

Oman Fathurahman: Filolog Santri hingga Peraih Habibie Prize

Screenshot Prof. Oman dalam Ngariksa TV.

Nama Oman Fathurahman menempati posisi penting dalam dunia filologi dan studi manuskrip Nusantara. Di kalangan akademik, ia dikenal tidak hanya sebagai guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi juga peneliti yang membuka kembali suara teks-teks klasik. Dari kerja sunyi membaca naskah lama, lahir kontribusi ilmiah yang luas, berpengaruh, dan membentuk arah baru kajian manuskrip Indonesia.


Seorang Santri

Jauh sebelum dikenal sebagai akademisi filologi terkemuka, sekitar 39 tahun lalu, Oman adalah seorang santri yang menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Ia belajar di Pondok Pesantren Cipasung, lalu melanjutkan nyantri di Pesantren Haurkuning Salopa dan Pesantren Miftahul Huda di Tasikmalaya, Jawa Barat. Lingkungan ini membentuk disiplin belajar, ketahanan hidup, serta fondasi keilmuan keislaman yang kelak memengaruhi arah studinya.


Pada 1987, ia mencoba melangkah ke pendidikan tinggi dengan mendaftar ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (sekarang UIN Sunan Gunung Djati Bandung) melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Secara akademik peluang itu terbuka, tetapi realitas ekonomi keluarga menjadi penghalang. Orang tuanya menilai biaya lanjutan kuliah tidak akan sanggup ditanggung.


Ia mengenang ucapan ayahnya yang sangat membekas dalam pidato pengukuhan guru besar pada 2 Maret 2014 di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: “Masuknya memang gratis”. Ujar Bapak saat itu, “Tapi dari mana nanti Bapak membayar uang SPP-nya? Pokoknya Bapak hanya akan bekerja keras untuk menyekolahkan kesembilan anak sampai tingkat SMA, setelah itu terserah masing-masing”, begitu kata Bapak setengah bersumpah, kenang Oman.


Kehidupan pesantren yang ia jalani juga jauh dari kenyamanan. Fasilitas terbatas membuat para santri terbiasa mandiri. Oman termasuk yang merasakan langsung ritme hidup sederhana itu. Setiap pekan, ia harus mencari kayu bakar untuk kebutuhan dapur selama seminggu. Rutinitas ini melatih ketekunan yang menempa daya tahan dan fokus jangka panjangnya kelak.


Karier Akademik

Perjalanan akademik Oman tidak dimulai dari kampus, tetapi dari keberanian merantau. Pada 1988 ia berangkat ke Jakarta dengan modal tekad. Cita-cita kuliah belum langsung tercapai. Realitas menempatkannya sebagai pedagang asongan rokok yang berjalan kaki di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Selama masa awal itu, ia menumpang tinggal di rumah kerabat dan menata langkah hidup secara bertahap dan disiplin.


Hingga akhirnya hasil penjualan rokoknya terkumpul sebesar 1.500 (seribu lima ratus) rupiah, ditambah dari hasil menitipkan permen di warung-warung, termasuk bekerja sebagai buruh pabrik dan percetakan. Uang senilai itu menjadi pintu masuk ke pendidikan tinggi. Ia mendaftar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN) dan diterima di Fakultas Adab dan Humaniora. Selama kuliah, kebutuhan hidup tetap ditopang oleh kerja sampingan sebagai penjual kacamata di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.


Selepas sarjana, jalur akademiknya mulai ditopang oleh lembaga riset. Ia meraih beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara dan École française d’Extrême-Orient untuk studi magister filologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada 1998. Kesempatan berikutnya datang melalui beasiswa Indonesian International Education Foundation yang membawanya ke jenjang doktoral pada 2003, tetap dalam bidang filologi yang sama dan konsisten.


Fokus keilmuannya mengerucut pada filologi dan studi naskah Islam Nusantara. Ia menaruh perhatian pada manuskrip berbahasa Arab, Melayu, Sunda, dan Jawa. Pendekatannya tidak hanya deskriptif, tetapi juga kontekstual dengan menghubungkan teks, jaringan ulama, serta transmisi intelektual. Bidang ini kemudian menjadi ciri utama kontribusi akademiknya dan membentuk reputasinya di lingkungan kajian pernaskahan dan sejarah intelektual Islam kawasan.


Peran kelembagaan juga menonjol dalam kariernya. Pada 2008–2016 ia menjabat Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), memperkuat kolaborasi peneliti manuskrip. Ia turut menjadi penyunting jurnal internasional Studia Islamika terbitan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Selain itu, ia pernah dipercaya sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada periode 2014–2015 dengan mandat penguatan akademik.

 

Ia juga pernah menjadi Staf Ahli Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi (2017-2021) di Kementerian Agama. Pada Desember 2019 hingga Oktober 2021, ia diangkat sebagai Juru Bicara Kementerian Agama dan sempat menjabat sebagai Pelaksana Tugas Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama (Oktober 2020-Maret 2021). Saat ini, juga diamanahi sebagai pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok yang didirikan oleh K.H. Achmad Sjaichu.

 

Jejaring internasionalnya dibangun lewat sejumlah fellowship dan posisi tamu. Ia menjadi peneliti tamu Alexander von Humboldt Stiftung di Cologne University (2006–2008), penerima Chevening Fellowship di Oxford (2010), serta visiting professor di TUFS Tokyo, Kyoto University, dan Osaka University dalam beberapa periode. Rangkaian pengalaman ini memperluas jangkauan risetnya sekaligus menempatkannya dalam percakapan global studi manuskrip.

 

Bersama timnya, ia juga berkontribusi dalam pelestarian manuskrip melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA).

 

DREAMSEA merupakan program pelestarian manuskrip Asia Tenggara melalui repositori digital untuk naskah yang terancam atau terdampak kerusakan. Program ini dijalankan oleh PPIM UIN Jakarta bersama CSMC Universitas Hamburg, dengan dukungan filantropi Arcadia, London. Fokusnya mendigitalisasi manuskrip berbagai aksara dan bidang ilmu dari seluruh Asia Tenggara agar isi dan keragaman pengetahuan tetap terjaga serta dapat diakses oleh peneliti.

 

Meraih Habibie Prize

Pengakuan tertinggi atas kerja intelektual Oman datang saat ia menerima Habibie Prize 2023 pada bidang filsafat, agama, dan budaya. Penghargaan ini diberikan bagi ilmuwan Indonesia yang kontribusinya dinilai berdampak nyata bagi perkembangan ilmu dan kemajuan bangsa. Anugerah tersebut diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Yayasan SDM IPTEK sebagai penegasan mutu serta relevansi karya ilmiah.

 

Habibie Prize dikenal sebagai salah satu penghargaan paling bergengsi di ranah ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia. Penerimanya dipilih melalui proses seleksi ketat berbasis rekam jejak, orisinalitas gagasan, dan dampak keilmuan. Dalam konteks ini, capaian Oman berasal dari akumulasi riset, pengembangan metode, serta kontribusi berkelanjutan pada studi manuskrip dan tradisi intelektual Nusantara lintas bahasa dan disiplin.

 

Salah satu fondasi yang mengantar pada penghargaan tersebut adalah rumusan pendekatan yang ia sebut sebagai “Filologi Plus.” Ia mengkritik praktik filologi lama yang cenderung berhenti pada transliterasi dan terjemahan teks manuskrip. Menurutnya, pola itu membuat teks diperlakukan hanya sebagai objek bahasa, bukan sebagai sumber pengetahuan yang hidup. Akibatnya, dimensi sosial, intelektual, dan historis dari manuskrip sering terabaikan.

 

Filologi Plus mendorong pembacaan teks dengan perangkat lintas disiplin. Teks tidak hanya disunting dan diterjemahkan, tetapi juga ditempatkan dalam konteks produksi, penggunaan, dan dampaknya. Konsep ini menggabungkan filologi dengan sejarah, studi Islam, antropologi, sosiologi, hingga kajian media, kesehatan, dan gender. Pendekatan ini memperluas fungsi teks sebagai sumber data untuk membaca praktik pengetahuan dan budaya masyarakat.

 

Dalam pidato penerimaan penghargaan tersebut, Oman menekankan pentingnya perhatian publik dan negara terhadap filologi serta khazanah manuskrip. Ia berharap kajian naskah dan kebudayaan tidak dipinggirkan, tetapi dijadikan salah satu rujukan dalam perumusan kebijakan. Tegasnya, tanpa membaca warisan teks secara serius, arah pengembangan pengetahuan dan identitas budaya mudah kehilangan pijakan historisnya.

 

Walhasil, kisah Oman Fathurahman menegaskan bahwa jalan ilmu tidak selalu dimulai dari kemudahan, tetapi dari ketekunan yang panjang dan arah yang jelas. Dari bilik pesantren hingga panggung penghargaan nasional, ia menunjukkan bahwa manuskrip atau naskah klasik bisa melahirkan gagasan baru. Warisan intelektual tidak cukup disimpan, tapi harus dibaca, diteliti, dan dihidupkan kembali. Wallahu a’lam.


 
Muhamad Abror, pegiat filologi Ciputat dan dosen Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang