Tokoh Cakrawala Fikrah Tokoh Nahdlatul Ulama

Prof. KH Saifuddin Zuhri, Sang Antropolog NU

NU Online  ·  Rabu, 18 Maret 2026 | 20:00 WIB

Prof. KH Saifuddin Zuhri, Sang Antropolog NU

Prof. KH Saifuddin Zuhri, Sang Antropolog NU

Rasanya tidak berlebihan jika kita menyebut KH Saifuddin Zuhri sebagai seorang antropolog dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Beberapa karyanya dalam bentuk buku dan berbagai artikel yang tersebar di berbagai media massa, menjadi penanda kesahihan sebutan tersebut.

 

Antropolog merupakan sebutan untuk ahli antropologi. Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akan ditemukan kata antropologi yang bermakna ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.

 

Beberapa karya Kiai Saifuddin seperti Berangkat dari Pesantren, Guruku Orang-orang dari Pesantren, Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Palestina dari Zaman ke Zaman, dan yang lainnya menjadi bukti keseriusannya dalam mengamati berbagai hal mengenai keragaman manusia dari berbagai aspek, terutama dalam konteks dunia pesantren.

 

Selain dibekali ingatan yang kuat, Kiai Saifuddin juga rajin mencatat berbagai hal yang ia alami maupun dunia luar yang ia amati, mulai dari masa kecilnya hingga ia berusia senja. Bagi Kiai Saifuddin, seakan tidak ada kata libur untuk terus menulis. Bahkan, pada masa sakit pun ia masih tetap menulis.

 

Setahun menjelang wafat atau sekitar tahun 1985, ia berhasil menyelesaikan tulisannya yang kemudian dibukukan dengan judul Berangkat dari Pesantren. Pada kalimat pengantar ia menuliskan tantangannya dalam menulis di usia yang tak lagi muda dan badan tak lagi sehat:

 

"Tentu saja, aku harus senantiasa menyadari bahwa kemampuanku menulis tidak lagi sekuat dulu, sebelum aku sakit. Selama ini, setiap kali menulis karangan, baik artikel surat kabar, majalah maupun yang bersifat makalah, aku menempuh sistem yang dalam dunia jurnalistik disebut persklaar yaitu sistem sekali jadi, meletakkan kertas folio 2 atau 3 lembar bersama karbon pada mesin tulis, lalu diketik seketika itu menjadi karangan yang siap jadi. Kini cara tersebut belum mungkin aku lakukan kembali... Tetapi kini karena kondisi kesehatanku, menulis rancangan dengan tangan itu terpaksa aku tempuh," (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. xi).

Riwayat Singkat

 

Dalam halaman biodata penulis buku Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU (Yogyakarta, Pustaka Pesantren: 2010) diterangkan Prof KH Saifuddin Zuhri dilahirkan di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah pada 1 Oktober 1919. Ayahnya H Muhammad Zuhri dan Ibunya Saiti Saudatun, cucu dari Kiai Asroruddin, seorang ulama pemimpin pesantren yang berpengaruh di daerah tersebut pada zamannya.

 

Semasa kecil ia tinggal di sebuah kampung yang warganya taat dalam memegang ajaran agama Islam. Di kampung halamannya, pendidikan agama seperti mengaji yang diselenggarakan di kompleks masjid dan langgar-langgar. Selain itu ia juga bersekolah di di MI Manbaul Ulum (SD).

 

Pada saat duduk di bangku kelas tiga tingkat dasar, ia ingin masuk Madrasah Al-Huda NU. Hal tersebut sangat diinginkan dengan berbagai upaya dilakukan agar ayahnya sungguh-sungguh mendaftarkannya di madrasah itu. Di sekolah tersebut, ia mengenal Ustadz Mursyid dan guru-guru lainnya yang banyak menginspirasi dalam kehidupan Saifuddin Zuhri.

 

Lulus dari Madrasah Al-Huda NU, beberapa waktu kemudian, Saifuddin yang telah berusia 18 tahun merantau ke Kota Surakarta untuk belajar di Madrasah Mambaul Ulum dan Madrasah Tsanawiyah Al-Islam Surakarta. Di Kota Bengawan tersebut, ia juga mengaji ke beberapa ulama di antaranya KH Imam Ghozali, KH Masyhud Keprabon, dan lain-lain.

 

Saifuddin Zuhri memiliki rasa ingin tahun yang sangat besar. Di Kota Solo, ia juga belajar berbagai kursus, seperti kursus jurnalis dan Verkooper. Menurutnya, penting bagi seorang pendakwah untuk bisa mencari pemasaran buat menghidangkan Islam kepada masyarakat. Harus mengerti kondisi masyarakat, jiwa masyarakat, organisasi, pendekatan, dan sopan santun. Ia juga kerap menghadiri acara-acara penting yang diselenggarakan tokoh-tokoh pergerakan di sana.

 

Secara tidak langsung, berbagai pengalaman ini membuat mentalnya menjadi semakin matang dan terasah. Ketika ia pulang kembali ke Banyumas, ia memutuskan untuk aktif di wadah Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Kemudian Nadhlatul Ulama (NU), mulai dari tingkat paling bawah hingga ia menjadi Sekretaris Umum dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

 

Dengan kecakapan yang ia miliki, KH Saifuddin Zuhri juga dipercaya untuk mengemban beberapa posisi penting. Termasuk pada saat masa perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, ia dipercaya menjadi salah satu Komandan Pasukan Barisan Hizbullah di Jawa Tengah.

 

Pada momen Pemilu 1955,  KH Saeifuddin Zuhri terpilih menjadi anggota Konstituante RI dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Kemudian pada tahun 1962-1967, ia mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI. Ketika NU fusi dalam PPP, ia menjadi Ketua DPP PPP. Berbagai amanah tersebut menjadi bukti pengakuan akan kemampuannya. 

 

Pada saat momen pengangkatan KH Saifuddin Zuhri sebagai Menag RI, Presiden Sukarno berkata:

 

"Saudara adalah bukan saja tokoh dalam masyarakat agama Islam.. Saudara adalah pula tokoh bangsa Indonesia seluruhnya yang memang sejak saudara muda sampai sekarang berjasa dalam segala perjuangan daripada bangsa Indonesia itu," (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. 633)

 

Hidup untuk Kebaikan

 

KH Saifuddin Zuhri cukup beruntung dapat menyaksikan peristiwa besar dalam hidupnya, mulai dari zaman kolonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak hanya menyaksikan, tetapi ia juga menjadi bagian penting dalam momen-momen bersejarah bangsa ini.

 

Hal yang ia lakukan dalam hidupnya, banyak diisi untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Karakter ini tentu selaras dengan ajaran agama agar memanfaatkan umur untuk hal kebaikan dan kebermanfaatan. 

 

Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Al-Qur'an:

 

   إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

 

Artinya: ”Sungguh rahmat Allah dekat dengan orang orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al A'raf : 56)

 

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad saw juga bersabda:

 

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

 

Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya," (HR Ahmad).

 

Dalam kehidupan KH Saifuddin Zuhri, tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga mewariskan kebaikan tersebut, di antaranya dengan mencatat pengalaman ketika bertemu dengan sejumlah tokoh besar bangsa ini, terutama para ulama. Sehingga, dari pengalaman yang ia catat tersebut, generasi berikutnya dapat meneladani kebaikan dari para ulama tersebut.

 

Seperti ketika ia menuliskan pengalamannya saat sowan kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dan putranya, KH A Wahid Hasyim, di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia menuliskan gambaran sifat Hadratussyekh KH Hasyim Asyari:

 

"Selama Hadratussyekh bercakap dengan putranya, aku amat terpesona akan profil ulama besar ini. Usianya ketika itu (tahun 1940), mendekati 70 tahun.. Bicaranya amat jelas sejelas sasarannya. Sikapnya ramah tamah, air mukanya jernih dan selalu menyenangkan hati para tamunya. 

 

Tak jarang Hadratussyekh melayani sendiri para tamunya dengan membawa makanan dan minuman yang dihidangkan, meski ada khadam (pelayan) khusus yang melayani sang tamu. Sikapnya terhadap sesama ulama pun sangat hormat, sekalipun kepada yang lebih muda. Tidak jarang, kepada ulama yang sebaya usianya, apalagi kepada yag lebih tua, ia menganggapnya sebagai guru," (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. 202)

 

Pun ketika ia menuliskan karakter sejuk dari KH A Wahab Hasbullah, di mana sebagai tokoh nasional maupun tokoh NU, ia kerap mendapatkan kritikan dan bahkan ejekan:

 

"Kami, para pengikut serta pendukungnya, kadang-kadang juga kemropok (panas).. Tapi Kiai Wahab tenang saja, sedikit pun tidak terpengaruh. Jiwanya sangat besar.. Waktu ditanya: Apakah Kiai Wahab tidak marah?" Jawabnya: "Tidak! Ada orang yang jauh lebih mulia dan utama dari saya, dicaci maki bahkan dikatakan gila, tetapi tidak marah, bahkan mendoakan baik.  Orang itu adalah Rasulullah saw. Apalah saya, toh orang yang membenci saya belum menuduh saya gila!" (KH Saifuddin Zuhri, Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU [Yogyakarta, Pustaka Pesantren: 2010], hal. 143).

 

Demikianlah, sekelumit mengenai riwayat Prof. KH Saifuddin Zuhri, sang antropolog NU yang namanya kini diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Purwokerto Jawa Tengah. Ia wafat pada 25 Februari 1986 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Semoga kita dapat meneladani kebaikannya. Lahu al-fatihah.


----------------
Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang