Nyai Nur Khodijah: Nasab, Karakter, dan Perjuangan
NU Online · Rabu, 25 Maret 2026 | 12:01 WIB
Yusuf Suharto
Kolomnis
Sosok Bu Nyai Nur Khodijah selama ini kurang banyak ditulis, baik berupa buku, artikel, apalagi jurnal. Menjadi wajar ketokohan beliau sementara ini hanya dinikmati oleh kalangan keluarga, santri dan alumni Pesantren Denanyar. Memang pernah ditulis, tapi sekilas saja dan biasanya menjadi sub bagian dari artikel, jurnal dan buku tentang suami beliau, yaitu KH Bisri Syansuri, atau berkenaan dengan salah satu putri beliau, yaitu Nyai Sholihah Bisri yang merupakan ibu dari KH Abdurrahman Wahid. Jadi, Bu Nyai Nur Khodijah adalah nenek dari salah satu presiden Indonesia, Gus Dur.
Tahun 2019, ada seorang mahasiswa bernama Tika Ramadhini, kandidat doktor bidang sejarah di salah satu kampus Jerman, sedang menyelesaikan disertasinya tentang perempuan Indonesia di Makkah abad ke-20. Nyai Nur Khodijah Denanyar dan Nyai Khoiriyah Hasyim Tebuireng adalah di antara sosok ulama perempuan yang sedang dicari datanya. Ia pergi ke Jombang, menemui beberapa narasumber yang relevan. Sayangnya, ketika itu walau peneliti ini tinggal di Jombang sekitar satu bulan, dia belum banyak menemukan data yang dibutuhkannya.
Di dalam lingkungan pesantren Denanyar, guru Madrasah Aliyah Mamba’ul Ma’arif (MAMM), Ustadz Mahfudz, suatu saat memberitahu kami bahwa di Ndalem Kasepuhan belakang ada dokumen, manuskrip dan kitab-kitab Mbah Bisri Syansuri, yang akhirnya kami telisik informasi itu pada 24 Juni 2022. Setelah beberapa kali kami mencoba mengurai isi rak buku itu, kami kemudian melaporkan kepada Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, dan kami diminta oleh beliau untuk menyimpan aneka arsip yang relevan untuk kami simpan sementara.
Pada 12 Mei 2022, karena ada kabar tentang narasumber dari Perak Jombang yang bisa bercerita tentang Nyai Nur Khodijah, kami bersama Ainur Rofiq, pergi menemui Pak Choirul Fatihin. Akhina Ainur Rofiq berkepentingan hendak mencocokkan bagian dari buku “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah”, dan kami hendak mendengar cerita tentang perjuangan para kiai dan terutama tentang KH Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khodijah.
Sebelum pelaksanaan Sarasehan "Bu Nyai Inspiratif" pada Sabtu, 21 Januari 2023, beberapa dzuriyah putri KH Bisri Syansuri-Nyai Nur Khodijah sowan-sowan ke beberapa Bu Nyai dan alumni sepuh yang merupakan murid dari Nyai Nur Khodijah untuk menggali data tentang Bu Nyai Nur Khodijah. Memang dari sekian haul, baru pada tahun 2023 itu keluarga Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang menggelar acara khusus sarasehan tentang Bu Nyai Nur Khodijah (1897-1955). Yayasan kemudian mengadakan pertemuan tim penulis yang terdiri dari beberapa alumni dan dzuriyah KH Bisri Syansuri-Bu Nyai Nur Khodijah. Sebelum pertemuan itu kami membuat rancangan artikel tentang Bu Nyai Nur Khodijah. Hasil diskusi itulah yang kemudian menjadi tulisan tiga belas halaman tentang Bu Nyai Nur Khodijah, dan dibagikan kepada para undangan sarasehan.
Para Bu Nyai, yaitu Nyai Dr. Hj. Masriatin Aziz, Nyai Farida Shalahuddin Wahid, Nyai Halimah Ahmad, Nyai Lathifah Shohib, Nyai Muniroh Iskandar, dengan moderator Ketua Umum Fatayat, Margaret Aliyatul Maimunah, menyampaikan beberapa fragmen Nyai Nur Khodijah, pendiri Pesantren Putri pertama di Indonesia. Dalam sarasehan itu juga diputar video wawancara dzuriyah Mbah Bisri Syansuri kepada narasumber alumni yang merupakan santri langsung dari Bu Nyai Nur Khodijah.
Dalam sarasehan itu, Nyai Masriatin Aziz Bisri dan Nyai Lathifah Shohib Bisri menekankan perlunya dibuat tim penulis buku biografi Nyai Nur Khodijah yang berjasa besar dalam pendidikan santri putri. Alhamdulillah akhirnya Tim Pegiat Sejarah berhasil membuat buku berjudul “Nyai Nur Khodijah Perintis Pesantren Putri Indonesia" itu pada November 2023, dan cetakan kedua pada Juni 2024. Pada November 2024, Tim Pegiat Sejarah juga berhasil menerbitkan buku “Pondok Denanyar Sejarah, Makna dan Keteladanan”, yang di antara isinya juga memuat bab tentang Bu Nyai Nur Khodijah. Kali pertama juga, ada disertasi tentang Bu Nyai Nur Khodijah yang ditulis salah seorang Tim Pegiat Sejarah Denanyar, atas nama Atik Masfiah pada 2024, dengan terutama memanfaatkan secara maksimal manuskrip dan dokumen tentang Bu Nyai Nur Khodijah yang sebelumnya disimpan di Ndalem Kasepuhan Denanyar, dan hasil Sarasehan Bu Nyai Inspiratif.
Nasab, Kelahiran dan Ketokohan
Teka-teki tanggal, bulan dan tahun kelahiran Bu Nyai Nur Khodijah selama ini menjadi misteri, karena belum ditemukan data secara tertulis dalam artikel, jurnal atau buku yang mengkaji pesantren atau Biografi Kiai Bisri Syansuri. Pada awal Ramadhan 1444 Hijriah yang bertepatan dengan 24 Maret 2023, ketika kami sedang membaca ulang buku “Biografi KH Bisri Syansuri” yang terbit awal pada 2014 dengan penulis utama Hilmy, ternyata ada dokumen ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) dari “Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa”, yang mencantumkan informasi tanggal, bulan dan tahun kelahiran KH Bisri Syansuri, Bu Nyai Nur Khodijah, dan para putra putri beliau. Buku tersebut menyebutkan kelahiran Kiai Bisri Syansuri, dan para putra putrinya, tetapi teralpa menyebut kelahiran Bu Nyai Nur Khodijah. Menariknya, keterangan lahir itu ditulis dalam versi tahun hijriah.
Dokumen itu menyebut bahwa Nyai Nur Khodijah, lahir di dusun Tambakberas, desa Tambakrejo Jombang, pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah, yang jika dikonversikan ke tahun masehi bersesuaian dengan Selasa, 23 Februari 1897 Masehi. Masa kecil beliau tinggal di Pesantren Tambakberas Jombang. Orang tua Nyai Nur Khodijah adalah Kiai Hasbullah Said dan Nyai Lathifah. Pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah ini dikaruniai delapan putra-putri, yaitu Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrochim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah. Dengan demikian, Bu Nyai Nur Khodijah adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.
Ibunda Nyai Nur Khodijah, yakni Nyai Lathifah berasal dari Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Sedangkan Kiai Hasbullah Said merupakan penerus Pesantren Tambakberas Jombang yang didirikan oleh Mbah Kiai Abdussalam (Mbah Sekhah). Selanjutnya Pondok Pesantren Tambakberas Jombang dikelola oleh Kiai Said dan Kiai Usman. Setelah Kiai Said wafat, pengelolaan pesantren diserahkan kepada Kiai Hasbullah Said yang lahir pada tahun 1850. Kemudian kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh kakak sulung Bu Nyai Nur Khodijah, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah (1887-1971) yang kemudian menggagas nama pesantren itu menjadi Bahrul Ulum yang bermakna lautan ilmu.
Telah masyhur cerita bahwa ketika Nyai Lathifah Tawangsari Surabaya hendak disunting Kiai Hasbullah Gedang Tambakberas, mahar yang beliau pinta kepada Kiai Hasbullah adalah cukup mengkhatamkan Al-Qur’an di makam Wali Songo. Padahal ketika itu konon ada seorang pengusaha dari Perak Jombang yang bernama Mbah Rantiman siap membantu kebutuhan mahar. Demikian kisah yang disampaikan Khoirul Fatihin, Cicit Mbah Rantiman, ketika penulis temui dalam wawancara di rumah beliau pada 12 Mei 2022. Beliau bisa bercerita demikian, karena ibundanya yang bernama Hj. Mas’ah adalah santri langsung Bu Nyai Nur Khodijah, pendiri Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang.
Ketokohan Bu Nyai Nur Khodijah juga tak lepas dari riyadhah atau tirakat yang dilakukan dirinya dan orang tuanya. Jika Nyai Winih (Halimah) yang merupakan ibunya Kiai Hasyim Asy’ari adalah ahli tirakat, demikian juga Ibunda Nyai Nur Khodijah yang bernama Nyai Lathifah juga dikenal sebagai ahli tirakat.
Kebesaran seorang tokoh dilihat dari karya hidup kemanfaatannya di masyarakat. Demikian juga sosok Bu Nyai Hj. Nur Khodijah yang sedang kita kaji bersama ini adalah sosok seorang tokoh besar. Sampai-sampai Rais ‘Aam PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramah Haul KH Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khodijah berpendapat bahwa jasa pendiri pesantren putri pertama di Indonesia ini tak kalah dengan jasa perjuangan membela perempuan yang ditorehkan Raden Ajeng Kartini Jepara. Bermakna ketokohan dua pasangan pengasuh pesantren Denanyar ini, khususnya Nyai Nur Khodijah adalah sangat besar, dan harus menjadi tonggak kenangan yang diteruskan para anak bangsa. Ketua Umum Fatayat, Margaret Aliyatul Maimunah juga senada dengan Gus Mus, menyatakan bahwa jasa Bu Nyai Nur Khodijah setara dengan RA Kartini, dalam memperjuangkan nasib pendidikan perempuan, terutama dalam konteks pendidikan pesantren.
Rasanya tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa di kalangan ulama pendiri Nahdlatul Ulama, ada tiga tokoh besar yang menggiatkan NU dan masyarakat, yaitu KH Hasyim Asy’ari (1871-1947), KH Wahab Chasbullah (1887-1971), dan Kiai Bisri Syansuri (1887-1980), maka di kalangan ulama perempuan ada sosok besar, Nyai Nur Khodijah. Secara jalur nasab, Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng dengan Bu Nyai Nur Khodijah adalah sama-sama cicit Kiai Sekhah, pendiri Pesantren Tambakberas pada 1825. Jika ditarik ke atas nasab beliau berdua bersambung terus hingga ke Sunan Ampel dan Syekh Ibrahim Samarkand.
Mencari Ilmu, Haji, dan Menikah
Nur Khodijah hidup di lingkungan pesantren yang kental dengan semangat belajar keagamaan. Masa kecilnya dihabiskan untuk mempelajari agama dari kedua orang tuanya yang ahli agama. Setelah dirasa cukup pendidikan keagamaan yang diperoleh dari lingkungan terdekat, sebagai bagian keluarga kiai terpandang dan berkecukupan Nur Khodijah berkesempatan bermukim di Mekah, menimba ilmu kepada para ulama sekaligus beribadah haji, ditemani ibundanya pada tahun 1914.
Pada masa belajar di Makkah itu, dan atas inisiatif kakaknya yang bernama Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Nur Khodijah yang ketika itu berusia sekitar tujuh belas tahun kemudian menikah dengan Kiai Bisri Syansuri yang mulai menetap belajar di Mekah sejak 1911 atau 1912, dan pada 1914 berusia sekitar 27 tahun. Pada tahun yang sama pula, kedua pasangan pengantin muda ini kemudian kembali ke tanah air. Dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan calon pasangan pengasuh pesantren yang tangguh itu hingga kemudian pada 1917, mendirikan pesantren putra di desa Denanyar.
Dari pernikahan dengan paut usia sepuluh tahun tersebut, Nyai Hj. Nur Khodijah mendapatkan enam keturunan yang hidup hingga dewasa, yaitu Ahmad Athoillah, lahir pada 18 Juni 1916 (17 Sya’ban 1334 H); Muasshomah, lahir pada 06 Juli 1921 (29 Syawal 1339 H); Sholihah, lahir pada 19 Desember 1923 (11 Jumadil Awal 1342 H); Musyarofah, lahir pada 31 Desember 1925 (15 Jumadil Akhir 1344 H); Muhammad Ali Ashab (Ali Abdul Aziz), lahir pada 03 Agustus 1929 (27 Safar 1348 H); dan Muhammad Shohib, lahir pada 21 November 1932 (23 Rajab 1351).
Menggagas Pesantren Putri Pertama
Sebelum ada Pesantren yang dirintis Nyai Nur Khodijah bersama Kiai Bisri, desa Denanyar merupakan daerah yang rawan keamanan, rawan susila, dan minus kesejahteraan, dibuktikan bahwa di sekitar Denanyar sekitar tahun tersebut terdapat pabrik minuman keras.
Pesantren Mambaul Ma’arif berdiri pada 1917, di kala usia Kiai Bisri dan Nyai Nur Khodijah ketika itu masih terbilang muda, yakni 30 tahun, dan Bu Nyai Nur Khodijah berusia 20 tahun. Lokasinya strategis, kurang lebih dua kilometer dari arah barat kota Jombang. Di sebelah timur pondok terdapat pasar dan pabrik gula peninggalan Belanda. Sedangkan di sebelah utara dan barat, berupa hamparan sawah serta perkebunan yang subur. Mata pencaharian masyarakat sekitar umumnya bertani, berdagang di pasar, dan buruh pabrik.
Pada tahun pendirian Pesantren Denanyar itu adalah bagian tahun keemasan bangkitnya masyarakat muslim di Nusantara yang terjadi terutama pada era 1910-an hingga 1920-an. Muhammadiyah lahir pada 1912, dan Nahdlatul Ulama lahir pada 1926.
Pesantren pada mulanya memang ditujukan untuk santri putra. Sementara itu generasi putri ketika itu mendapatkan pendidikan keagamaan di lingkungan terdekat, yaitu di rumah masing-masing, mendatangkan atau mendatangi pengajar khusus, seperti yang bisa dilihat dari cara belajar RA Kartini kepada Kiai Sholeh Darat.
Adalah Nyai Nur Khodijah dan Kiai Bisri Syansuri yang pada 1919 mengagas pendirian Pesantren Putri di Denanyar, sebagai bagian di antara tanda kebangkitan masyarakat Muslim dalam zaman itu yaitu dengan diterimanya santri putri untuk kali pertamanya di Indonesia, dengan menampung dan membimbing putri-putri anak tetangga di beranda belakang Ndalem Kasepuhan. Kiai Aziz Masyhuri dalam buku “Biografi KH Bisri Syansuri” menyatakan, “Perlu diingat, bahwa Pondok Putri Denanyar adalah merupakan satu-satunya pondok putri yang ada pada masa itu.”
Pesantren Putri Denanyar ini sangat terkenal sebagai pesantren yang mendidik para perempuan agar menjadi insan bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Pada mulanya sasaran dakwah Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif adalah kaum perempuan di sekitar pondok, dan kerabat pesantren sekitar, dan belum menjangkau sampai ke luar daerah.
Di antara murid Nyai Nur Khodijah adalah para keponakan beliau sendiri, antara lain putri kakaknya, KH Abdul Wahab Chasbullah, yaitu Mu’tamaroh, dan Mahfudhoh, juga tentu saja tetangga dekat di Denanyar antara lain Asma’, dan santri sekitaran Jombang, misalnya Perak, Banjardowo dan Jombang kota. Ibunya istri Gus Dur, yaitu Nyai Shinta Nuriyah termasuk muridnya Nyai Nur Khodijah generasi awal.
Jika pada 1919-1921 santri putri Denanyar terbatas pada para tetangga sekitar Denanyar, maka mulai tahun 1921 penerimaan para santri putri lebih merata secara terbuka dari berbagai daerah, yang pada 1930 kemudian resmi didirikan Madrasah Diniyah Putri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar.
Pesantren Mamba’ul Ma’arif menjadi pelopor pendidikan perempuan di pesantren yang berupaya menjangkau lebih banyak perempuan dan tidak terbatas pada kelas elite. Pada awalnya pesantren putri dianggap oleh masyarakat sebagai hal yang kurang lazim, meskipun pada waktu itu sudah ada sekolah perempuan yang telah bermunculan di kota-kota besar. Sekolah formal dirintis oleh perempuan-perempuan yang di kemudian hari diikuti oleh banyak kalangan di berbagai penjuru Nusantara.
Keberadaan pesantren putri ini juga didasari oleh bakat Nyai Nur Khodijah dalam mengajar dan faktor keinginan beliau mendidik sesama kaum perempuan. Atas dukungan moril dari sang suami, beliau diberikan wewenang untuk mengelola dan memberikan pendidikan agama kepada para santri putri. Pesantren putri ini bertempat di beranda belakang rumah (ndalem kasepuhan). Para santri perempuan dibimbing untuk belajar agama dan kitab kuning sebagaimana santri laki-laki. Langkah tersebut sempat dianggap aneh oleh sebagian ulama pesantren sendiri, termasuk oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan juga guru Kiai Bisri.
Pada suatu hari sang guru datang untuk melihat perkembangan pesantren putri yang diasuh muridnya itu. Begitu beliau selesai melihat proses belajar mengajar santri putri, Kiai Hasyim Asy’ari pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Menurut riwayat, Kiai Hasyim Asy’ari tidak melarang maupun membolehkan. Dengan demikian Nyai Nur Khodijah dan Kiai Bisri tidak memperoleh izin secara spesifik dari sang guru. Beliau berdua memutuskan untuk melanjutkan terobosannya tersebut karena tidak ada larangan eksplisit dari gurunya. Selain itu, beliau juga merasa pendirian pesantren putri tersebut sangatlah penting, Nyai Nur Khodijah menganggap pesantren khusus putri didirikan karena kebutuhan zaman, dan hak pendidikan bagi kaum perempuan.
Tirakat Nyai Nur Khodijah
Bahwa dibalik kesuksesan suami ada doa dan dorongan istri, demikian juga dibalik kesuksesan istri ada doa dan dukungan suami. Nyai Nur Khodijah senantiasa mendoakan, mendukung, dan tirakatan untuk suaminya tercinta, KH Bisri Syansuri, dan para santrinya. Di antara dawuh Bu Nyai Nur Khodijah yang diingat keluarga besar pondok Denanyar dan santri adalah, “Tirakatmu menentukan masa depan suamimu.”
Salah seorang cucu Nyai Nur Khodijah, yaitu Nyai Muhassonah menceritakan bahwa perilaku keseharian neneknya itu terbilang sederhana dan penuh tirakat, antara lain dengan mengonsumsi makanan dalam porsi yang sedikit, dan melaksanakan amalan-amalan keagamaan secara istiqamah. Hal demikian berbuah keistimewaan, antara lain apabila beliau memiliki hajat atau keinginan, banyak dikabulkan oleh Allah, demikian diceritakan pengasuh Asrama Nur Khodijah 3 ini dalam bedah buku “Biografi KH Bisri Syansuri pada 2014 di Auditorium KH Bisri Syansuri, dan dinyatakan kembali melalui putri beliau bernama Bu Nyai Muniroh dalam Sarasehan Bu Nyai Inspiratif pada 2023 di Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif.
Salah seorang santri Bu Nyai Nur Khodijah, bernama Hj. Asma’ juga menceritakan beberapa amalan tirakat Nyai Khodijah yang diketahuinya ketika masih berada di pondok, di antaranya ialah Shalat Hajat, puasa Senin Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14 dan 15 Hijriah), surah al-Fatihah, surah al-Ikhlash, ayat Kursi, surah al-Baqarah ayat 284-286, shalat berjamaah dan riyadhah.
Salah seorang keponakan dan sekaligus santri Bu Nyai Nur Khodijah, yaitu Nyai Hj. Mahfudhoh menyebutkan amalan Nyai Nur Khodijah:
“Bahwa amalan Bek Aji itu shalawat Nariyah. Itu Bek Aji, wirid biasa. Bek Aji lebih menekankan pada Al-Qur'an, ya pokoknya membaca terus....”
Berikutnya Nyai Lathifah Shohib menyampaikan, “Salah satu yang diamalkan Mbah Nyai Nur Khodijah itu Burdah.” Diceritakan oleh Nyai Mu’tamaroh bahwa Nyai Nur Khodijah adalah sosok Nyai yang banyak fokus di pendidikan pesantren putri, dan jarang keluar, kecuali kebutuhan mendesak, misalnya ke Tambakberas.
Kisah lainnya tentang tirakat yang membawa keberhasilan ialah tercapainya hajat menjodohkan putrinya dengan Gus Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari. Dikisahkan bahwa Nyai Nur Khodijah memiliki impian agar dapat berbesan dengan KH Hasyim Asy’ari yang merupakan ulama besar pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus sebagai guru dari suaminya. Seketika itu, Kiai Bisri mengajak istrinya untuk bersama-sama melakukan riyadloh agar doa dan impian dapat terkabul karena beliau mendambakan keturunan yang saleh dan bernasab dengan ulama besar yang terkenal sangat alim.
Selain itu, pasangan Kiai dan Bu Nyai ini senantiasa ber-husnuudzan/berprasangka baik kepada Allah bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Ta’ala. Tirakat Bu Nyai Nur Khodijah demi mewujudkan mimpi memiliki dzurriyyatan toyyibah, di antaranya adalah memperbanyak waktu untuk berzikir, berdoa agar segala hajatnya terkabul, serta shalawat yang menjadi wirid andalan beliau. Terbukti Allah mengabulkan hajat hambanya yang salih dan ikhlas, bahwa salah satu putri Nyai Nur Khodijah yang bernama Nyai Sholihah kemudian menikah dengan KH Wahid Hasyim yang merupakan putra KH Hasyim Asy’ari.
Ibu Nyai Muhassonah menyampaikan salah satu ijazah (amalan) yang diterima langsung oleh beliau dari neneknya (Nyai Nur Khodijah) adalah Shalat Hajat:
“ijazahe iku Sholat Hajat petang roka’at. Dua kali salam. Roka’at pertama, Surah Ikhlash ping sepuluh, Roka’at kedua, Surah Ikhlash ping rongpuluh. Terus salam. Terus ngadek maneh. Roka’at ketiga, mari Fatihah, Surah Ikhlash ping telungpuluh, Roka’at keempat, Surah Ikhlash ping petangpuluh. Dadi kan jangkep peng satus. Roka’at pertama sepuluh, roka’at kedua rongpuluh, lak telungpuluh. Terus salam. Roka’at ketiga, telung puluh, suwidak. Roka’at keempat, petangpuluh. Dadi satus genep. Lak iso yo mben bengi solat bengi insya Allah hajate cepet dikabulne dening Allah. Usholli sunnatal hajati rok’ataini mustaqbilal qiblati ada’an lillaahi ta’aalaa. Iku seng tak lakoni sampek saiki.”
(Ijazahnya itu shalat Hajat empat rakaat. Dua kali salam. Rakaat pertama, Surah Ikhlas sepuluh kali, rakaat kedua, Surah Ikhlas dua puluh kali, lalu salam. Kemudian berdiri lagi. Rakaat ketiga, setelah Fatihah, Surah Ikhlas tiga puluh kali, rakaat keempat, Surah Ikhlas empat puluh kali. Jadi lengkap seratus kali. Rakaat pertama sepuluh, rakaat kedua dua puluh, jadi tiga puluh. Lalu salam. Rakaat ketiga, tiga puluh, enam puluh. Rakaat keempat, empat puluh. Jadi seratus. Kalau bisa ya setiap malam salat malam, insya Allah hajatnya cepat dikabulkan oleh Allah. Usholli sunnatal hajati rok’ataini mustaqbilal qiblati ada’an lillaahi ta’ala. Itu yang saya lakukan sampai sekarang).
Kewafatan Nyai Nur Khodijah
Dahulu di antara cara utama yang efektif untuk memeroleh data tentang kelahiran atau pernikahan adalah dengan metode patokan dari suatu peristiwa, misalnya dengan kaitan peristiwa gejala alam seperti gunung meletus, dan seterusnya. Sebelum ditemukan data bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada tahun 1955, masih berkembang informasi di masyarakat luar bahwa beliau wafat pada sekitar tahun 1949, 1952, 1953, 1958, bahkan ada yang menyatakan beliau wafat di tahun yang sama dengan Kiai Bisri Syansuri, yaitu 1980.
KH Aziz Masyhuri penulis buku “Al-Maghfurlah KH M. Bishri Syansuri” menyebutkan bahwa Bu Nyai Nur Khodijah wafat pada 1955, dan belum menyinggung tanggal dan bulannya. Sementara artikel terkait Bu Nyai Nur Khodijah juga masih sedikit dan juga belum ada yang menyentuh hal tersebut, bahkan beberapa tulisan lain keliru menghitung tahun kewafatan beliau. Alhamdulillah akhirnya pada 24 Juni 2022, baru kami temukan tanggal, bulan dan tahun persis kewafatan Bu Nyai Nur Khodijah, dari buku "Risalah Akhir Tahun" yang diterbitkan stensilan oleh Bagian Penerbitan Pesantren Mamba'ul Ma'arif.
Buku "Risalah Akhir Sanah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif" yang merupakan kumpulan artikel sekitar pesantren dan kegiatan pesantren yang terbit dalam rangka peringatan 100 Hari Wafatnya KH Bisri Syansuri menyebutkan secara jelas bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada 1955 dengan perhitungan tahun hijriah, tepatnya pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah. Hal ini bermakna jika dikonversikan ke hitungan masehi, beliau wafat pada Ahad, 15 Mei 1955 dalam usia 58 tahun, sementara Kiai Bisri Syansuri wafat pada 10 Jumadil Akhir 1440 Hijriah, atau Jumat, 25 April 1980 dalam usia 93 tahun. Sekitar 38 tahun, Nyai Nur Khodijah mendampingi Kiai Bisri Syansuri dalam kepengasuhan Pesantren Denanyar.
Di samping data tertulis tersebut bahwa Bu Nyai Nur Khodijah wafat pada 22 Ramadhan dengan tahun masehi 1955, ternyata ada versi tutur lisan yang berkembang di kalangan dzuriyah Pondok Denanyar, bahwa Bu Nyai Nur Khodijah wafat pada 24 Ramadhan sore, yang kemudian oleh Bu Nyai Nur Hamidah Ahmad, salah seorang cucu beliau, ditradisikan memperingati Haul Bu Nyai Nur Khodijah tiap malam 25 Ramadhan di ndalem Asrama Sunan Ampel, dalam kemasan kegiatan buka bersama yang mengundang segenap keluarga. Selepas kewafatan beliau, tradisi memperingati Haul Bu Nyai Nur Khodijah ini dilaksanakan di Ndalem Kasepuhan mulai tahun 2026 ini dengan hitungan Haul yang ke-74 versi tahun Hijriah, demikian informasi dari salah satu putri Bu Nyai Hamidah Ahmad, Ning Mazidatul Faizah.
M. Faishol, penelusur sanad foto tiga pendiri NU (KH Hasyim Asy’ari, KH A Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri), memberikan informasi yang diperoleh dari ibunya yang merupakan santri Bu Nyai Nur Khodijah, "Ini berdasar kesaksian ibu saya, bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya belum lahir (bernama Jamilah yang lahir pada Desember 1955). Meninggalnya Mbah Nyai Nur Khodijah itu pada ‘menjelang’ malam 25 Ramadhan, sore hari setelah Asar, saat sedang menyiapkan untuk berbuka puasa. Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955."
Yusuf Suharto, Pegiat Sejarah; Mudir Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif
Terpopuler
1
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
2
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
3
Momen Warga Aceh saat Hendak Tabarrukan Idul Fitri dengan Mustasyar PBNU Abu MUDI
4
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
5
Kerugian Terbesar Seorang Muslim: Punya Waktu Luang tapi Tak Mendekat kepada Allah
6
Ribuan Paket Bantuan NU untuk Warga Palestina pada Ramadhan 1447 H
Terkini
Lihat Semua