Keinginan Bulog untuk mengekspor beras 5-10 ribu ton per bulan, dipertanyakan. Faktanya, Indonesia masih mengimpor makanan pokok itu. hal ini berarti klaim swasembada dan keinginan ekspor hanyalah isapan jempol.
Demikian dinyatakan Mudrajat Kuntjoro, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mudrajat mempertanyakan swasembada beras pada 2008 yang diklaim pemerintah. Pasalnya hingga saat ini Indonesia masih mengimpor beras yang menunjukkan masih kekurangan.<>
“Kondisi riil parsediaan Pada beras di Indonesia tidaklah stabil. Artinya beras di Indonesia bahkan tidak dapat terjamin stoknya secara berkesinambungan. Buktinya kita masih selalu impor,” katanya di Jakarta, Senin (23/2).
Mudradjat mengharapkan agar pemerintah bersikap terbuka. Sebelum mengekspor beras, pemerintah harus memastikan apakah perberasan nasioanal benar-benar surplus atau defisit. ”Kalau swasembada beras, tapi ternyata impor berarti kan kurang berasnya,” tegasnya.
Namun demikian, Mudradjat mendukung ekspor beras jika sudah dipastikan bahwa Indonesia benar-benar surplus. Surplus tidaknya perberasan nasional harus diklarifikasi.
”Jangan-jangan data tahun lalu itu hanya bohong-bohongan. Wong nyatanya masih impor,” tandas Mudrajat. (min)
Terpopuler
1
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
2
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
5
Anjuran Merayakan Maulid Nabi Muhammad dan Dalil-Dalilnya
6
Hukum Karnaval Menutup Jalan Umum dalam Islam, Bolehkah?
Terkini
Lihat Semua