Para petani di Desa Sumberejo dan Desa Kembangan, Kecamatan Bonang Kabupaten Demak, terpaksa melakukan panen padi dalam waktu dini sebelum saatnya panen. Mereka terpaksa menuai bilir-bulir padi meskipun dari ratusan hektare areal persawahan yang masih terendam air hujan, Jumat (30/1).
Menurut salah seorang warga Desa Sumberejo, Sutrimo, panen padi dalam waktu dini itu dilakukan untuk menghindari kerugian yang cukup besar. Sebab, akibat kebanjiran tanaman bisa membusuk atau puso.<>
"Rendaman air sudah berlangsung dua Minggu ini. Hal ini karena perkampungan yang terletak di sepanjang Sungai Tuntang tersebut posisinya terlalu rendah, sehingga air tidak bisa cepat surut," katanya.
Nahrowi, petani lainnya menuturkan bahwa saat dipanen dini, kadar air yang terkandung dalam buliran padi cukup tinggi. Kondisi itu membuat harga padi yang belum sepenuhnya berisi tersebut anjlok.
"Pedagang tidak berani menawar tinggi sesuai standar harga gabah yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 2.200 perkilogram. Anjloknya sekitar 30 persen," ujarnya.
Turunnya harga gabah di tingkat petani yang sawahnya terkena air banjir itu diperparah dengan memburuknya jalan desa yang rusak parah. Akibatnya, biaya transportasi membengkak dua kali lipat lebih. (min)
Terpopuler
1
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
2
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
Muktamar Ke-35 NU Dibuka Kamis 27 Agustus Pukul 15.00 WIB oleh Presiden Prabowo
5
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
6
Anjuran Merayakan Maulid Nabi Muhammad dan Dalil-Dalilnya
Terkini
Lihat Semua