Daerah

Masjid Labui: Jejak Lawatan Sultan Iskandar Muda dan Warisan Mukim yang Tetap Hidup di Pidie

Ahad, 22 Februari 2026 | 16:00 WIB

Masjid Labui: Jejak Lawatan Sultan Iskandar Muda dan Warisan Mukim yang Tetap Hidup di Pidie

Masjid Labui. Masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan Masjid Po Teumeurehom—nama yang merujuk pada Sultan Iskandar Muda, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.( Foto: Pemkab Pidie)

Pidie, NU Online

Jauh dari keramaian pusat kota Pedir, tepatnya di Desa Labui, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie (Pedir), berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan jejak panjang sejarah Aceh: Masjid Labui. Masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan Masjid Po Teumeurehom—nama yang merujuk pada Sultan Iskandar Muda, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.


Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ketika beliau melawat ke wilayah Pidie. Lawatan itu bukan sekadar kunjungan simbolik, tetapi bagian dari strategi politik dan militer dalam menghimpun kekuatan Aceh. Konon, material untuk membangun masjid diangkut secara gotong royong dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Kisah ini menegaskan bahwa pembangunan masjid bukan hanya proyek kerajaan, tetapi kerja kolektif rakyat.


Masjid Labui sebagai masjid mukim, pada masa lalu memiliki fungsi yang luas. Ia bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan Islam dan konsolidasi sosial. Dalam struktur masyarakat Aceh tradisional, masjid mukim adalah simpul kehidupan keagamaan sekaligus ruang musyawarah adat.


Arsitektur Masjid Labui memperlihatkan ciri khas masjid tradisional Aceh. Atapnya berbentuk tumpang bersusun tiga—melambangkan struktur vertikal yang umum dijumpai dalam arsitektur Islam Nusantara. Bangunan ini ditopang empat tiang soko guru sebagai penyangga utama dan enam belas tiang keliling yang memperkuat struktur.


Dindingnya terbuat dari campuran batu dan kapur setinggi sekitar setengah meter, sementara bagian atasnya didominasi konstruksi kayu. Pada puncak atap terdapat mustoko berbentuk bulat yang menjadi penanda simbolik bangunan. Pada masa lalu, atap masjid terbuat dari daun rumbia, tetapi kini telah diganti dengan seng demi daya tahan yang lebih lama.


Salah satu keunikan utama Masjid Labui terletak pada mimbarnya. Mimbar ini terbuat dari kayu dan dicat kuning keemasan, menampilkan nuansa kemegahan. Bentuknya menyerupai panggung kecil dengan pegangan kayu di sisi kiri dan kanan. Di dalamnya terdapat kursi kayu jati berwarna cokelat tua yang berpadu harmonis dengan warna emas.


Pada bagian atas mimbar terdapat penutup menyerupai atap kecil yang juga dicat emas. Ornamen pada bagian atas mimbar sepintas menyerupai gaya ornamen Cina dengan motif flora. Bahkan, menurut cerita yang berkembang, mimbar tersebut berasal dari Cina. Selain itu, bentuk ornamen bagian atasnya disebut-sebut mirip dengan ornamen pada pintu Masjid Nabawi di Madinah—sebuah klaim yang menunjukkan kebanggaan masyarakat terhadap nilai simbolik masjid ini.


Di dalam masjid juga terdapat tongkat kuningan yang konon pernah digunakan Sultan Iskandar Muda ketika menghimpun pasukan perang di wilayah Pidie. Terlepas dari verifikasi historisnya, narasi ini memperkuat hubungan simbolik antara masjid dan kekuasaan politik Aceh pada abad ke-17.


Ketua PCNU Pidie Tgk Isafuddin juga bagian dari pengurus mesjid tersebut memandang bahwa Masjid Labui adalah simbol kesinambungan iman dan sejarah. Ia berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai narasi hidup tentang gotong royong, kepemimpinan, dan pendidikan Islam.


Di tengah berdirinya masjid baru yang megah, Masjid Labui lama tetap menjadi pengingat bahwa akar sejarah tidak boleh dilupakan. Warna emas pada mimbarnya bukan sekadar estetika, tetapi simbol kejayaan masa lalu yang harus dijaga.


“Masjid ini adalah saksi perjalanan dakwah dan perjuangan Aceh. Ia mengingatkan kita bahwa Islam di Pidie tumbuh bersama semangat kolektif dan kepemimpinan yang kuat,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa keberadaan masjid lama yang tetap dirawat meskipun telah dibangun masjid baru di sampingnya merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah. “Kita boleh membangun masjid modern dengan kubah besar dan konstruksi semen, tetapi masjid tua harus tetap dipertahankan sebagai bukti sejarah,” tegas Tgk Isafuddin.


Kini, di samping Masjid Labui lama berdiri masjid baru dengan arsitektur modern berkubah besar. Bagian depannya dibuat berundak-undak menyerupai Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Perpaduan dua bangunan ini—lama dan baru—menjadi simbol kesinambungan antara tradisi dan modernitas.


Namun perubahan zaman juga membawa tantangan. Benteng yang dahulu mengelilingi masjid, yang disebut diwai, kini tidak lagi dijumpai. Perkembangan infrastruktur dan pembangunan masjid baru menggeser elemen-elemen lama tersebut. Meski demikian, bangunan utama masjid tua tetap berdiri dan difungsikan.


Dalam perspektif sejarah, Masjid Labui menunjukkan bahwa Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda memiliki jaringan kekuasaan dan dakwah yang luas hingga ke wilayah Pidie. Pembangunan masjid di daerah-daerah strategis menjadi bagian dari penguatan identitas Islam dan konsolidasi sosial-politik.


Arsitektur tumpang tiga mencerminkan kesinambungan budaya lokal yang diislamkan. Konstruksi kayu dan teknik pertukangan menunjukkan kematangan tradisi arsitektur Aceh. Mimbar bergaya Cina mengindikasikan keterbukaan Aceh terhadap pengaruh luar dalam konteks perdagangan dan budaya.


Menurut Tgk Isafuddin, pelestarian Masjid Labui harus menjadi tanggung jawab bersama. “Masjid ini bisa menjadi laboratorium sejarah bagi generasi muda. Santri, pelajar, dan mahasiswa harus diperkenalkan pada warisan ini agar mereka memahami akar sejarahnya,” katanya.


Ia menekankan bahwa di tengah arus modernisasi, generasi muda sering kali lebih mengenal arsitektur masjid modern daripada bangunan tradisional. Padahal, identitas Islam Aceh justru terbentuk melalui masjid-masjid tumpang seperti Masjid Labui.


Kisah Masjid Labui juga mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya milik pusat kekuasaan di ibu kota, tetapi juga milik wilayah-wilayah seperti Pidie yang menjadi bagian penting jaringan Kesultanan Aceh. Lawatan Sultan Iskandar Muda ke Pidie dan pembangunan masjid di sana menunjukkan integrasi wilayah dalam satu visi keislaman dan politik.


Masjid ini mengajarkan bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Justru tradisi yang dirawat dengan baik akan menjadi fondasi kokoh bagi masa depan.Masjid Labui hari ini adalah saksi bahwa warisan Sultan Iskandar Muda tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup dalam kayu, ukiran, dan semangat masyarakat Pidie yang terus menjaga identitasnya.