KH Ubaidullah Shodaqoh Respons Aksi Teror terhadap Aktivis Lingkungan dan Relawan Bencana
Rabu, 31 Desember 2025 | 14:45 WIB
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh. (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengecam keras aksi teror yang dialami sejumlah aktivis muda yang bergerak dalam isu kemanusiaan dan lingkungan. Ia menegaskan, teror merupakan kesalahan fatal yang tidak dapat dibenarkan, baik secara hukum, moral, maupun kemanusiaan.
“Teror adalah tindakan menakut-nakuti dengan ancaman kekerasan, kengerian, dan kekejaman. Tidak ada satu golongan pun, bahkan negara, yang membenarkan tindakan seperti itu,” ujar Kiai Ubaidullah kepada NU Online, Rabu (31/12/2025).
Ia menjelaskan, dalam situasi bencana, kondisi psikologis korban umumnya berada pada titik terendah. Banyak warga mengalami kebingungan, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Dalam keadaan seperti itu, kehadiran relawan dan aktivis kemanusiaan menjadi sangat penting sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian, meskipun dengan segala keterbatasan.
Menurutnya, relawan adalah pionir kemanusiaan yang seharusnya dilindungi, bukan justru diteror. Karena itu, tindakan intimidasi terhadap aktivis dinilainya sebagai kesalahan serius, terlebih jika dilakukan oleh oknum aparat negara.
“Bagi saya, teror terhadap aktivis kemanusiaan adalah kesalahan fatal, apalagi jika dilakukan oleh aparat pemerintahan,” tegasnya.
Kiai Ubaidullah menambahkan, teror tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis yang mendalam. Dampak tersebut dapat memicu sikap apatis, rasa ditinggalkan, bahkan berpotensi melahirkan disintegrasi sosial di tengah masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama secara tegas menolak segala bentuk teror dan intimidasi. Dalam suasana duka nasional akibat bencana, seluruh elemen bangsa harus saling menguatkan dan bergotong royong.
“Sebagai anak bangsa, kita adalah satu jasad. Derita saudara kita adalah derita kita bersama,” ujarnya.
Ia pun mendesak pemerintah agar bersikap tegas dengan menindak dan menghukum oknum yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Pemerintah, kata dia, seharusnya merangkul dan melindungi aktivis yang justru membantu menyelesaikan persoalan kemanusiaan yang belum tertangani secara optimal.
“Jangan sampai pemerintah justru mengintimidasi aktivis yang membantu pekerjaan kemanusiaan yang masih sangat banyak ini,” pungkasnya.
Teror terhadap Aktivis Kemanusiaan
Aksi teror terhadap para aktivis yang menyuarakan isu kemanusiaan di tengah bencana alam di Sumatra dinilai sangat memprihatinkan. Di saat energi bangsa semestinya difokuskan pada penyaluran bantuan dan pemulihan korban, muncul tindakan intimidatif yang sarat dengan sikap nir-empati.
Salah satu korban teror adalah Virdian Aurellio, aktivis sekaligus mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Padjadjaran (BEM Unpad). Ia mengaku menjadi korban doxing setelah akun WhatsApp milik keluarganya diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Virdian menyayangkan adanya upaya pembunuhan karakter di tengah fokus bangsa membantu korban bencana.
“Saya menyayangkan adanya upaya doxing dan framing pembunuhan karakter di saat masyarakat dan negara sedang kompak menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Sumatra,” tulisnya.
Ia juga membantah tuduhan terkait kepemilikan usaha investasi sawit ilegal. Menurutnya, ia bersama rekan-rekan muda tengah merintis usaha konsultan pertanian, teknologi pertanian, dan jasa drone spraying yang legal dan transparan.
“Kami mencari rezeki yang halal dan membuka lapangan pekerjaan, khususnya bagi anak muda,” ujarnya.
Virdian menegaskan, usaha tersebut bertujuan mendukung sektor pertanian nasional dan mendorong regenerasi petani muda melalui pemanfaatan teknologi modern.
Selain Virdian, teror juga dialami motivator muda dan dosen asal Aceh, Sherly Annavita. Ia mengaku mendapat intimidasi berupa kiriman telur busuk, coretan pilok pada mobil, serta pesan ancaman melalui akun media sosial palsu setelah menyuarakan kebijakan penetapan status bencana nasional.
“Saya diteror,” tegas Sherly dalam unggahan Instagram-nya, Selasa (30/12/2025).
Sherly telah melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT dan pihak keamanan lingkungan. Ia juga berencana memasang kamera pengawas (CCTV) sebagai langkah antisipasi.
Kasus serupa juga menimpa Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik. Rumahnya mendapat kiriman bangkai ayam dengan pesan bernada ancaman pada Selasa (30/12/2025).
Di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan “Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu."
Pihak Greenpeace menduga teror tersebut berkaitan dengan kerja-kerja advokasi lingkungan yang tengah dilakukan. Apalagi ada pola teror serupa yang juga menimpa masyarakat sipil, jurnalis, dan pegiat media sosial dalam beberapa waktu belakangan.