M Ali Albalya
Penulis
Udara pagi masih terasa menusuk kulit ketika anak-anak TK menghambur ke toko makanan ringan di depan sekolah. Diantar oleh Bu Kayati, guru TK tersebut, mereka tampak melontarkan senyum. Di tangan mereka tergenggam sejumlah rupiah. Uang tersebut cukup untuk memuaskan belanja para calon pemimpin masa depan itu. Anak-anak boleh memilih apa saja asalkan sesuai dengan persetujuan Bu Kayati. Biasanya, roti menjadi makanan kebanggaan mereka untuk bekal di dalam kelas, yaitu ketika jeda pelajaran atau jam istirahat.
Guru tersebut menyarankan agar mereka tidak makan di toko karena sebelum berangkat mereka pasti sudah sarapan. Pemilik toko antusias mengikuti tingkah lucu mereka. Tanpa menawarkan kepada anak-anak, menata rapi adalah cara mudah menggaet keinginan untuk belanja. Bukan anak-anak kalau tidak aneh-aneh permintaannya. Jika melihat kue baru, mata mereka berbinar. Tangan mungil itu tiba-tiba sudah menggenggam sebuah roti.
Pada situasi ini, seorang guru berperan mengawasi jumlah pengambilan kue agar mudah dihitung oleh pemilik toko. Tanpa kesepakatan, koordinasi itu berlangsung alami. Pemilik toko melihat satu demi satu genggaman tangan anak-anak. Didorong rasa ingin tahu, tidak jarang mereka menunjuk ke salah satu kue. Tapi belum sampai mengambil, sebuah nasihat memperingatkan mereka. “Itu uang kalian tidak cukup, kue lain saja,” ucap Bu Kayati.
Bisa dimaklumi, ukuran belanja mereka berkisar seribu rupiah da paling banyak dua ribu rupah. Butuh kesabaran membentuk kesadaran dan pemahaman mereka tentang rupa-rupa jajanan.
Baca Juga
Kisah Lelaki yang Curiga pada Tuhan
Setiap pagi melihat kelucuan anak-anak TK berbelanja, aku merasa bangga sekaligus bahagia. Ditemani Lastri, aku saling senyum dan bertatap muka. Sebagai orang tua murid dari TK tersebut, kami sangat memercayai cara guru-guru mendidik siswa-siswinya. Di ruang kelas diajari berbagai macam ilmu. Di luar, tepatnya di toko makanan ringan, mereka diajari untuk antri, tidak berebut. Selain itu, mereka diajari bagaimana menahan diri dalam berbelanja.
Setelah anak-anak masuk kelas, kami membuka pembicaraan pada pemilik toko.
“Sudah lama kebiasaan berbelanja di toko Ibu?” kata Lastri.
“Semenjak TK ini buka. Kebetulan toko saya ada sebelum TK ini berdiri,” jawabnya.
Baca Juga
Pulang atau Menunggu?
“Alhamdullilah, Ibu, bisa menambah pemasukan,” kataku menambahkan.
“Betul sekali, Ibu-Ibu,” ungkapnya sambil tersenyum.
Sebagai sesama orang tua murid baru, kami merasa terbantu. Tidak perlu meminta anak-anak kami untuk bersabar ketika mereka mempunyai keinginan. Perubahan kecil itu nampak ketika berbelanja di tempat lain. Akibat perubahan ini, kami bisa tersenyum sendiri.
“Belajar sambil praktik,” kata Lastri.
Baca Juga
Kepergian Seorang Kenalan
“Hm,” jawabku mengangguk setuju.
Walaupun di sekolah desa, kami bangga. Kami tidak perlu menyekolahkan anak-anak ke kota, yang katanya pendidikan lebih berkualitas. Bagi kami, memberi pelajaran budi pekerti demikian sangat berarti untuk bekal dewasa nanti.
Saat kami sedang berbincang-bincang, kami secara spontan sepakat bahwa sekolah ini adalah TK terbaik daripada sekolah yang lain. Tidak ragu, bahkan, kami juga berani menyarankan agar siapapun orang tua yang memiliki putra-putri untuk dengan senang hati menyekolahkan di sekolah kebanggaan kami.
Karena kepercayaan para orang tua pada sekolah, tidak menjadi soal ketika ada usulan dari salah satu orang tua siswa untuk memagari pintu masuk dengan pagar tralis. Pagar itu dimaksudkan agar anak-anak tidak bermain di jalan. Sangat berbahaya apabila waktu istirahat mereka bermain kejar-kejaran.
Baca Juga
Selembar Memoar Aji
Atas usul tersebut Bu Kayati menjawab: “Kita musyawarahkan di dalam pertemuan orang tua, guru dan pengurus yayasan.”
“Setuju,” kata salah satu orang tua siswa.
“Usul bagus, semoga para orang tua nanti bisa menyetujui,” ungkapnya.
Kegembiraan menyelimuti orang tua siswa, guru dan pengurus yayasan. Mereka saling berbicara harapan. Juga, apa dan berapa uang untuk bisa mewujudkan kebutuhan bersama tersebut. Pada pertemuan yang sudah disepakati, mereka akan saling bertukar gagasan.
Baca Juga
Kehilangan Sandal Jepit
“Bapak dan Ibu, pembuatan pagar merupakan usul bagus,” ungkap pengurus yayasan mengawali pertemuan. Lalu, pembicaraan mengalir di antara mereka yang hadir.
"Menyadari keamanan siswa, kita dukung sepenuhnya,” ungkap salah satu orang tua.
“Setiap orang tua secara sukarela sesuai kemampuan menyumbangkan uang,” tambah salah satu orang tua.
“Boleh juga, membantu memberi makanan dan minuman untuk tukang,” usul orang tua lainnya.
Baca Juga
Hitam dan Hijau
“Perincian kebutuhan uang sebaiknya ditulis di papan pengumuman dan juga perolehannya,” kata salah satu orang tua menyarankan.
“Ketika kebutuhan uang sudah tercukupi mohon kami diberitahu kapan pemasangannya,” ide dari salah satu yang hadir di pertemuan itu.
“Apabila terdapat uang sisa, uang tersebut menjadi kas sekolah,” usul yang lain.
“Pagar tidak hanya murah, melainkan perlu terlihat menarik, kalau perlu dicat warna-warni pelangi misalnya,” ada usul yang demikian dari salah satu orang tua.
Baca Juga
Warisan Api dari Tangan Ibu
Demikianlah, setiap orang tua siswa mengusulkan ide terbaik mereka. Ide tersebut ditampung oleh pemimpin pertemuan itu dan juga akan dilaksanakan dengan betul-betul memperhatikan kebutuhan siswa.
“Baik, Bapak dan Ibu, kita tunggu saja hasilnya, semoga niat kita ini membawa perubahan lebih baik untuk sekolah yang kita cintai bersama ini,” tutup pengurus yayasan, mengakhiri pertemuan tersebut.
Setelah pagar tralis terpasang, aku dan Lastri semakin merasa yakin dengan kekompakan para orang tua siswa. Mereka benar-benar memiliki sepenuhnya sekolah tersebut.
Namun, pada pagi di hari Senin, ada pemandangan yang berbeda. Kamu tidak melihat siswa-siswi di toko depan sekolah. Oleh karena keganjilan tersebut, kami berdua menanyakan kepada pemilik toko.
Baca Juga
Rindu yang Tak Berwujud
“Anak-anak tumben tidak berbelanja?” kataku penasaran.
“Tidak tahu ibu-ibu,” jawab pemilik toko.
“Aku juga tidak memberi bekal lain selain uang jajan anakku, mustahil mereka tidak belanja,” ungkap Lastri.
“Kalau melihat keramaian anak-anak di dalam sekolah, sepertinya mereka membeli dari bu guru. Tapi tidak tahu pastinya,” ungkap pemilik toko, kelihatan pasrah.
Baca Juga
Cerpen: Peci Miring
“Ketika pulang, coba nanti kutanya anakku,” kataku ingin mencoba tenang dan menyelidiki.
“Iya, aku juga mau menanyakan hal serupa pada anakku,” kata Lastri menambahkan, penuh rasa ingin tahu.
Dalam perjalanan pulang, aku bertanya kepada anakku.
“Tadi belanja di mana?”
“Di Bu Kayati.”
“Oh begitu!” jawabku terkejut. Namun, aku sembunyikan perasaan itu.
“Makanannya enak, ya?” kataku mencoba mengungkap sebuah fakta.
“Ada yang enak dan ada yang tidak,” jawab anakkku.
“Temanku minta roti di toko depan gak boleh. Dilarang oleh ibu guru!” cerita anakku dengan wajah polos.
“Jadi itu yang tidak enak, hihihi.…”
“Hm.”
“Sama saja kok, sama-sama makanan,” kataku menghibur seolah-olah tidak terjadi apapun pada putraku.
“Gak mau, aku, Ibu!” jawab anakku. Ada kekecewaan yang kutangkap dari raut wajahnya.
“Besok, setelah pulang belajar, belanja di toko depan sekolah, ya?” dengan perasaan berat, aku tawarkan solusi.
Aku ingin memastikan bahwa kondisi jiwa anakku baik-baik saja. Walaupun ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, setidaknya ada pengertian muncul dari jiwanya, anak seumuran TK itu.
Sesuai kesepakatan, aku dan Lastri bertemu. Aku ingin menanyakan bagaimana kondisi putranya. Demikian, sebaliknya, Lastri juga ingin mengetahui tanggapan anakku.
Kami merasakan hal serupa. Kedua anak kami dilarang belanja ke luar dari halaman sekolah. Itu artinya seluruh siswa juga tidak diperkenankan belanja selama waktu istirahat atau sebelum pelajaran dimulai.
“Ini pasti soal berkurangnya pendapatan toko depan sekolah,” ungkap Lastri.
“Iya, pasti pendapatannya berkurang. Kasihan sekali pemilik toko depan sekolah. Tapi, lebih kasihan lagi adalah anak-anak. Mereka harus berbelanja dengan terpaksa, tertekan tanpa kemerdekaan,” kataku menambahkan.
“Lalu, haruskah kita merobohkan pagar tralis itu?!” seru Lastri. Wajahnya memerah menahan amarah.
“Entahlah,” jawabku lemah, pasrah.
“Dia sudah memonopoli usaha dengan menggunakan kekuasaan. Kepandaiannya sebagai seorang guru tidak mengayomi yang lemah, pedagang kecil,” ungkap Lastri.
“Hm. Iya, betul,” kataku, lalu mencoba mendengarkan Lastri berbicara kembali.
“Sebagai seorang guru yang terdidik dan terpelajar, selayaknya mempunyai jiwa welas asih, penuh kasih sayang. Bukankah itu tujuan dari pendidikan. Punya Ilmu dan empati?”
Aku berfikir, mendengarkan teman sesama orang tua murid ini. Benar juga kata-katanya.
“Sementara itu, biasakah anak-anak kita merdeka pemikiran dan jiwanya apabila dididik oleh seorang guru yang telah mengekang hak anak-anak untuk memilih jajanan kesukaannya?”
Sejenak aku merenung. Lalu berkata mendukung pernyataan Lastri. “Pilihan adalah hak asasi yang harus dilindungi oleh setiap individu.”
“Tolonglah, harus ada usaha konkret menegakkannya. Anak-anak tidak tahu apa-apa soal hak asasi. Dia tahunya nyaman belajar dan bermain. Suasana itu harus ada di sekolah!” ucapnya tegas.
Aku tersentak. Permintaan untuk merobohkan bukanlah solusi. Ketegasan itu memang sangat bisa mengubah keadaan menjadi cepat. Tidak ada lagi penghalang. Pagar roboh, anak-anak bebas berbelanja.
Namun, hal ini akan mengakibatkan kegaduhan. Muncul kebencian di antara orang tua, guru dan pihak yayasan. Suasana di lingkungan tidak akan lagi nyaman. Di sisi lain, pengorbanan orang tua dalam mewujudkan pagar itu akan sia-sia.
Harapan seluruh keluarga besar TK untuk mewujudkan keamanan dan kenyamanan selama belajar dan bermain akan pula sirna seketika.
Otakku yang beku tiba-tiba menggerakkan bibirku yang terkunci sejak tadi. “Baik, kita perlu berbicara kepada pengurus yayasan. Setidaknya, cara ini lebih baik daripada membuat kegaduhan. Semoga pengurus yayasan bisa mengambil tindakan tegas. Guru harus lebih bijaksana dalam bertutur kata dan berperilaku.”
“Baik, aku setuju,” ungkap Lastri dengan wajah tenang.
“Aku siap menjadi juru bicara,” kataku meyakinkan.
Aku heran sebegitu percaya diri menawarkan sebagai juru bicara pada orang di hadapanku ini. Setidaknya, tawaran itu menjernihkan suasana dan menenangkannya. Juga, hal ini mencegah Lastri seandainya dia kalap, kemudian mengerahkan orang-orang yang sependapat dengannya untuk merobohkan pagar sekolah.
Namun, belum sempat rencana kami menghadap pengurus yayasan, salah satu orang tua bercerita bahwa perubahan sikap Bu Kayati hingga memaksa anak-anak belanja barang dagangannya itu terjadi karena guru tersebut membeli sepeda motor baru. “Dia membeli secara kredit. Tapi, tolong pembicaraan ini sampai di sini saja.”Katanya menutup pembicaraan yang panjang itu.
Ya. Satu penemuan fakta dari sebuah akibat. Meskipun data ini bisa menguatkan pendapat kami nanti di hadapan pengurus yayasan, aku akan bersikap bijaksana. Tidak perlu menyampaikan masalah pribadi orang itu. Cukup menyatakan bagaimana sebaiknya etika seorang guru.
Tak luput pula, aku akan menyampaikan kepentingan anak-anak, yakni keamanan dan kenyamanan di lingkungan sekolah. Mereka harus tumbuh dan berkembang di lingkungan yang selalu mendukung potensi mereka.
Sumberan, 25 September 2025
Terpopuler
1
Dua Doa Khusus untuk Malam Nisfu Sya'ban Lengkap dengan Latin dan Artinya
2
Hukum Puasa pada Hari Nisfu Syaban
3
Nisfu Sya'ban: Malam Pengampunan Segala Dosa, Kecuali 4 Hal
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama Februari 2026
5
Sejumlah Amalan yang Bisa Dilakukan di Malam Nisfu Sya'ban
6
Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Sya'ban 1447 H hingga Lusa
Terkini
Lihat Semua