M Ali Albalya
Penulis
Setelah menekuni usaha jasa perlengkapan upacara dan pesta selama dua tahun, Sardi menjadi pribadi yang perasa. Bukan karena dia sering melakukan kesalahan kepada orang lain. Bukan karena pendapatan lebih kecil daripada pengeluaran. Usaha meliputi persewaan tenda, sound system, kursi, piring, gelas dan mesin diesel pembangkit listrik itu berjalan normal. Nyaris selalu ada orang menggunakan jasanya. Pada pernikahan, misalnya, dia bisa mendapatkan untung lumayan.
Musim kawin di desa dan sekitarnya juga mudah ditandai. Pada musim itu, dia seperti seorang petani yang sedang panen berlimpah. Permintaan penuh. Siapa cepat, dia dapat. Merasakan banjir pesanan itu, sebagai pemilik, dia sudah berencana menambah jumlah perlengkapan. Hingga suatu ketika pembantunya di tempat kerja menegur penasaran.
"Kenapa akhir-akhir ini terlihat melamun?” tanya Paijo.
"Ada rasa bersalah. Kita ini memakai jalan orang. Jalan raya kita pasangi tenda.”
Baca Juga
Selembar Memoar Aji
"Lho, kan masih ada jalan. Tidak satu jalan penuh kita tutup,” ungkap Paijo mencoba membuka dengan berpikir berbeda.
"Apakah kamu tidak mendengar klakson dibunyikan keras saat kita memasang tenda atau gas sepeda motor dikencangkan? Itu pertanda mereka terganggu dengan tenda kita. Arus lalu lintas jadi lambat."
"Iya, betul, Kang,” jawab Paijo menyetujui. Padahal, dia ingin mengatakan bahwa pemilik acara pernikahanlah yang mesti bertanggung jawab akan terganggunya lalu lintas itu. Karena, pemasangan itu bukan juragannya yang meminta.
***
Baca Juga
Kehilangan Sandal Jepit
Di antara rambu penanda kegiatan warga di sebelah selatan dan utara, Sardi dan Paijo mulai mendirikan tenda pernikahan. Lalu lintas sudah mulai sepi. Berbeda ketika pagi hari waktu anak sekolah, pegawai kantor dan para pedagang menyusuri jalan provinsi tersebut.
Meskipun demikian, cukup berbahaya jika tidak dipasang rambu lalu lintas. Pada rambu terbuat dari kardus itu tertulis "Maaf ada kegiatan warga”. Setidaknya, memasang tulisan tersebut melegakan perasaan kedua orang itu.
Dari sebelah barat, seorang pengguna jalan melihat seorang pemuda kerdil yang sedang melaju ke arah selatan. Pemuda itu mengerem roda depan sepedanya dengan menempelkan sandal jepit miliknya kuat-kuat. Lalu terciptalah bunyi aneh karena gesekan sandal dan roda itu.
Maksud pemuda itu adalah ingin melaju menyeberang rambu penanda. Karena melihat ada kendaraan melaju kencang dari sebelah selatan, dia menerobos tenda setengah jadi itu. Dia nyaris menabrak sebuah tangga. Beruntung, kecepatan sepeda itu berkurang.
Baca Juga
Warisan Api dari Tangan Ibu
"Ro…ro...rokok,” kata pemuda itu seraya melompat dari sepeda.
Sardi menahan untuk tidak tertawa melihat dua kelucuan itu. Yakni, kebingungan saat menyeberang rambu penanda dan senyum pemuda itu tatkala meminta rokok. Wajah polos tanpa jiwa.
"Ada. Kopi mau?" kata Sardi sekaligus menawarkan yang tersedia di situ.
Paijo pembantunya yang mendengar percakapan itu merogoh saku. Sebatang rokok segera berpindah tangan.
Baca Juga
Rindu yang Tak Berwujud
"Namamu, siapa?" tanya Paijo.
"Pa...Pa...Paiman," dia menjawab terbata-bata.
"Duduk dulu, minum kopi lalu bantu kami," kata Sardi sambil memegang sebuah teko dan menuangkan kopi ke sebuah gelas. Segelas kopi hitam tersedia. Kopi hitam itu masih hangat.
"Te…te…terima ka..ka..kasih. Mau,” jawab pemuda lugu itu.
Baca Juga
Cerpen: Peci Miring
Pemuda itu duduk. Pada sebuah meja, ada beberapa kue di atas piring. Sebelum dia meminta, Sardi sudah menawarkannya. Uluran tangan itu disambut gembira oleh pemuda itu.
Aneh. Perasaan bersalah Sardi hilang. Pertemuan dengan Paiman menyesakkan dadanya. Pelupuk matanya sedikit menggenang. Tanpa disadari oleh orang di sekelilingnya, punggung tangan kanan Sardi menyeka matanya, khawatir air mata itu akan tumpah mengenai pipinya.
Para tetangga yang datang ikut membantu pemilik acara juga menerima kehadiran pemuda itu. Tanpa merasa terganggu, mereka tetap fokus mempersiapkan tenda, diesel pembangkit listrik, memasang lampu dan menyiapkan sound system. Suasana kerja terasa lebih ringan. Kadang hening, kadang ramai. Kadang serius, kadang penuh tawa. Pernyataan tamu baru itu penyebabnya. Entah karena gagap sehingga terasa lucu atau memang benar-benar lucu pernyataannya.
Di sela-sela mempersiapkan perlengkapan itu, salah satu tetangga bertanya, "Kamu punya uang?"
Baca Juga
Gadis di Derap Sunyi
"Banyak, ada sa..sa..satu tas kresek."
"Aku nggak minta. Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Diberi orang!” tegas pemuda itu dengan kepolosannya.
"Tolong ambilkan lampu,” pinta orang tersebut.
Baca Juga
Mbah Samah
"I..ni,” Paiman mengambil lampu dari meja dan mengulurkan kepada penanya tersebut.
"Iya. Bagus. Sudah. Duduk dulu. Tunggu kerja lain lagi ya..?”
"I…ya.”
Orang itu melanjutkan memasang lampu, sementara orang lain di bawahnya memegang tangga. Dua orang tetangga tersebut kompak memasang lampu untuk penerang di dalam tenda itu.
Baca Juga
Matematika Tuhan
Mendengar keramaian di depan rumahnya, pemilik hajat keluar ingin menemui para tukang dan tetangga. Sebagai orang asing, Paiman ditemui oleh pemilik hajat
“Kamu orang mana?”
"Sa..na,” jawab tamu tak diundang itu menunjuk ke arah utara. “Desa tetangga…!” tambahnya.
"Mau ke mana nanti?”
Baca Juga
Loreng, Bintang, dan Merah
"Lam…pu merah, ” jawabnya.
Pemilik rumah menerka bahwa pemuda berpakaian lusuh di hadapannya itu pasti akan mengamen di perempatan lampu merah. Sekilas terlihat olehnya sebuah alat musik sederhana terbuat dari tutup botol yang dilubangi. Seng tersebut dipukul rata lalu bagian tengah dipaku pada sebilah kayu. Alat itu menghasilkan suara ketika dipukulkan ke tangan kirinya. Tentu, nada dan lagu jauh dari keindahan layaknya seorang biduan yang sedang manggung. Hanya orang yang memiliki empati akan mengganjar dengan rupiah.
“Kamu sudah makan?”
“Be..lum.”
“Sebentar saya ambilkan.”
“I..ya,” dia mengangguk.
Tidak lama kemudian, pemilik rumah membawa sepiring nasi dan segelas teh hangat. "Selesai makan, kamu pulang. Nanti, setelah shalat Maghrib kamu datang lagi ke sini. Ikut mendoakan arwah keluarga kami dan akan makan lagi di sini. Mau?"
"Bo…leh?” tanya pemuda itu ragu.
"Iya, tentu saja,” jawab pemilik rumah itu.
Sardi yang mendengar itu menyahut. "Kamu bisa merokok lagi dan minum kopi bersamaku."
Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum, tanda bahwa dia mau menghadiri doa bersama nanti malam. Kemudian, dia makan dengan lahap. “Hihihi. Terima ka..sih,” katanya.
"Habiskan ya," pinta pemilik rumah. Setelah itu, dia berlalu menuju ke dalam rumah.
***
"Braaak!”
Terdengar suara dari sebuah benturan keras. Para jamaah terkejut. Mereka yang hadir beranjak dari tempat duduk masing-masing. Dilihat oleh mereka, tenda nyaris roboh. Sebuah mobil hampir melukai jamaah yang akan berdoa dan membaca tahlil pada acara sebelum pernikahan itu.
Sebagai pemilik tenda, Sardi segera meninggalkan tempat sound system yang di sana dia sedang mengatur suara. Tenda yang nyaris roboh itu akan segera dibenahi.
Namun, dia terkejut, ada sosok yang baru saja dia kenal roboh di antara tenda dan para jamaah. Dia adalah Paiman. Ada darah yang merembes di kepalanya. Sosok itu bergerak-gerak, lalu diam untuk selamanya. "Innalillahi wainna ilaihi rajiun,” katanya sedih.
Mayat tersebut segera diangkat oleh Sardi menuju ke tepi. Sementara, para jamaah mendekati mobil dan memaksa membuka pintu kemudi. Mereka menggedor-gedor pintu meminta sang sopir keluar. Ingar bingar itu mencekam karena teriakan dan umpatan para jamaah.
"Turun! Turun! Turun! Kurang ajar!"
Beberapa jamaah lain ada yang diam menyaksikan peristiwa itu, namun ada juga yang membawa telepon genggam memfoto atau memvideo Sardi ketika sedang mengangkat mayat pemuda malang itu. Salah satu di antara menyeletuk, "Wong gemblung ditabrak mobil!”
Entah apa di dalam benak mereka sehingga mengatakan hal tidak patut itu. Salah satu di antara mereka mengunggah ke media sosial. Sebuah cara agar terlihat aktif dan sebagai saksi mata atas peristiwa yang terjadi untuk tampil di dunia maya.
***
Setelah hajatan itu berakhir, ada perasaan berdosa menyelimuti benak Sardi. Dia memohon ampun atas ketidakmampuan dirinya menerima pesanan hajatan yang ditempatkan di pinggir jalan. Dia hanya pasrah mengikuti permintaan pemilik acara.
Lantunan istighfar bergema dalam rongga mulutnya. Tak lupa mengirimkan Al-Fatihah kepada arwah Paiman, teman yang baru dikenalnya. Semoga dia selalu damai di surga.
Dalam doa dan dzikir itu, Sardi seolah terbawa ke alam lain. Di sana, dia melihat Paiman dengan wajah ceria. Dia tersenyum dan berbicara sangat lancar, tidak terbata-bata. "Terima kasih, Mas Sardi."
Seketika itu, Sardi terkejut dan tersadar. Dalam keterjutan itu terlintas pekerjaannya selama ini. Ketika dia memutuskan untuk menolak hajatan yang ditempatkan di pinggir jalan, ada perasaan lega hadir dalam jiwanya.
Sardi pasrahkan semua rezeki kepada pemilik dunia ini. Dia Maha Kaya dan Pemurah, tidak miskin dan pelit pada semua makhluk-Nya. Semua pasti mendapatkan bagian masing-masing. Selain itu, masih ada lapangan yang bisa dipakai untuk berbagai hajatan. Rumah pun juga masih ada yang berhalaman luas untuk dipasang tenda. Semoga keputusan itu diberkati.
Jember, 11 November 2025.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua