Samudera Dwija
Penulis
Langit sore itu berwarna tembaga, seolah-olah matahari menumpahkan sisa-sisa sinarnya di ujung bumi. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan daun kering yang jatuh. Di serambi kecil rumahnya yang menghadap ke sawah, Rafi duduk menatap langit dengan mata redup. Di tangannya tergenggam sebuah cangkir kopi yang mulai dingin, dan di dadanya, ada sesuatu yang lebih pahit daripada ampas minuman itu: penyesalan.
"Bagaimana bisa aku sejauh ini dari-Mu?” gumamnya lirih.
Sudah tiga tahun ia hidup dalam kesibukan dunia yang tanpa arah. Setelah gagal dalam bisnis dan pernikahannya kandas, ia merasa Tuhan meninggalkannya. Doa-doanya seperti terpantul di langit-langit kamar, zikirnya terasa hambar, dan ibadahnya sekadar rutinitas tanpa jiwa. Ia datang kepada Tuhan dengan luka dan kecurigaan, seolah ingin menagih janji yang ia rasa tak pernah ditepati.
Namun sore itu, sesuatu menggerakkan hatinya untuk membuka kembali buku catatan lamanya: buku kecil berwarna cokelat, berisi tulisan-tulisan dari masa ketika ia masih rajin mengikuti pengajian tasawuf di pesantren dahulu. Di halaman tengah, tertulis sebuah kalimat yang membuatnya terpaku:
Baca Juga
Pulang atau Menunggu?
"Bagaimana kau memandang, begitulah Aku melihatmu."
Ia membaca kalimat itu berulang-ulang. Entah mengapa, dadanya bergetar. Ada sesuatu yang menyentuh di dalam dirinya, sesuatu yang lama tertidur.
Malamnya, ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjalan di sebuah padang luas. Tak ada batas antara langit dan tanah, hanya kabut putih yang lembut. Dari kejauhan, muncul sosok berjubah putih, wajahnya tak terlihat, tapi suaranya menenangkan.
“Rafi,” katanya, “mengapa kau datang dengan curiga kepada Tuhanmu?”
Baca Juga
Kepergian Seorang Kenalan
Rafi terdiam. “Aku… aku hanya kecewa. Aku telah berdoa, berusaha, tapi mengapa Dia seakan diam?”
Sosok itu tersenyum samar. “Tuhan tidak pernah diam. Hanya saja kau datang dengan hati yang berprasangka. Bagaimana kau memandang, begitulah Dia memperlakukanmu. Jika kau datang dengan curiga, kau akan menemukan jarak. Tapi jika kau datang dengan cinta, kau akan tenggelam dalam rahmat-Nya.”
Rafi ingin bertanya lebih jauh, namun sosok itu lenyap bersama kabut. Ia terbangun dengan napas tersengal, dadanya terasa hangat.
Sejak pagi hari itu, hidupnya perlahan berubah. Ia mulai menata hatinya, bukan lagi untuk menuntut, tapi untuk memahami. Ia belajar berbicara dengan Tuhan bukan dengan keluh kesah, melainkan dengan ketulusan.
Baca Juga
Kehilangan Sandal Jepit
Di masjid kecil kampungnya, Rafi bertemu seorang lelaki tua yang dikenal sebagai Kiai Zainal. Orang-orang menyebutnya “Orang yang tersenyum kepada angin,” karena wajahnya selalu teduh. Rafi mendekat setelah shalat Maghrib, lalu duduk bersimpuh di hadapan sang Kiai.
“Pak Kiai,” katanya lirih, “bagaimana caranya agar saya bisa memandang Tuhan dengan benar?"
Kiai Zainal tersenyum, menatapnya penuh kasih. “Anak muda, yang pertama-tama harus kau pandang adalah dirimu sendiri. Lihatlah bagaimana kau memandang kehidupan. Kalau kau masih melihat semuanya sebagai kutukan, maka yang datang padamu hanyalah kepahitan. Tapi bila kau melihat dengan syukur, maka bahkan luka pun bisa menjadi jalan pulang.”
Rafi mengangguk perlahan. “Tapi kadang hati ini sulit sekali percaya…”
Baca Juga
Hitam dan Hijau
Kiai itu mengangguk, lalu berkata pelan, “Kepercayaan lahir dari kasih, bukan dari bukti. Tuhan itu bukan pengadilan, Dia adalah pelukan. Datanglah kepadaNya dengan harap, bukan dengan hitung-hitungan.”
Kata-kata itu menancap dalam hati Rafi seperti akar yang menemukan tanah subur. Sejak malam itu, setiap kali berdoa, ia menatap dirinya sendiri terlebih dahulu. Ia belajar untuk melihat dunia sebagai cermin, bahwa setiap kejadian, baik atau buruk, hanyalah pantulan dari caranya memandang.
Waktu berlalu.
Musim hujan datang dengan lembut, membasahi sawah-sawah di belakang rumah. Setiap pagi, Rafi berjalan melewati jalan setapak menuju masjid, melewati aroma tanah basah yang membuat dadanya lapang. Ia mulai berdamai dengan masa lalunya. Bisnis yang gagal tak lagi menjadi beban, perpisahan dengan istrinya ia anggap sebagai pelajaran tentang melepaskan.
Baca Juga
Warisan Api dari Tangan Ibu
Suatu malam, ketika sedang berzikir di kamarnya, Rafi kembali merasakan sesuatu yang asing tapi damai. Seperti ada cahaya yang lembut berputar di dadanya, bukan menyilaukan, tapi menghangatkan. Dalam keheningan itu, ia mendengar suara dalam hatinya bukan suara keras, tapi getar yang dalam:
“Aku tergantung pada isi hatimu.”
Ia tersentak, matanya basah. Tiba-tiba ia memahami, bahwa selama ini ia bukan menunggu Tuhan, tapi Tuhanlah yang menunggu hatinya terbuka.
“Ya Allah…” bisiknya dengan suara gemetar, “Selama ini aku memandang-Mu dengan curiga. Aku kira Kau meninggalkanku, padahal aku sendiri yang menutup mata.”
Baca Juga
Rindu yang Tak Berwujud
Air matanya mengalir tanpa henti malam itu. Ia sujud lama sekali, dan di dalam sujud itu ia merasa seolah seluruh dirinya larut dalam lautan cahaya. Tak ada lagi aku dan Engkau hanya rasa yang meluas tanpa batas, kasih, ampunan, dan damai.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan Rafi berubah lebih jauh. Ia mulai mengajar anak-anak kampung membaca Al-Qur’an setiap sore. Ia membantu tetangganya memperbaiki rumah, ikut menanam pohon di pinggir jalan, dan setiap kali ada orang datang meminta nasihat, ia hanya berkata lembut:
“Pandanganmu menentukan cahayamu. Kalau kau melihat hidup ini sebagai ladang kebaikan, maka setiap kesulitan pun akan menjadi benih rahmat.”
Suatu sore, datang seorang pemuda bernama Naufal, murid lamanya di sekolah menengah dulu. Wajahnya muram, matanya gelisah. Ia duduk di serambi sambil menunduk.
Baca Juga
Cerpen: Peci Miring
“Pak Rafi,” katanya lirih, “saya kecewa. Saya sudah berdoa lama untuk mendapatkan pekerjaan, tapi belum juga ada hasil. Saya mulai merasa Tuhan tidak peduli.”
Rafi menatapnya dengan senyum lembut. “Dulu aku juga pernah begitu, Nak. Tapi akhirnya aku sadar, Tuhan itu bukan tidak peduli, Dia hanya menunggu kita datang dengan hati yang yakin. Kalau kau datang dengan prasangka, dengan curiga pada Tuhan doa-doamu hanya menabrak tembok hatimu sendiri.”
Naufal terdiam. Rafi menepuk pundaknya, lalu berkata pelan, “Coba kau ubah caramu memandang. Anggaplah keterlambatan itu bukan penolakan, tapi undangan untuk lebih dekat.”
Beberapa minggu kemudian, Naufal datang lagi dengan wajah berseri. Ia telah diterima bekerja di sebuah perusahaan kecil. Ia mencium tangan Rafi sambil menahan tangis.
Baca Juga
Gadis di Derap Sunyi
“Pak… saya mengerti sekarang. Saya datang dengan percaya, dan semuanya berubah.”
Rafi hanya tersenyum. “Itulah rahasia yang pernah disampaikan guruku, bagaimana kau memandang, begitulah Dia memandangmu.”
Tahun-tahun berlalu. Rafi semakin dikenal sebagai orang bijak di kampungnya. Namun baginya, kebahagiaan sejati bukan karena dihormati, melainkan karena ia telah menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.
Suatu malam, di usia senjanya, ia duduk sendirian di serambi, menatap bulan purnama. Udara begitu tenang, dan di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahutan. Ia menutup mata, lalu berbisik lirih:
Baca Juga
Mbah Samah
“Ya Allah, betapa lembut Engkau memandangku. Dulu aku datang dengan ragu, Kau biarkan aku selalu curiga padamu merasakan kehampaan agar aku belajar mencari Mu. Kini aku datang dengan cinta, dan aku tahu, Engkau tak pernah jauh. Engkau selalu ada, sejauh pandangan imanku.”
Senyum tipis terlukis di wajahnya. Ia merasa damai. Dalam keheningan malam itu, seolah terdengar bisikan lembut dari langit,
“Aku Maha Menerima ampunan, tak peduli seberapa dalam salahmu. Pandanglah Aku dengan cahaya iman, agar Aku pun memandangmu dengan kasih yang tak berkesudahan.”
Rafi membuka matanya perlahan, menatap bulan yang menggantung di langit begitu terang, begitu lembut. Ia tahu, pandangannya kini bukan lagi dari mata dunia, tapi dari hati yang telah belajar melihat dengan cahaya.
Dan di situlah, ia akhirnya benar-benar memahami makna kalimat yang dulu hanya ia baca tanpa mengerti:
“Bagaimana kau memandang, begitulah Aku melihatmu.”
Terpopuler
1
Baca Doa Berikut di Malam Isra Mi'raj, Dapatkan Faedahnya: Terkabul Segala Hajat
2
Khutbah Jumat: Isra Mi’raj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat
3
Baca Amalan Ini pada Jumat Terakhir Rajab Hari Ini, Faedah: Terpenuhi Segala Kebutuhan
4
Isra Mikraj: Misteri Perjalanan Nabi dan Makna Shalat bagi Umat
5
Kemenhaj Buka Seleksi Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi, Ini Syarat dan Cara Daftar
6
Sidang Lanjutan Aktivis Tahanan Politik, Delpedro Sebut Kesaksian Polisi Tak Tunjukkan Unsur Penghasutan
Terkini
Lihat Semua