Banjir Picu Peningkatan Penyakit Menular, Lansia Jadi Kelompok Rentan
NU Online · Senin, 19 Januari 2026 | 08:00 WIB
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati memberikan pelayanan kesehatan di lokasi banjir. (Foto: dok Dinkes Pati)
Ayu Lestari
Kontributor
Pati, NU Online
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pati pada awal Januari 2026 berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat adanya peningkatan kasus penyakit menular, terutama penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare di daerah terdampak banjir.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 201 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi akibat banjir yang merendam sejumlah desa. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan lansia menjadi kelompok paling berisiko terdampak masalah kesehatan pascabanjir karena daya tahan tubuh yang cenderung menurun.
“Kelompok paling rentan adalah lansia. Mereka memiliki daya tahan tubuh yang menurun sehingga mudah mengalami komplikasi, seperti pneumonia, infeksi kulit, maupun perburukan penyakit kronis,” ujar Luky kepada NU Online, Ahad (18/1/2026).
Ia menjelaskan, selama masa banjir, penyakit yang paling banyak dilaporkan adalah penyakit kulit, ISPA, dan diare. Selain itu, Dinkes juga mencatat adanya keluhan myalgia, hipertensi, serta penyakit tidak menular lainnya di kalangan warga terdampak.
“Penyakit yang paling banyak dilaporkan adalah penyakit kulit, ISPA, dan diare. Selain itu juga ditemukan kasus myalgia, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya,” jelasnya.
Sejak 9 Januari 2026, Puskesmas di wilayah terdampak melaporkan sedikitnya 819 kasus penyakit kulit. Menurut Luky, kondisi tersebut merupakan dampak yang lazim terjadi saat bencana banjir akibat lingkungan yang lembap, sanitasi yang kurang memadai, serta keterbatasan akses air bersih.
Meski demikian, Dinkes Kabupaten Pati terus berupaya memastikan penanganan kesehatan pascabencana berjalan optimal agar masyarakat, khususnya kelompok berisiko, tetap mendapatkan layanan kesehatan sesuai prosedur.
“Ketika terjadi bencana banjir, penyakit menular memang berpotensi meningkat. Namun, kami terus berupaya agar pelayanan kesehatan tetap berjalan dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, Dinkes Pati menyiagakan layanan Puskesmas selama 1x24 jam serta membuka posko-posko kesehatan di titik-titik terdampak. Hingga kini, tercatat 51 titik layanan kesehatan telah disiapkan dengan dukungan Puskesmas setempat dan organisasi profesi kesehatan.
“Sampai hari ini sudah ada 51 titik lokasi pemberian layanan kesehatan di daerah terdampak banjir,” imbuhnya.
Selain pelayanan medis, Dinkes juga menyoroti pentingnya ketersediaan obat-obatan, air bersih, dan sanitasi di posko pengungsian. Menurut Luky, perhatian terhadap sanitasi menjadi kunci untuk mencegah meluasnya penyakit menular.
“Kondisi air bersih dan sanitasi di posko pengungsian perlu mendapat perhatian serius, termasuk penyediaan jamban darurat oleh BPBD. Kami juga sedang mendata kebutuhan air bersih dan sanitasi untuk mencegah risiko kontaminasi,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menggunakan air bersih secara bijak selama masa tanggap darurat banjir.
Sementara itu, salah satu penyintas banjir asal Desa Gempolsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Khoirur Roziqin, menyebut banjir berdampak besar terhadap kesehatan warga, baik secara fisik maupun mental.
“Dampaknya tidak hanya penyakit fisik, tetapi juga kesehatan mental dan keselamatan lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, air banjir yang tercemar limbah, kotoran hewan, dan bakteri berbahaya menjadi pemicu utama munculnya penyakit kulit. Aktivitas warga yang harus berada di genangan air hingga hampir 12 jam per hari turut memperparah kondisi kesehatan.
“Air di kanan kiri masih menggenang, sehingga warga mau tidak mau beraktivitas di air dalam waktu lama,” katanya.
Khoirur menambahkan, banjir di desanya telah berlangsung sekitar tujuh hari dan hingga kini belum sepenuhnya surut. Meski genangan hanya masuk ke beberapa rumah, dampaknya sangat dirasakan warga, termasuk trauma psikologis, terutama di kalangan petani.
“Mayoritas petani sangat terpukul karena padi yang hampir panen terendam banjir. Kami berharap ada perhatian dan solusi bagi para petani,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Baca Amalan Ini pada Jumat Terakhir Rajab Hari Ini, Faedah: Terpenuhi Segala Kebutuhan
2
Isra Mikraj: Misteri Perjalanan Nabi dan Makna Shalat bagi Umat
3
Kemenhaj Buka Seleksi Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi, Ini Syarat dan Cara Daftar
4
Bagaimana Memahami Isra Mi’raj dalam Dunia Kekinian?
5
DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset, Harta Pelaku Bisa Dirampas Tanpa Putusan Pengadilan
6
8 Ragam Pendapat Ulama mengenai Waktu Peristiwa Isra Mi'raj
Terkini
Lihat Semua