Dayah Darul Munawwarah Pasca Abu Kuta Krueng: Tarekat Khulwah dan Syattariah yang Terus Membumi
Ahad, 30 Maret 2025 | 06:30 WIB

Abiya Kuta Krueng (bersurban) bersama santri, dewan guru dan jama'ah tarekat shalat tarawih di masjid komplek dayah Darul Munawarah Kuta Krueng. (Foto: Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
'Matahari' tak pernah benar-benar tenggelam di langit Darul Darul Munawwarah Kuta Kreung Kabupaten Pidie Jaya. Meski sang mursyid, Abu Kuta Krueng, telah berpulang, warisan spiritual yang ia tinggalkan tetap menyala, menghidupi jiwa para santri dan masyarakat Aceh yang mendambakan kedalaman ruhani dalam kehidupan mereka.
Meninggalnya Abu Kuta Krueng—Tgk H. Usman Ali—pada 13 Februari 2025 menyisakan duka mendalam bagi para murid, pengikut tarekat, serta masyarakat Aceh yang selama ini menimba ilmu padanya. Sosoknya bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga mursyid yang menanamkan ajaran tarekat Syattariah dan Khulwatiyah dengan penuh ketelatenan dan kebijaksanaan.
Namun, seperti cahaya yang tak pernah padam, Darul Munawwarah Kuta Krueng terus menjadi pusat spiritual yang menyalakan obor ajaran sang mursyid. Kini, di bawah kepemimpinan Tgk H. Anwar atau yang akrab disapa Abiya Kuta Krueng, dayah ini tetap menjadi rumah bagi ilmu, adab, dan kebangkitan ruhani.
Dari Abu ke Abiya: Estafet Perjuangan
Tgk M Hasanusi, yang selama ini menjadi ajudan pribadi Abu Kuta Krueng, melihat sendiri bagaimana ajaran Syattariah diwariskan dengan penuh ketulusan. "Abu selalu menekankan bahwa tarekat ini bukan hanya zikir dan wirid, tetapi juga akhlak, keikhlasan, dan kepedulian sosial," tuturnya, Kamis (27/3/2025)
Setelah wafatnya Abu Kuta Krueng, kendali ijazah tarekat kini berada di tangan Abiya Kuta Krueng, dibantu oleh keluarga dan para guru senior Darul Munawwarah. "Ruh Syattariah tetap menyala, tidak hanya di Darul Munawwarah, tetapi juga di bumi Japakeh dan Aceh umumnya," lanjut Tgk Hasanusi.
Tarekat ini bukan sekadar ritual pribadi, melainkan jalan hidup yang menghubungkan dimensi spiritual dengan realitas sosial. Itulah sebabnya, ajaran Abu Kuta Krueng tetap relevan dan tak lekang oleh waktu.
Tradisi yang Hidup dan Berkembang
Di Darul Munawwarah, pengamalan tarekat Syattariah dan Khulwatiyah tidak berhenti pada wirid di bilik-bilik pengajian. Tgk Mujlisal, guru senior yang juga Kabag Pengajian di dayah ini, menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Abu harus tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari para santri.
"Kami memastikan bahwa pengajaran tidak hanya berupa hafalan wirid dan bacaan, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang etika dan keadilan sosial," katanya.
Seperti Abu yang dulu menekankan keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan, Darul Munawwarah kini aktif menggelar berbagai kegiatan, mulai dari pengajian malam, seminar, hingga diskusi interaktif. Semua ini bertujuan agar ajaran Syattariah tidak hanya diwarisi, tetapi juga dipahami dan diamalkan dengan kesungguhan.
Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Darul Munawwarah dalam menjaga eksistensi tarekat adalah pemanfaatan teknologi digital. Melalui kelas daring, webinar, dan rekaman pengajian yang dibagikan di berbagai platform, ajaran Syattariah kini bisa diakses oleh khalayak yang lebih luas, bahkan di luar Aceh.
"Inovasi ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan," ujar Tgk Mujlisal, yang juga seorang tenaga ahli di Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB. "Syattariah tidak hanya untuk mereka yang hadir langsung di dayah, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin mendalaminya, di mana pun mereka berada," lanjutnya.
Pendekatan ini memungkinkan generasi muda yang akrab dengan dunia digital untuk tetap terhubung dengan nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh Abu Kuta Krueng.
Tarekat Syattariah: Cahaya yang Tak Padam
Tgk Sanusi, yang mengabdikan dirinya sebagai pengajar dan pendamping spiritual, mengungkapkan bahwa Syattariah bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan pilar bagi kehidupan sosial yang lebih harmonis.
"Abu mengajarkan kami bahwa spiritualitas sejati harus membangun kepedulian terhadap sesama," ujarnya.
"Ini bukan hanya tentang doa dan wirid, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita hidup dengan adab, dan bagaimana kita menjaga keadilan." sambungnya
Dalam keseharian, ajaran ini tercermin dalam berbagai inisiatif sosial yang dijalankan oleh Darul Munawwarah, mulai dari membantu fakir miskin, mendidik generasi muda, hingga menjalin hubungan baik dengan masyarakat luas.
Merajut Masa Depan Tarekat
Keberlanjutan tarekat Syattariah dan Khulwatiyah di Aceh tidak hanya bergantung pada figur-figur ulama, tetapi juga pada bagaimana ajaran ini ditanamkan kepada generasi berikutnya.
Tgk Mujlisal menekankan bahwa peran santri dan masyarakat dalam menjaga ajaran Abu Kuta Krueng sangatlah penting. "Kami mengemban amanah untuk memastikan bahwa Syattariah tetap hidup dalam setiap majelis pengajian, setiap zikir, dan setiap langkah kehidupan," tegasnya.
Dengan semangat ini, Darul Munawwarah terus menjadi rumah bagi mereka yang ingin menapaki jalan ruhani dengan ketulusan dan kecintaan. Dari santri yang baru mulai belajar hingga ulama yang telah mendalami tarekat selama puluhan tahun, semua bersatu dalam satu tujuan: menjaga cahaya Syattariah tetap bersinar.
Meski Abu Kuta Krueng telah tiada, warisannya tidak pernah pudar. Cahaya yang ia nyalakan tetap berpendar dalam sanubari para pengikutnya. Darul Munawwarah bukan hanya sekadar dayah, melainkan pusat spiritual yang terus membimbing, menginspirasi, dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Abu Kuta Krueng telah berpulang, tetapi jejaknya tetap hidup dalam setiap sujud, dalam setiap wirid, dalam setiap kepedulian terhadap sesama. Dengan semangat ini, tarekat Syattariah dan Khulwatiyah akan terus membumi, menjadi lentera bagi perjalanan spiritual di Aceh dan di luar batas geografisnya.
Cahaya itu tidak akan padam. Itulah janji yang telah diikrarkan oleh mereka yang melanjutkan perjuangan Abu.
Terpopuler
1
8 Amalan Sunnah yang Dianjurkan pada Hari Raya Idul Fitri
2
Niat Puasa Syawal Lengkap dengan Latin dan Terjemahnya
3
Niat Puasa Qadha bagi yang Batal atau Meninggalkannya di Bulan Ramadhan
4
Meninjau Posko Mudik Banser di Bantul Yogyakarta, Ini Fasilitas dan Layanan untuk Pemudik
5
573 Posko Mudik Banser Siaga 24 Jam Amankan Perjalanan Pemudik ke Kampung Halaman
6
Hukum Dahulukan Puasa Syawal Ketimbang Qadha Puasa Ramadhan
Terkini
Lihat Semua