Daerah

Suasana Idul Fitri di Kampung Halaman dan Pesan-Pesan Sesepuh Keluarga saat Lebaran

Senin, 31 Maret 2025 | 20:45 WIB

Suasana Idul Fitri di Kampung Halaman dan Pesan-Pesan Sesepuh Keluarga saat Lebaran

Kiai Muhammad Hattak al-Aji, Mursyid Tarekat Qadiriyyah/ Naqsyabandiyyah (TQN). (Foto: NU Online/Ahmad Naufa)

Usai shalat Idul Fitri, kami satu keluarga besar berkumpul. Satu per satu dari sesepuh mengutarakan pesan-pesan, sementara puluhan anggota keluarga lainnnya menyimak dengan seksama. Ada beberapa poin penting dalam pesan-pesan tersebut, khususnya tentang kesungguhan menuntut ilmu dan bekerja untuk kami yang masih muda-muda.


*


Alhamdulillah, di tahun ini saya kembali berkesempatan melaksanakan Idul Fitri di kampung halaman—setelah bersama-sama dengan ribuan orang lainnya ikut dalam hiruk-pikuk mudik lebaran. 


Sebelum hari H, saya berkumpul dengan teman-teman kecil dulu, yang kini sudah hidup dengan pekerjaan dan dunianya masing-masing. Meski pembicaraan kami ngalor-ngidul—membahas masa kecil hingga kondisi teman-teman saat ini—tetapi hal itu mempererat silaturrahmi yang telah terjalin selama ini. Sesekali tawa pecah ketika mengenang atau membicarakan hal-hal konyol tentang kelakuan kami dan teman-teman.


Setelah bedug Magrib 30 Maret 2025 ditabuh, buka puasa terakhir Ramadhan tahun ini—sesuai dengan pengumuman Pemerintah dan ikhbar PBNU—tak lama kemudian sahut-sahutan takbir mengumandang, lengkap diiringi dengan alunan bedug dan kentongan dari berbagai masjid dan mushala. Suara anak-anak kecil yang polos mendominasi, sebelum akhirnya digantikan orang dewasa di waktu malam hingga dini hari.

 

Selain takbiran, anak-anak juga meledakkan petasan kecil dengan penuh riang, berlarian kesana kemari. Tak hanya itu, suara ledakan petasan yang lebih menggelegar dari berbagai penjuru pun sahut-menyahut berkumandang, dan pecah di langit malam yang cerah. Juga, sesekali suara rombongan takbir keliling yang penuh semangat menambah suasana semarak di malam kemenangan. 


Sehabis shalat Subuh, Senin 31 Maret 2025, takbiran di masjid berkumandang sampai saat menjelang shalat Id. "Allahu Akbar Allahu Akbar. Laailaaha Illallahuwallahu Akbar. Allahu Akbar Walillahilhamd," dan seterusnya. Para jamaah mulai mengalir berdatangan. Kebanyakan—sebagaimana dalam tradisi Muslim di Nusantara—mereka memakai pakaian terbaiknya. Rata-rata jamaah Muslim memakai peci/kopiah, kemeja, bawahan sarung dan sendal. Sedangkan yang Muslimah memakai jilbab/kerudung, baju atau gamis dan bawahan sendal — dengan menenteng mukena untuk shalat.


Saya menyempatkan diri makan terlebih dahulu. Teringat ketika di pesantren dulu diajarkan bahwa di antara sunnah Nabi Muhammad saw adalah makan sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri. Berbeda dengan Idul Adha, yang justru sunnah makan usai shalat dilaksanakan. Selain itu, saya mandi—hal yang juga disunnahkan sebelum shalat Id.


Takmir masjid, di tahun ini, menyiapkan tratag (tenda) untuk mengantisipasi jamaah yang biasanya membludak. Dan sekitar pukul 07:15 WIB, shalat Id dilaksanakan dengan penuh khidmat.


Dalam khutbahnya, selain pesan takwa dan membaca shalawat, khatib berpesan agar spirit Ramadhan ini terus dijaga, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit kita memperbaiki kualitas diri ke arah yang lebih baik.


Setelah khutbah, ada ikrar halal bihalal agar kami semua saling memaafkan, dilanjutkan tahlil dan mengirim doa untuk para orang tua dan keluarga yang telah mendahului kami pergi ke alam barzakh. Setelah itu, jamaah berurutan saling bersalaman—laki-laki dengan laki-laki dan perempuan-dengan perempuan—diiringi tabuh suara bedug dan kentongan, yang kami sebut dengan istilah tidhur atau nidhur.


Pesan sesepuh, ziarah, dan silaturrahmi

Setelah shalat Id, kami berkumpul di kediaman Kiai Muhammad Hattak al-Aji, Mursyid Tarekat Qadiriyyah/ Naqsyabandiyyah (TQN) di kampung kami. Di salah satu dinding rumahnya, terpasang lambang Nahdlatul Ulama yang terbuat dari anyaman tangan. Satu per satu sesepuh keluarga diberi kesempatan untuk berbicara.


Kiai Ahmad Mahin, selain menyebut bahwa ini adalah momentum halal-bihalal, kami semua perlu saling memaafkan, juga berpesan agar di antara keluarga kami mesti saling guyub rukun (akrab dan harmonis).


Kemudian Kiai Hattak, berpesan kepada anak-anak yang masih muda dan menuntut ilmu agar bersungguh-sungguh. Ia mengingatkan agar tidak membawa embel-embel keluarga atau status sosial dalam menuntut ilmu. Entah anak siapa pun, katanya, jika bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan memperoleh kemuliaan.


Dilanjutkan Ibu Siti Chaizah, yang berpesan agar yang muda-muda tekun belajar dan bekerja sesuai dengan disiplin dan bidang yang dipilihnya, dan tak lupa untuk berkontribusi kepada agama dan masyarakat dengan caranya masing-masing. Ia mengajak kami untuk mulai berbenah ke arah yang lebih baik, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai saat ini.


Terakhir, Kiai Fadlun berpesan kepada anak-anak yang masih belajar—khususnya di pesantren—agar senantiasa bersungguh-sungguh dan kuat menghadapi cobaan. Jika tak betah, misalnya, harus dihadapi sebagai sebuah laku tirakat. Bisa jadi, hal itu menjadi berkah futuh, yakni terbukanya ilmu.


Ia juga mengingatkan pesan Mbah Manab (KH Abdul Karim) Pendiri Pesantren Lirboyo, bahwa jika ayah kita makan, kita tak lantas kenyang. Artinya, apa-apa yang diperoleh orang tua tak lantas otomatis menurun kepada anak, tetapi butuh diperjuangkan oleh diri sendiri masing-masing selaku anak.


Lalu pertemuan yang penuh kehangatan itu ditutup dengan doa—agar diberi kesehatan, kelapangan rezeki, menjadi orang shalih-shalihah, dan seterusnya—oleh Kiai Mahin dan lalu saling bersalaman di antara kami, dan melakukan berfoto bersama. 


Setelah itu, kami bersama-bersama pergi ke makam leluhur dan saudara yang telah mendahului kami—yang jaraknya sekitar 1,5 km. Di sana kami membaca tahlil, melangitkan doa dan bertawasul.


Setelah ziarah, kami sowan kepada sesepuh, Mbah Salamun, yang juga merupakan tokoh NU di desa kami, dan Mbah Gito dan Mbah Tun, salah satu orang yang awal-awal menunaikan haji di desa kami. Selain silaturrahmi, halal bihalal untuk memohon maaf dan saling memaafkan, kami juga meminta berkah doa. Orang-orang tua yang kami datangi terlihat bahagia dikunjungi oleh sanak keluarganya. Mereka menyilakan kami—yang banyak didominasi anak kecil hingga remaja—untuk menikmati hidangan snack yang telah disediakan. Tak lupa, sebagaimana tradisi orang desa, semua tamu disilakan makan, baru diperbolehkan pulang.


Di tengah lalu-lalang bersilaturahmi, kami juga bertemu dengan rombongan keluarga lain yang saling kunjung-mengunjungi. Ketika sampai di rumah, tamu-tamu pun mulai berdatangan untuk bersilaturahmi. 


Mereka—orang-orang saling mengunjungi sanak familinya di hari fitri ini—datang dan pergi dengan jalan kaki, memakai motor, mobil pribadi, hingga naik mobil bak dengan penumpang berjubel di belakang. Dan, saya kira, tradisi semacam ini juga berlaku di berbagai daerah di Nusantara, meski tentu dengan cara yang sedikit berbeda.


Memang, setiap ada kesalahan, setiap orang mestinya segera meminta maaf. Juga, mengunjungi saudara dan tetua tak harus tiap tahun, bila perlu sesering mungkin. Tetapi, di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarga yang berbeda-beda baik profesi, pekerjaan, maupun tempat tinggal, budaya mudik dan silaturrahmi tetaplah relevan.

 

Saling memaafkan, sebuah ajaran Nabi Agung Muhammad saw—yang diperkenalkan pertama kali di Makkah, berjarak kurang lebih 8.000 km dari kampung kami—di Nusantara ini sudah terlembagakan dalam tradisi yang mengiringi Idul Fitri atau Lebaran. Suatu hal yang perlu disyukuri, karena, setidaknya tradisi mudik dan silaturrahmi ini juga mampu merekatkan solidaritas sosial dan distribusi ekonomi dari kota ke desa.


Untuk syahdunya malam takbiran, shalat Id bersama, bersilaturrahmi, dan menikmati hangatnya keluarga, kunjung-mengunjungi saudara, dan melangitkan doa kepada leluhur itulah, barangkali, di antara hal yang mampu menggerakkan hati jutaan manusia Indonesia untuk melaksanakan mudik—berikut dengan hiruk-pikuknya di jalanan—setiap lebaran untuk pulang ke kampung halaman. Dan, tak sedikit cerita orang yang kebetulan belum bisa mudik di saat malam takbiran dan teringat sanak keluarga serta orang-orang tercinta, lalu berderai air matanya.


Ahmad Naufa, jurnalis NU Online, warga Desa Jangkrikan, Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah