Di Tengah Bencana, Tradisi Literasi Nahdliyin Aceh Tetap Menyala lewat Buku Aceh 2026: Menyemai Damai Menuai Sejahtera
NU Online · Sabtu, 3 Januari 2026 | 17:00 WIB
Buku Aceh 2026: Menyemai Damai Menuai Sejahtera ditulis para penulis dan akademisi Aceh (Foto: istimewa)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Pergantian tahun di Aceh tepatnya Banda Aceh tidak ditandai dengan perayaan seremonial, melainkan dengan peluncuran buku dan diskusi literasi. Peluncuran buku Aceh 2026: Menyamai Damai Menuai Sejahtera yang digelar di Bandar Publishing, Lamgugob, Banda Aceh, menjadi bukti bahwa literasi memiliki daya tahan luar biasa.
Buku Aceh 2026: Menyemai Damai Menuai Sejahtera ditulis oleh sejumlah guru besar, pengajar, dan elemen intelektual dari berbagai latar belakang: kampus, dayah, serta kalangan Nahdliyin.
Beragam perspektif disatukan untuk membaca Aceh secara utuh—dari sisi sosial, keagamaan, pendidikan, hingga kemanusiaan—dengan satu benang merah: damai sebagai fondasi dan sejahtera sebagai tujuan.
Sejumlah profesor dari berbagai perguruan tinggi di Aceh turut berkontribusi dalam buku ini, termasuk guru besar yang tergabung dalam keluarga besar Bandar Publishing. Namun, karena Aceh masih berada dalam suasana musibah, tidak semua penulis dapat hadir secara langsung.
Sebagian mengikuti acara melalui siaran daring YouTube Bandar Publishing, menjadikan ruang virtual sebagai jembatan agar tradisi literasi tetap berlanjut tanpa mengabaikan empati kemanusiaan.
Diskusi dan peluncuran buku dipandu oleh Muhadzdzier M Salda, Ketua LPBINU Aceh sekaligus aktibis GP Ansor Aceh. Muhadzdzier tidak hanya mengatur alur diskusi, tetapi juga merawat suasana agar tetap khidmat, reflektif, dan bernas. Ia pun harus menghubungkan pemikiran para penulis yang hadir langsung dengan mereka yang mengikuti secara daring.
Bagi Muhadzdzier, tugas tersebut bukan sekadar teknis, melainkan bentuk pengabdian terhadap tradisi literasi Nahdliyin yang telah dirawat bertahun-tahun. “Tradisi ini bukan milik satu kelompok. Ini adalah ikhtiar kolektif. Maka mengawalnya dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari khidmah,” ujarnya di sela-sela acara.
Tgk Masrur kepada NU Online, Kamis (1/1/2026) menegaskan bahwa literasi harus terus dibumikan agar tidak berhenti di ruang akademik semata.
"Kondisi Aceh sedang duka,inj tak menyurut semangat dunia literasi, membumikan literasi itu sangat penting. Buku dan gagasan tidak boleh hanya berputar di kalangan elite, tetapi harus sampai ke masyarakat. Dari sanalah kesadaran sosial dan keberpihakan lahir,” ungkapnya.
Menurutnya, peluncuran buku di setiap pergantian tahun adalah contoh konkret bagaimana literasi dijadikan tradisi, bukan sekadar proyek sesaat. Tradisi inilah yang membuat Nahdliyin Aceh tetap relevan dalam merespons zaman.
Pria yang akrab disapa Gus Masrur mengatakan ada 15 tulisan dengan sejumlah dosen dan guru besar dari berbagai kampus termasuk penulis tersebut didominasi penulis dari tokoh nuda Nahdliyin dari berbagai daerah.
"Di antaranya kalangan Nahdliyin Aceh yang turut memberikan andil dalam penulisan buku tersebut yaitu Tgk. Iswadi (Pengurus PCNU Bireuen), Tgk. Muhammad Iqbal,.Tgk Mahmudi (Nahdliyin Bireuen)), Tgk. Masrur ( mantan Ketua GP Ansor Pidie Jaya dan mantan Sekretaris PW GP Ansor Aceh) dan Tgk Helmi Mantan Ketua Ansor Pidie Jaya," paparnya.
Direktur Bandar Publishing, Tgk. Mukhlisuddin Ilyas, menyampaikan bahwa kehadiran para penulis dan masyarakat dalam acara tersebut memiliki makna yang sangat spesial.
“Ini bukan acara politik. Ini adalah tradisi literasi. Kita melihat tahun baru melalui dunia pemikiran, melalui berbagai perspektif yang lahir dari kampus, dayah, dan masyarakat,” ujarnya.
Tgk Mukhlisuddin menilai bahwa literasi adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesabaran dan konsistensi. Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan kegiatan seperti ini dapat digelar dengan lebih baik dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Peluncuran buku Aceh 2026: Menyemai Damai Menuai Sejahtera menjadi penanda bahwa di tengah musibah, Aceh tidak kehilangan arah. Kata-kata, gagasan, dan dedikasi para penulis serta penggerak literasi menjadi suluh kecil yang menerangi perjalanan panjang daerah ini.
Tradisi yang dimulai sejak 2019 itu kini memasuki tahun 2026 dengan harapan baru yakni agar literasi tetap menjadi jalan damai, dan dari damai itu Aceh mampu menuai sejahtera.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua