Jember, NU Online
Salah satu fungsi puasa Ramadhan adalah mendidik manusia untuk menjadi orang yang amanah. Sebab, puasa melatih orang untuk jujur, tidak bohong meskipun tidak ada orang yang tahu.
Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Hobri Ali Wafa saat menjadi khotib shalat Idul Fitri di Masjid Jamik Darul Muttaqin, Tanggul, Jember, Rabu (5/6).
Menurut Ustadz Hobri, dengan berpuasa, seseorang akan terdidik untuk bersifat amanah, karena dalam berpuasa ia sudah melatih dirinya agar amanah memelihara puasanya dari segala hal yang membatalkannya, meski pun orang lain tidak melihatnya.
āDi situlah unsur pengasahan orang yang berpuasa untuk menjadi amanah. Orang yang berpuasa otomatis ia wajib menjadi orang yang jujur, minimal kepada dirinya sendiri. Sebab puasa itu ibadah ārahasiaā. Yang tahu apakah dia berpuasa atau tidak, hanya dia dan Allah,ā ujarnya.
Dia menambahkan, dewasa iniĀ orang yang amanah merupakanĀ ābarangā langka. Banyaknya kasus kejahatan, korupsi, bahkan ketegangan politik yang terjadi belakanganĀ ini, salah satu penyebabnya adalah Indonesia krisis orang amanah. Oleh karena itu,Ā ia mengajak masyarakat agar Idul Fitri ini dijadikan momentum untuk āmengingatkanā hati agar selalu jujur dan bisa dipercaya.
āInti amanah itu kan jujur, dan bisa dipercaya jika diserahi tugas atau pekerjaan. Puasa telah melatih kita untuk selalu jujur, sehingga kita tinggal melanjutkan kejujuran itu di luar bulan Ramadhan,ā urainya.
Di bagian lain, Ketua Progam Pascasarjana Universitas Jember menekankan pentingnya manusia menjaga fitrah setelah lebaran dan seterusnya. Dikatakan Ustadz Hobri,Ā fitrah (kesucian) merupakanĀ gabungan tiga unsur : benar, baik dan indah. Sehingga, seseorang yang ber-Idul Fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar dan baik. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif, ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah.
āMencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika, mencari yang benar menghasilkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut dan kalaupun itu tidak ditemukannya ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan,ā ulasnya. (Aryudi AR).
Terpopuler
1
Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru
2
Pleno PP Fatayat NU Tetapkan Dewi Winarti sebagai Plt Ketua Umum
3
Korban Meninggal di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 1.368 Orang
4
Muktamar NU 2026: Antara Idealisme dan Pragmatisme PolitikĀ
5
Iran Izinkan 15 Kapal Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Pertamina?
6
Kepala Intelijen Pasukan Garda Revolusi Iran Majid Khademi Gugur
Terkini
Lihat Semua