Kenapa Sebagian Pesantren Menolak Bantuan Pemerintah?
NU Online · Kamis, 21 Oktober 2021 | 03:45 WIB
Kedua, pesantren yang dipimpin oleh kiai yang karena kezuhudannya tidak mau menerima dana dari pihak luar, termasuk dana dari pemerintah.
Alhafiz Kurniawan
Penulis
Depok, NU Online
Sejumlah motif melatarbelakangi sikap pesantren terhadap bantuan dana dari pemerintah. Sebagian menolak untuk menjaga independensi pesantren. Sebagian lagi menolak karena faktor kezuhudan pengasuhnya. Penolakan juga dapat terjadi karena ketidaksiapan dalam pembuatan pelaporan.
Pengasuh Pondok Pesantren Fashihuddin, Sawangan, Kota Depok KH Asnawi Ridwan, mengatakan, ada sejumlah pihak yang menolak dana abadi dari pemerintah untuk pesantren.
Sebagian mereka mengatakan bahwa dana tersebut syubhat dan dapat membahayakan eksistensi pesantren. Oleh karenanya pesantren tidak boleh menerimanya.
Untuk menjawab ini, Kiai Asnawi mengatakan bahwa dana pemerintah berasal dari berbagai sumber, di antaranya pendapatan pajak negara yang berpangkal pada tata niaga, yaitu perniagaan batu bara, kekayaan alam, dan lain sebagainya.
Di dalam Islam, lanjut Kiai Asnawi, pajak sebagai salah satu sumber pendapatan negara diperbolehkan dan tidak dianggap sebagai syubhat sebagaimana dijelaskan di sejumlah kitab fiqih, bahkan disebutkan juga di dalam al-Qur`an.
“Jadi, pesan saya, kepada seluruh pesantren se-Indonesia, untuk tidak ragu menerima aliran dana abadi pesantren karena dana abadi pesantren itu hukumnya halâlan thayyiban, halal dan baik,” tegas Kiai Asnawi dalam seminar nasional yang bertajuk “Santri Bicara 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin”.
Dosen UNUSIA KH Zainul Maarif juga merespons pihak-pihak yang menolak dana abadi pesantren. Ia menyebut dua kelompok.
Pertama, pesantren yang anti-pemerintah yang secara umum direpresentasikan oleh pesantren-pesantren beraliran Islam radikal.
Kedua, pesantren yang dipimpin oleh kiai yang karena kezuhudannya tidak mau menerima dana dari pihak luar, termasuk dana dari pemerintah.
“Saya kira ada dua kelompok yang menolak menerima dana dari pemerintah, yaitu kelompok anti-pemerintah, mereka membenci pemerintah sehingga tidak mau menerima dana dari pemerintah. Biasanya mereka berasal dari kelempok Islam yang agak keras. Kemudian juga pesantren yang dipimpin oleh seorang kiai yang sangat zuhud dan tidak mau mendapatkan bantuan dari pemerintah. Ada juga pesantren yang seperti ini,” kata Kiai Zainul Maarif yang juga pengajar di Pondok Pesantren Ciganjur.
Forum ini dimoderatori oleh Kiai Saepullah di Pondok Pesantren Fashihuddin, Sawangan, Kota Depok, Rabu, (20/10). Forum ini diikuti oleh sekurangnya 30 orang. Forum ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LBM PWNU) DKI Jakarta, Pesantren Fashihuddin Depok, Paguyuban Santri Nusantara (PSN), dan Aliansi Ibu Nyai Nusantara (Ainun).
Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
2
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
3
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
4
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua