Buleleng, NU Online
Dari sisi kerukunan antar umat beragama, Indonesia betul-betul patut diapresiasi. Hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri selalu memunculkan cerita manis tentang kerukunan hidup antar umat beragama, toleransi, dan kebersamaan. Seperti yang terjadi di Desa Pegayaman Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.
Di desa yang penduduknya mayoritas beragama Islam itu, terdapat satu tradisi yang disebut Ngejot. Ngejot adalah tradisi mengantarkan makanan kepada tetangga menjelang Idul Fitri aau pas Idul Fitri.
“Warga Pegayaman tetap ngejot, membagikan makanan kepada tetangga yang non muslim. Begitu pula sebaliknya, nanti di hari-hari besar Hindu, mereka juga mengantarkan makanan ke kita,” tukas tokoh pemuda NU Pegayaman, Ketut Muhammad Qosim sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Kamis (6/6).
Bendahara Pengurus Cabang (PC) Pergunu Buleleng tersebut menambahkan, sebenarnya tradisi ngejot dilakukan oleh secara umum di Bali di hari lebaran dan hari besar keagamaan Hindu. Hal tersebut tentu sangat kondusif bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama.
“Terus terang walaupum kami di sini minoritas, tapi tidak ada masalah. Kami merasa bukan minoritas karena kami bersaudara dengan non Muslim,” ucapnya.
Bagi Qosim, dengan pemeluk agama apapun, kerukunan dan persaudraan harus tetap dijalin. Selama tidak menyangkut masalah aqidah, semua bisa dilakukan dalam bingkai kebersamaan antar Muslim dan non Muslim,” jelasnya.
Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 02 Buleleng tersebut menegaskan bahwa NU dengan Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja)-nya, sangat tepat diterapkan di Indonesia. Pluralisme dan toleransi yang diusung NU, memang sangat dibutuhkan Bangsa Indonesia demi terciptanya suasana yang kondusif.
“NU menjunjung tinggi toleransi dan pluralisme. Di manapun kita berada, dengan modal itu, Insyaallah aman, tak soal apakah kita jadi minoritas tau mayoritas,” pungkasnya. (Red: Aryudi AR).
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua